AMBON, LaskarMaluku.com – Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Seno Ngutra akan memimpin doa bersama dengan para tokoh agama di kompleks Gong Perdamaian Maluku di Kota Ambon.
Proses doa bersama itu terlaksana pada saat perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam yang berlangsung dari tanggal 22 November – 23 November 2025.
Perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam telah menjadi agenda tahunan dari Paroki Santo Yoseph Passo yang telah sukses melaksanakan selama dua kali dan tahun ini merupakan untuk ketiga kalinya di laksanakan.

Panitia mengagendakan, kegiatan doa dengan melibatkan tokoh lintas agama itu, sebagai sebuah penanda dan atau peringatan akan pentingnya sebuah perdamaian hakiki bagi masyarakat Maluku dan pesan perdamaian untuk dunia.
Apalagi berdirinya monumen “GONG PERDAMAIAN” yang terletak di Taman Pelita, atau tepatnya di pusat keramaian kota Ambon itu, didirikan dan diresmikan pada 25 November 2009 silam.
Makna Gong ini menjadi simbol perdamaian, persatuan, dan pengingat sejarah, sekaligus sebagai kontribusi Indonesia untuk perdamaian dunia.
Ketua Seksi Acara Perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam RD Angky Kanunmas mengatakan, proses doa bersama itu sebagai bagian wujud khusus mendoakan Kota Ambon khususnya dan Maluku umumnya agar berada dalam kondisi aman dan damai. Dengan harapan tercipta persaudaraan yang harmonis ditengah masyarakat kita.
“Kita turut mendoakan Kota Ambon dan Maluku secara umum, jadi kita merajut bersama untuk mendoakan kota Ambon dan Maluku umumnya dan semua lapisan masyarakat untuk tujuan agar supaya tercipta perdamaian karena ini skala rohani, maka wujud doa khusus adalah persatuan, persaudaraan dan rasa toleransi tercipta dan tanah Maluku ini senantiasa diberkati oleh “Kristus Raja Semesta Alam”. Dan ini menjadi harapan bagi kita semua,” jelas RD Angky Kanunmas dalam konfrensi pers di Pastoran Paroki Santo Yoseph Passo, Senin (17/11/25).
Doa di Gong Perdamaian itu, akan dipimpin oleh Mgr Seno Ngutra dan ikut di hadiri oleh para tokoh agama, gubernur dan Walikota Ambon. Termasuk melibatkan pihak panitia dan semua peserta perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam.
Pastor Paroki Santo Yoseph RD Lucky Kelwulan berpandangan, Perarakan terhadap Arca Kristus Raja Semesta Alam bukanlah suatu teori belaka, tetapi berdasarkan fakta bahwa proses pertama dan kedua dari kegiatan ini, tidak ada suara sumbang dan atau miring yang mencelah kegiatan wisata rohani ini.
“Bahwa kegiatan ini adalah penanda dan wujud kasih kita untuk mendoakan terwujudnya sebuah perdamaian hakiki ditengah masyarakat,”ungkapnya.
“Jadi bukan berteori, tetapi berdasarkan fakta pelaksanaan pertama dan kedua, telah terbukti dan terjadi bahwa dalam proses pelaksanaan kegiatan perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam ini, jujur tidak pernah ada suara sumbang satupun dari agama dan golongan lain, yang menanggapi dalam tanda kutip’ secara negatif, atau ada suara minor dan atau miring yang mengatakan, oh ini tidak, sehingga kami memiliki keyakinan ini lah kekuatan kami, kekuatan kita panitia dan bagi saya ini kekuatan orang Maluku saat ini, kekuatan orang Ambon saat ini, bahwa apapun terjadi, bahwa orang tidak akan lagi memperdayakan kita, membodohi kita, dengan soal agama,” kata Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Amboina ini menegaskan.
Sejak 2023, perarakan arca Kristus Raja melintasi paroki-paroki di Kota Ambon. Arca diarak dari Santo Yosep Passo menuju wilayah-wilayah lain dan disambut umat dari berbagai latar belakang. Tradisi ini diterima dengan hangat oleh jemaat GPM, para pemimpin lintas agama, tokoh adat, serta Pemerintah Kota Ambon.
“Setiap perarakan menghadirkan perjumpaan baru. Banyak saudara di luar Gereja Katolik ikut menyambut dan itu menunjukkan bahwa Ambon makin matang dalam merawat kerukunan,” ujar Pastor Lucky.
Monumen ini didirikan sebagai simbol perdamaian dan pengingat akan konflik komunal yang pernah terjadi di Ambon pada tahun 1999.
Monumen ini diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menjadi simbol perdamaian, persatuan, dan pengingat sejarah, sekaligus sebagai kontribusi Indonesia untuk perdamaian dunia.
Pesta Kristus Raja Semesta Alam merupakan sebuah perayaan besar dalam gereja Katolik untuk memberikan penghormatan bagi Kristus Sang Raja Alam Semesta sebagaimana yang dianjurkan oleh Bapa Suci Paus Pius XI (sebelas) dalam ensikliknya yang berjudul “Quas Primas” (yang pertama-tama) ensiklik ini dipormulasikan pada 11 Desember 1925, di Roma Vatikan.
Melalui ensiklik ini Bapa Suci mengajak umat beriman Katolik untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Kristus Sang Raja Alam Semesta. Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, perayaan ini juga menjadi perayaan puncak untuk menutup tahun liturgi lama sekaligus menyambut tahun liturgi baru (pekan I Adven/Adventus: Kedatangan) sebelum memasuki perayaan Natal (pesta Kelahiran Kristus)
Setiap tahun menjalang perayaan ini umat beriman Parako St Joseph Passo menggelar doa serta devosi-devosi kepada Kristus Sang Raja Alam Semesta dan ini merupakan tahun ketiga proses ini terselenggara.
Untuk diketahui proses perarakan Arca Kristus Raja Alam Semesta akan melintasi 19 titik diantaranya 11 titik di gereja Protestan Maluku dan delapan titik lainnya pada Kevikepan atau Paroki dalam wilayah Keuskupan kota Ambon. (L05)





