AMBON, LaskarMaluku.com – Pihak pengelola air bersih yang berada di Kawasan Gunung Nona Kecamatan Nusaniwe membantah bahwa pihaknya melakukan penyetoran uang ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Ambon.
Salah satu Penanggungjawab Air Bersih, Ferry Sanggur mengatakan, terkait dengan pengelolaan air bersih di kawasan gunung nona tepatnya di kuburan islam 150 kubik dan Vihara 75 kubik. Dimana, ada pernyataan bahwa ada penyetoran uang ke Dinas PUPR tidaklah benar.
“Selama ini dalam pengelolaan belum pernah kita berikan uang ke Dinas PUPR tidak pernah ada. Air ini mulai jalan ditahun 2016, itu saya jalan 8 bulan tanpa tahu mata airnya kalau air mau mengalir saya telepon dulu ke bagian PUPR setelah itu baru telepon ke keluarga Nussy, namun setelah 8 bulan Kadis PUPR menyampaikan bahwa tidak ada uang untuk membayar listrik, sehingga disampaikan ke 37 KK untuk tanggulangi listrik dari situlah kita mulai pungut uang dari masyarakat,” jelas Ferry kepada wartawan di Ambon, Jumat (6/10/2023).
Dijelaskan, pungutan uang sebesar Rp 150 ribu dari masyarakat diperuntukkan untuk melakukan perbaikan pompa, listrik dan ongkos kerja.
“Jadi itu untuk perbaikan pompa, sebab ada pompa-pompa yang mengalami kerusakan dan juga untuk ongkos kerja perbaikan. Dan selama ini dikerjakan oleh staf dari pihak PDAM,”jelasnya.
Sementara Kepala Dinas PUPR Melianus Latuihamalo menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima uang dari masyarakat.
Latuihamalo mengatakan, mengapa ketika sudah berjalan lama baru dipersoalan, tapi tak dipersoalan ketika awal berjalan.
“Kenapa baru dipersoalkan sekarang, tidak persoalkan awal-awal. Dan untuk pembayaran listrik tidak mungkin saya bayar terus, tapi harus ada yang mengakomodirnya, dimana RT mengakomodir untuk menarik retribusi dari masyarakat untuk membayar rekening listrik itu saja sebab 8 bulan awal saya yang bayar bukan Dinas. Namun berjalan waktu harga listrik naik sehingga dibentuk kelompok untuk kelola,”kata kadis menjelaskan.
Sementara itu, pengelola air bersih Leky menyampaikan bahwa ditanggal 21 nanti jika tidak bayar listrik maka akan putus.
“Nanti kita lihat ditanggal 21 Oktober ini kalau tidak bayar maka putus, palingan yang bayar cuma 20 orang itu tidak cukup. Listrik tidak pernah tertunda, dan jika ada uang itu pun untuk lakukan perbaikan-perbaikan,”jelasnya lagi seraya menambahkan, ketika rapat dengan masyarakat tidak ada keluhan sama sekali.
Ia menjelaskan, untuk masalah air sudah tak ada masalah. Namun di Bulan September diisukan bahwa listrik putus, namun keluarga Nussy tidak tahu kemana.
“Maka dari itu, kita segel air dan kita lapor agar keluarga tidak mendapatkan air. Sebab kami telah membayarnya dari Rp. 300 ribu sampai Rp. 600 ribu,” terangnya. (L06)




