LEIHITU,LaskarMaluku.com – Penjabat Bupati Maluku Tengah (Malteng) Mohamad Marasabessy melakukan mediasi perdamaian sekelompok warga Hitu dan warga Wakal, Kecamatan Leihitu, yang bentrok beberapa waktu lalu.

Tindakan Marasabessy ini merupakan ide dan gagasan mendamaikan berbagai pihak itu, sebagai bentuk kepedulian sesama manusia untuk memiliki hak hidup yang aman dan damai; artinya tidak ada seorangpun berhak untuk menghancurkan  hidup seseorang.

Setelah sukses mendamaikan warga Negeri Pelauw dan Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Penjabat (Pj) Bupati Maluku Tengah (Malteng), DR Muhamat Marasabessy, SP, ST, M.Tech, kembali memediasi sekelompok warga Hitu dan warga Wakal, Kecamatan Leihitu, yang bentrok beberapa waktu lalu.

Pertemuan warga Hitu Lama, Hitu Messing, dan Wakal berlangsung di Mushola Polsek Leihitu, Senin (6/2/2023).

Selain, Pj Bupati Malteng, turut hadir Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Pol Arthur Lumongga Simamora, Ketua Umum DPP Hena Hetu, DR Jais Ely, FORKOPINCAM Leihitu, Raja Wakal Ahja Suneth, Raja  Hitumesing, Hj Ali Slamat, Raja  Hitulama, Salahana Pellu, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh pemuda di Hitu dan Wakal.

“Hari ini merupakan hari yang sangat berarti, karena atas ijin Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa ditengah perasaan hati yang mungkin saja masih ada amarah, namun sebagai wujud rasa cinta kita selaku sesama anak-anak adat Jazirah Leihitu dalam ikatan persaudaraan yang kokoh, dalam semangat Ukuhwah Islamiah serta komitmen untuk hidup rukun, aman dan damai, maka kita dapat duduk bersama dalam ikatan persaudaraan itu untuk mendialogkan dan merumuskan konsep ideal mewujudkan perdamaian dengan mengakomodir semua harapan dan keinginan anak-anak negeri Wakal, Hitu dan Hitumesing,”kata Marasabessy dalam sambutannya.

Kadis PUPR Provinsi Maluku ini mengatakan, atas nama pemerintah Kabupaten Maluku Tengah pada kesempatan yang penuh kekeluargaan dan persaudaraan ini, dirinya hendak menyampaikan beberapa hal kepada saudara-saudara para Upulatu, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.

 “Pertama Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika oleh sebagian kelompok masyarakat kami dinilai lambat dalam penangan konflik Wakal, Hitulama dan Hitumesing. Saya perlu tegaskan bahwa masyarakat di Jazirah Leihitu terutama Wakal, Hitulama dan Hitumesing selalu ada dalam hati dan doa kami. Karena itu, pertemuan hari ini adalah jawaban atas doa kita semua yang rindu akan perdamaian,”tandas Marasabessy yang juga Koordinator Balai-Balai Kementerian PUPR di Provinsi Maluku itu.

Kedua, jelas mantan Kepala Balai Sungai Maluku ini mengaku, dirinya secara intensif memantau dan menjalin komunikasi dengan para Raja dan tokoh-tokoh kunci lainnya, terkait usaha-usaha yang dilakukan secara nonformal untuk mendamaikan pihak yang bertikai.

“Saya sangat mengapresiasi semua inisiatif mulia yang telah dilakukan dalam beberapa waktu ini pasca konflik,”ingatnya.

Ketiga, terang mantan pejabat di Kementerian PUPR itu, sebagi bentuk komitmen pemerintah dalam penanganan pertingkaian Wakal, Hitu dan Hitumesing, maka dirinya telah menginstruksikan kepada OPD terkait agar sesegera mungkin melakukan penanganan pasca konflik secara cepat, tepat, terukur dan komprehensif baik terhadap fasilitas pribadi dan fasilitas umum yang rusak termasuk secara khusus merealisasikan biaya santunan kepada warga korban pertikaian.

“Keempat, saya telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan rekan-rekan FORKOPIMDA baik Polresta P.Ambon dan P.Lease serta Dandim 1504 untuk melakukan proses pembinaan dan penegakan hukum yang seadil-adilnya. Berkenan dengan itu, saya juga meminta agar aparat keamanan dapat menjalin komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan para Raja termasuk tokoh Agama serta kelompok akar rumput dengan harapan masyarakat dan umat dapat dikendalikan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian baik material maupun imaterial,”harapnya.

Kelima, lanjut Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pattimura ini, Jazirah Leihitu, memiliki beragam potensi alam dan budaya sejarah yang sangat menjanjikan serta memberikan harapan masa depan bagi generasi ke generasi.

