Oleh : Yoserisel Dirwot Wokanubun, SS., M.H, – Sekretaris Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Provinsi Maluku

            Pada tahun 2004, Pemerintah Kota Ambon di bawah kepemimpinan Drs. M.J. Papilaja, MS menginisiasi diterbitkan buku dengan judul “Ambonku”. Salah satu alasan diterbitkan buku ini adalah Pemerintah Kota Ambon menghendaki bahwa orang Ambon tidak boleh kehilangan jati diri dari perkembangan yang ada.

LaskarMaluku

“Pemerintah Kota tidak ingin kota ini maju dan modern tetapi warganya kehilangan jati diri.” Salah satu upaya yang dilakukan adalah penelusuran Sejarah tentang Kota Ambon dalam perjalanan waktu oleh Para Penulis yang kemudian menjadi muatan dari buku dengan judul “Ambonku” Sekalipun dalam buku itu sendiri terdapat perbedaan informasi yang disajikan (Mungkin karena kerja Tim atau kesalahan teknis) terutama terkait tahun berdirinya Benteng Nossa Senhora Da Anuciada, namun upaya untuk menelusuri Sejarah supaya diwariskan bagi generasi penerus pewaris Kota Ambon pantas untuk diapresiasi.

Dengan mengetahui Sejarah, Kita akan menyatukan diri dengan masa lalu dan masa sekarang untuk menentukan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. Atas semangat itulah kami mencoba mengulas sedikit tentang Misi Katolik Era Portugis Di Pulau Ambon.

Keberadaan Portugis di Nusantara yang kemudian disusul penjajahan asing lain yang diwarnai dengan peperangan tidak terlepas dari pencarian dan perebutan wilayah Maluku sebagai Gudang rempah- rempah Asia Tenggara yang tersohor, memiliki nilai ekonomi yang tinggi pada pasar Eropa.

Bangsa Portugis yang kurang lebih 500 tahun dijajah oleh oleh Bangsa Moor dan Merdeka pada pertengahan abad ke-13 ini mencoba bangkit untuk membangun bangsanya dengan mencoba juga untuk memperdagangkan komuditi cengke dll.[1] Selain Portugis, Spanyol yang juga melakukan hal yang sama sehingga dapat memicu konflik di antara dua wilayah yang adalah beragama Katolik ini.

Maka Paus Aleksander VI yang pada konteks abad pertengahan gereja memiliki hak potersitas direkta, yaitu hak atas wilayah- wilayah yang ditempati oleh bangsa kafir, bangsa non Kristen maka membagikan bumi ini menjadi dua bagian, yaitu sebelah timur untuk Portugis dan sebelah barat untuk  Spanyol.

Pembagian ini dimuat dalam dekrit yang berjudul inter caetera 1493 yang kemudian ditindaklanjuti oleh Portugis dan Spanyol dalam perjanjian Tordesillas tahun 1494.[2] Pada tahun 1498 melalui armada yang dipimpin oleh Vasco Da Gama Portugis menemukan jalur yang aman, yaitu melalui Afrika Selatan untuk sampai di India sebagai pemasok cengkeh dll. Pada tahun 1510, Portugis menaklukan Goa di Pantai barat India.

Di Goa, Portugis menemukan bahwa rempah-rempah yang selama ini masuk pasar Eropa melalui para pendagang India, Cina dan Arab ini didatangkan dari Malaka. Pada tahun 1511 dengan kekuatan armada yang dimilikinya maka Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquarque menaklukan Malaka. Saat di Malaka, Portugis menyadari bahwa Malaka bukanlah gudangnya tetapi ini hanya jalan menuju gudangnya, yaitu Maluku sebagai pusat Gudang rempah-rempah dari Kawasan Asia Tenggara.

Portugis dibawah pimpinan Antonio de Abreu atas instruksi Alfonso Albuquerque kemudian menuju Maluku. Saat perjalanan pulang kapal yang dinakodai oleh Francisco Serraoh terkandas di Perairan antara Banda dan Seram. Francisco Serrao bersama seisi kapalnya kemudian dibantu oleh Masyarakat Hitu. Ketangkasan Orang Portugis dalam membantu orang-orang Hitu dalam melawan penyerangan musuh yang datang dari Seram membuat Sultan Ternate Abu Lais tertarik untuk menghadirkan mereka untuk memperkuat kesultanan Ternate. Tahun 1513, Portugis sudah membangun benteng Santo Lukas di Ternate.

