Share

AMBON, LaskarMaluku.com – Guna mematangkan Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah, Politeknik Negeri Ambon (Polnam) menggelar Konsultasi Delphi yang menghadirkan para pakar sebagai narasumber, Jumat (28/6/2024) di ruang rapat Politeknik Negeri Ambon.

Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah adalah program riset yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Program ini merupakan grand design riset pengembangan inovasi di daerah/wilayah dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun mengacu pada potensi dan keunggulan, serta agenda prioritas pembangunan daerah,”kata Direktur Politek Negeri Ambon, Dady Mairuhu dalam sambutannya saat membuka konsultsi pakar tersebut.

Menurutnya, program ini merupakan grand design riset pengembangan inovasi di daerah/wilayah dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun mengacu pada potensi dan keunggulan, serta agenda prioritas pembangunan daerah.

Mairuhu menjelaskan, program ini bertujuan mensinergikan kemitraan dan penyelarasan antara satuan pendidikan vokasi dan pemangku kepentingan di daerah/wilayah untuk menghasilkan policy brief, yang berisi workforce planning dan innovation planning guna menghasilkan klaster inovasi berbasis potensi/kebutuhan daerah, kemudian menghasilkan inovasi (antara lain berupa model/produk/desain/sistem) yang dibutuhkan bagi pengembangan sektor prioritas daerah yang diselaraskan kebutuhan pengembangan industri di daerah/wilayah sehingga mampu mengintegrasikan pendidikan vokasi dan kebutuhan kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi.

BACA JUGA:  THR ASN Pemprov Maluku Rp 48 miliar Sudah Dibayarkan

“Workforce planning berupa hasil riset yang berisi identifikasi kebutuhan tenaga kerja, jenis keahlian dan program studi vokasi pendukung yang relevan untuk pembangunan daerah; dan innovation planning berupa rencana inovasi berbasis keunggulan daerah yang terintegrasi dengan kebutuhan pengembangan kawasan industri dan/atau agenda pembangunan daerah,” tukasnya.

Untuk mewujudkan program strategis dan target objektif tersebut menurut Mairuhu, maka dibutuhkan proses perencanaan kebijakan masa depan yang holistik dan inovatif dengan menggunakan metodologi sekaligus tools futures studies yang memadai.

Selain itu, terdapat aspek dinamis dan saling keterkaitan antar aspek: sosial, teknologi, ekonomi, ekologi, politik, dan value atau nilai,” katanya.

Mairuhu juga mengatakan, secara empiris tantangan utama dari kemitraan DUDI adalah ketidakselarasan antara pendidikan vokasi dengan agenda ekonomi, potensi SDA dan potensi SDM daerah serta desentralisasi yang belum terlaksana secara optimal menjadi akar masalahnya.

Guna menjawab tantangan ini diperlukan identifikasi secara mendalam mengenai kemitraan dan penyelarasan yang relevan guna mewujudkan penguatan ekosistem kemitraan untuk pengembangan inovasi berbasis potensi daerah.

Mairuhu menambahkan, pelaksanaan Program Penguatan Ekosistem Kemitraan di Provinsi Maluku dilakukan oleh Tim Konsorsium Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Vokasi (PTPPV) yang terdiri dari Politeknik Negeri Ambon dan Politeknik Perikanan Negeri Tual.

Untuk diketahui, sejumlah pakar yang dihadirkan pada konsultasi ini merupakan akademisi, praktisi dan pihak terkait lain yang dianggap memiliki kompetensi.

BACA JUGA:  Pegawai PT. Angkasa Pura Bandara Pattimura Ambon Jalani Tes Narkoba

Mereka adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Prof. Dr. Aholiab Watloly, S.PAK., H.Hum; Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Dr. Paulus Koritelu, S.Sos, M.Si; Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Prof. Dr. Ir. Agustinus Kastanya , M.S. yang membahas tentang dimensi sosial.

General Manager (GM) PT. Telkom Witel Maluku Agus Widhiarsana; Dosen Jurusan Teknik Informatika Politeknik Negeri Ambon/Praktisi Bidang Teknologi Marion S. Dien, S.Kom., M.Cs; dan Charles Gigir Adidlah dari Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, untuk dimensi teknologi.

Guru Besar Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Prof. Dr. Ir. Johanes M. S. Tetelepta, M.Phil; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Dr. Maryam Sangadji, S.E., M.E; dan Charles Gigir Adidlah dari Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, untuk dimensi ekonomi.

Dari dimensi lingkungan, dihadirkan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Prof. Dr. Ir. Agustinus Kastanya, M.S; Guru Besar Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Prof. Dr. Ir. Johanes M. S. Tetelepta, M.Phil; dan Wartawan senior, Sastrawansekaligus penerima Maarif Award 2016 Josep Matheus Rudolf Fofid.

Sementara dari dimensi politik, hadir Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Dr. Paulus Koritelu, S.Sos, M.Si dan pemimpin redaksi  porostimur.com Dino Umahuk.

Ketua Tim Konsorsium Politeknik Negeri Ambon, Leonora Leuhery,S.T,M.T

pada kesempatan itu, Ketua Tim Konsorsium Politeknik Negeri Ambon, Leonora Leuhery,S.T,M.T menjelaskan, kegiatan ini merupakan rentetan kegiatan dalam program penguatan pengembangan ekosistem kemitraan berbasis potensi daerah Maluku.  

BACA JUGA:  Konsolidasi Pemilu, Gubernur Murad Ismail Bertemu Walikota Ambon

“Jadi yang pertama kita sudah lewati ada kickoff menandakan dimuainya kegiatan. Ada diskusi-diskusi dengan pemangku kepentingan yang ada di daerah Maluku, kemudian dilanjutkan dengan FGD horizon scaning yang kami lakukan 3 kali. Pertama kami merasa belum tajam, kami mempertajam juga dengan FGD kedua. Karena FGD kedua hanya kisaran Provinsi Maluku, kami memberikan kesempatan dari 11 kabupaten/kota dalam diskusi itu yang namanya diskusi terpumpun itu kami lakukan secara daring,”jelas Leuhery.

Hasil dari diskusi itu, kami tidak begitu saja mengambil kesimpulan tetapi harus mendapat validasi dari para pakar. “Dan hari ini kami lakukan diskusi para pakar. Nanti kami lanjutkan lagi ketika sudah menemukan dua dimensi, kemudian kita lanjutkan dengan Metode Forsyth sampai akhirnya kita menemukan skenario planingnya sampai dengan road map dan berakhir dengan policy paper yang akan direkomendasikan untuk digunakan oleh Provinsi Maluku,”ungkap Leuhery seraya menambahkan program ini akan rampung di Bapenas pada Bulan Juli 2024. (L02)