Karena itu, diakuinya jika terus melanggengkan konflik yang tidak pernah habis-habisnya, maka tanpa sadar akan terus memproduksi generasi yang tidak produktif.

“Pertumbuhan Ekonomi di Jazirah akan sangat lambat, pembangunan juga akan sangat lambat, sehingga situasi ini akan berdampak ke berbagai sektor kehidupan. Yang dikwatirkan angka kemiskinan di Jazirah akan meningkat dan angka pengangguran juga akan meningkat. Pendidikan anak-anak menjadi terganggu dan berakibat pada mutu dan kwalitas pendidikan anak-anak kita semakin menurun. Selain itu generasi muda kita terjebak dalam ruang kekerasan, padahal mereka adalah generasi usia produktif yang memiliki harapan masa depan yang cerah dan gemilang,”paparnya.

Keenam, sebut Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Orwil Maluku ini, dirinya belajar banyak dari para tokoh yang dilahirkan dari Jazirah ini, terutama dari negeri Wakal, Hitulama dan Hitumesing. Peran para tokoh ini sangat signifikan dalam mendorong kemajuan pembangunan Maluku.

“Mereka telah meletakan fondasi yang kuat. Tugas kita masyarakat Jazirah Leihitu agar melanjutkan pembangunan diatas fondasi yang kuat itu, tentu dengan syarat utama kita harus bersatu, hidup lain sayang lain, lain lia lain, lain topang lain bukan lain kuku lai,”imbau Marasabessy, sambil meneteskan air mata.

Sebelumnya, Marasabessy juga meneteskan air mata ketika bertatap muka dengan pengungsi Kariu di Negeri Aboru, yang saat ini telah kembali ke daerah asalnya, setelah mengungsi kurang lebih 10 bulan.

Diakui, Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an Provinsi Maluku ini, para tokoh Jazirah Leihitu asal negeri adat Wakal, Hitu dan Hitumesing ini memiliki kapasitas, kompetensi dan jaringan yang kuat.

“Mereka berkarya dan mendedikasikan hidup mereka baik sebagai birokrat, politisi, pengusaha, akademisi, TNI/POLRI dan sektor strategis lainnya. Tokoh-tokoh dari ke tiga negeri adat ini adalah panutan dan inspirasi. Mereka membangun relasi yang baik, harmonis dan produktif. Saya berharap generasi muda kita patut jadikan keteladan dan ketokohan sesepuh Jazirah Leihitu sebagai sumber inspriasi agar generasi kita semakin termotivasi dan tidak lagi menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang hanya berorientasi kekerasan,”harap Marasabessy.

Masyarakat Jazirah Leihitu menurut Marasabessy harus bangga memiliki anak adat yang hari ini memimpin Maluku Negeri Raja-Raja. Sepatutnya kepemimpinan Bapak Gubernur Maluku, Murad Ismail yang terus memberikan tenaga, waktu dan pikirannya untuk membangun Maluku dan khususnya membangun Jazirah Leihitu.

“Harus kita jaga dan dukung penuh melalui relasi hidup yang rukun dan damai antar negeri-negeri adat di Jazirah Leihitu. Kita harus terbuka dalam komunikasi agar kita terhindar dari pertikaian,”ajaknya.

Ketujuh, lanjut Marasabessy akrab disapa Pak Matt, dirinya ingin berpesan agar warga didaerah itu harus menjadi arif dan bijaksana dalam kata dan tindakan. “Kita harus mampu memisahkan mana pertikaian yang sifatnya personal dan tidak harus menjadi pertikaian komunal antar negeri. Jika kita mampu mengendalikan itu semua, maka saya optimis hidup kita antar negeri-negeri adat di Maluku tetap harmonis,”tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Malteng, tambah dia, hanya alat mediasi, selanjutnya semua kembali kehadapan Para Raja, Tokoh Pemuda, Tokoh Adat, dan Tokoh Agama.

“Saudara-saudara yang harus menjadi pilar utamanya. Saya yakin jika kita melakukan semuanya dengan hati yang ihklas dan tulus, maka pertikaian ini segera berakhir dan tidak pernah akan ada lagi pertikaian diantara masyarakat Wakal, Hitulama dan Hitumesing,”ingatnya lagi.

“Semoga pesan-pesan ini dapat diterima dan menjadi masukan bagi para Upulatu dan semua tokoh yang duduk bersama diatas meja makan, meja perdamaian sebagai anak adat Jazirah Leihitu. Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar dan menjawab doa yang kita panjatkan dengan hati yang tulus dan terbuka kepadaNya. Amin,”harapanya.