Portugis sebagai bangsa yang beragama Katolik maka dalam kapal yang mereka nakodai kerap ada imam. Ini bagian dari komitmen antara Portugis dan Spanyol dengan pihak kepausan yang kita kenal dangan istilah patranatio atau patrobatio, yaitu mereka berkewajiban untuk mendukung, melindungi dan memajukan misi di wilayah rintisan mereka.

Di kemudian hari Gereja menyadari bahwa tindakan ini mendatangkan pelbagai dampak  negetif sehingga karya misi tidak lagi menumpang pada penjajahan tetapi dibentuk kongregasi sendiri, yaitu Congregatio de propaganda Fidei oleh Pasus Gregorius XV pada tahun 1622.

Misi Katolik Di Maluku

Penaklukan wilayah Goa di India tahun 1510 oleh Portugis kemudian dijadikan wilayah itu menjadi tempat bertaktanya Raja muda Portugis. Pada tahun 1533 berdirinya keuskupan Goa. dan tahun 1533 Imam sudah mulai ditugas dan ditempatkan secara resmi di Benteng Sao Pauloh yang ada di Ternate.

Imam pertama yang dikirim ke sana adalah Fernando Lopes, menyusul Simon Fas dll. Tahun 1534, melalui seorang saudagar Portugis yang berada di wilayah Moro, Gonsalo Veloso menghantar Pemimpin suku mamuya ke benteng Paulo untuk dibaptis. Mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan misi yang mulai tumbuh di Mamuya maka Pastor Simon Vas ikut menetap mendampingi orang-orang Mamuya di Moro, Halmahera Utara yang baru tumbuh iman itu. Pada tahun 1535, Pastor Simon Vas dibunuh sebagai martir pertama dan orang-orang Katolik dari Mamuya juga menjadi korban penganiayaan.

Tragedi itu terjadi karena ketidaksetujuan wilayah sekitar atas sikap orang Mamuya yang menjadi Katolik. Tentunya bukan karena hanya persoalan agama tetapi juga persoalan ekonomi politik mengingat Moro ketika itu ada Gudang Makanan bagi wilayah-wilayah sekitar.

Situasi penganiayaan terhadap Orang- orang Katolik di Moro ini terus berlanjut hingga kedatangan Santo Fransiskus Xaverius di Moro pada bulan September- Desember 1546.

Misi Katolik Di Pulau Ambon

Pra Kedatangan Santo Fransiskus Xaverius

Pada tahun 1538, Agama Katolik sudah merambat masuk pada penduduk lokal yang berada di pulau Ambon. Di situ ada seorang Imam yang menetap di pulau Ambon untuk melayani umat Katolik yang di pulau Ambon sekaligus terus menambahkan jumlah dengan membaptis orang-orang yang masih berpegang pada agama tradisional.

Imam ini kemudian meninggal dan umat dalam waktu cukup hidup tanpa Imam hingga kedatangan Santo Fransiskus Xaverius yang mendarat di Hative.

Siapakah Imam yang menetap di Ambon ketika itu, tidak diketahui dengan pasti tetapi kedatang Armada yang dipimpin oleh Antonio Debrito di Ambon tahun 1522 dan tahun 1522 mendirikan Benteng Sao Paulo di Ternate (untuk membantu kesultanan Ternate dalam berhadapan dengan kesultanan Tidore yang sejak tahun 1521 sudah membangun kekuatan bersama Spanyol) terdapat beberapa Imam Fransiskan.

Keberadaan Imam dan karya misinya itu nampak dari surat yang ditulis oleh Santo Fransiskus ketika berada di Hative-Ambon, tertanggal 10 Mei 1546, bahwa ketika Ia tiba di pulau Ambon, di dapatinya bahwa ada 7 Kampung yang telah beragama Katolik.

Bersambung…