Usai sambutan Pj Bupati Malteng, para raja dan tokoh masyarakat serta tokoh pemuda Hitulama, Hitumesing, dan Wakal, diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi. Mereka pada intinya menginginkan perdamaian. Namun, mereka berharap ada penegakan hukum bagi pelaku bentrok dan warga yang merusak tanaman warga.

Mereka juga meminta  para korban bentrok dibiayai. Warga juga diminta bermedia sosial dengan baik agar tidak menyebarkan berita bohong atau hoax yang memancing emosi warga.

Menanggapi aspirasi warga, Pj Bupati Malteng, menekankan sesuai arahan Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Isteri Widya Pratiwi Murad, agar upaya perdamaian terus diwujudkan di daerah itu.”Kita harus bangga Pak Gubernur sebagai Upu Nunu Hena Hetu. Beliau sangat luar biasa bangun Maluku. Salam dari Pak Gubernur dan ibu agar kita terus hidup damai dan berdampingan satu sama yang lain,”bebernya.

Dia mengaku, sudah melihat dari dekat sejumlah infrastruktur termasuk Mesjid dan Mushola yang akan dibangun.”Jadi ini memang persoalan kita di Malteng terkait tapal batas.  Ini tugas berat. Ini kejadian terjadi karena anak muda kita belum kerja. Orang tua tidak biaya anak kuliah dengan baik. Kita tidak saling menyalahkan. Mari kita sama-sama membantu. Saya yakin persoalan ini dapat  diselesaikan dengan baik,”harapanya.

Marasabessy juga mengapresiasi, keinginan kuat dari para raja, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda yang menginginkan perdamaian.”Saya sangat memberikan apresiasi yang tinggi karena upaya rekonsiliasi terus dibangun. Saya terus bangun koordinasi dengan Pak Kapolresta, Pak Dandim, Pak Kapolsek dan para raja dan tokoh yang lain agar pertikaian dihentikan dan segera berdamai,”terangnya.

Soal penebangan tanaman dengan sengaja atau tidak, dia berharap, agar didata kemudian disampaikan agar mendapat ganti rugi sebagaimana penyelesaian konflik Kariu dan Pelauw.”Begitu juga infrastruktur pribadi dan umum yang rusak agar didata untuk disampaikan ke pusat untuk mendapat ganti rugi atau perbaikan.  Kita juga akan sampaikan ke pemerintah pusat,”jelasnya.

Terkait bantu pembiayaan, korban bentrok dia mengaku, pihaknya terus bangun koordinasi agar para korban bentrok ditangani dengan baik.”Kami siap membantu pengobatan. Koordinasi terus dibangun. Jadi memang kami tidak tinggal diam,”ingatnya.

Kapolresta Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Pol Arthur Lumongga Simamora menegaskan, pihaknya on the track terus mengusut pelaku bentrok di tiga negeri bertetangga itu.

“Soal masalah penanganan kasus kami on the track. Apalagi SP3. Ini proses lama. Masalah bantuan kami komunikasikan. Kami apresiasi Pj Bupati Malteng. Setiap langkah yang dilakukan selalu cepat. Baru 4 bulan memimpin Malteng, kami merasakan nuansa kerjasama yang cepat,”bebernya.

Untuk itu, dia berharap, jika dari Hitulama, Hitumesing, dan Wakal mengetahui pelaku bentrok, segera melaporkan dan menyerahkan pelaku ke pihaknya.

“Jadi tidak semua proses perkara selesaikan dipengadilan. Kalau ada perdamaian bisa dilakukan. Pasti ada wujud penyidikanya. Tolong disampaikan kepada pemuda merasa pelaku kita proses. Kita proses, tapi tidak menutup perdamaian, kita buka ruang. Ini yang harus dipahami. Kalau  serahkan pelakunya, tapi ada  damai, bisa kita restorative justice atau penyelesaian konflik hukum dengan mediasi.  Upulatu sampaikan orangnya dimana. Saya bilang cari dan ketemu. Kalau ada yang mengetahui siapa pelaku serahkan. Jangan kita bangga bersembunyi di kerumunan,”ingatnya.

Kapolresra juga berharap, warga bermedsos dengan baik. Dia mencontohkan, bentrok di Kota Tual, karena warga menyebabkan berita bohong atau hoax di media sosial.”Mari kita sepakat tidak saling sendiri di media sosial,”ajaknya.

Usai pertemuan, Pemerintah Kabupaten Malteng dan Kementerian Sosial menyantuni korban bentrok. Korban luka berat mendapat santunan sebanyak Rp 15 juta. Sementara korban meninggal mendapat santunan senilai Rp 25 juta. Santunan diserahkan langsung Pj Bupati Malteng. (L05)