AMBON, LaskarMaluku.com – Kerja sama distribusi air bersih antara PT Pelindo 4 Cabang Ambon dan PT Tirta Yapona memasuki tahun kerja kedua sejak dimulai Oktober 2024. Kolaborasi yang difokuskan pada suplai air bersih bagi kapal penumpang di Pelabuhan Ambon itu, dinilai memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak, meski sempat terjadi kendala distribusi akibat persoalan komunikasi operasional pada awal 2026.

General Manager Pelindo 4 Ambon, Sahlan, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut bertepatan dengan momentum peningkatan kinerja Tirta Yapona. Ia mengaku mendapat informasi resmi dalam apel pagi di Kantor Wali Kota Ambon bahwa perusahaan daerah air minum itu untuk pertama kalinya mencatatkan laba dalam periode terakhir.

“Jadi ini masih manual memang sih, sudah bermohon akan kami pasang sistem injeksi otomatis manakala air terisi penuh otomatis dia berhenti sendiri,” kata General Manager Pelindo 4 Ambon, Sahlan.

Memasuki tahun kedua kerja sama, distribusi air ke kapal penumpang sempat terhenti selama satu bulan. Sahlan menilai persoalan tersebut bukan disebabkan oleh kegagalan sistemik, melainkan miskomunikasi antarpetugas operasional di lapangan.

Masalah itu kemudian dibahas dalam rapat bersama Pemerintah Kota Ambon. Hasilnya, kedua pihak menyepakati perlunya standar operasional prosedur (SOP) yang lebih tegas di level teknis tanpa harus selalu melibatkan manajemen tingkat atas.

Pada Kamis, 12 Februari 2026, Pelindo dan Tirta Yapona menyepakati mekanisme distribusi berbasis jadwal kapal guna menghindari risiko luapan air saat pengisian ke tangki kapal. Sistem tersebut diterapkan sementara menunggu pemasangan sensor otomatis pada bak penampungan milik Pelindo.

Sahlan menegaskan, penguatan koordinasi di tingkat supervisor menjadi kunci agar persoalan teknis tidak kembali melebar ke ruang publik.

Menjawab pertanyaan terkait kapasitas suplai air setiap bulan, Sahlan menegaskan bahwa angka kebutuhan sangat bergantung pada frekuensi kunjungan kapal, jumlah penumpang, serta stok awal air di atas kapal saat sandar di Ambon.

“Jadi bisa 6.500 kubik, gambaran ini bisa bervariasi di antara itu, tergantung kunjungan kapal dan banyaknya jumlah penumpang kapal,” kata General Manager Pelindo 4 Ambon, Sahlan kepada awak media di ruang kerjanya Selasa siang (24/02/26)

Ia memaparkan, berdasarkan data internal, kebutuhan air kapal penumpang berkisar antara 6.500 hingga 11.000 meter kubik per bulan. Angka tertinggi tercatat pada Desember, saat intensitas pelayaran meningkat.

Distribusi tersebut saat ini difokuskan pada kapal penumpang, khususnya kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Sementara kapal barang belum sepenuhnya terlayani akibat kendala instalasi koneksi air di area pelabuhan.

Sahlan menambahkan, dinamika kebutuhan air juga dipengaruhi pola pengisian di pelabuhan asal kapal. Beberapa pelabuhan membatasi suplai demi pemerataan bagi kapal lain, sehingga kapal yang tiba di Ambon kerap meminta pengisian maksimal. Sebaliknya, jika stok air di pelabuhan asal telah penuh, permintaan di Ambon menjadi minimal.

Sebelum kerja sama resmi dengan Tirta Yapona, Pelindo 4 Ambon memanfaatkan sumber air tanah internal. Instalasi sumur yang berada di kawasan pelabuhan bahkan telah digunakan selama kurang lebih 25 tahun dan tetap membayar retribusi air tanah kepada Pemerintah Kota Ambon melalui Dispenda.

Namun, pascakonflik sosial di Ambon pada masa lalu, sebagian instalasi mengalami kerusakan sehingga kapasitas distribusi internal berkurang. Kerja sama dengan Tirta Yapona menjadi solusi untuk menjamin kontinuitas suplai air bersih bagi kapal penumpang.

Konsekuensinya, penggunaan air tanah berkurang seiring peningkatan pembelian air dari Tirta Yapona. Meski demikian, Pelindo tetap memaksimalkan sumber air baku internal jika suplai dari Tirta Yapona mengalami keterbatasan. Untuk kebutuhan utama kapal penumpang, suplai tetap diprioritaskan melalui kerja sama resmi tersebut.

Secara situasional, kerja sama ini tidak hanya berdampak pada kelancaran operasional pelabuhan, tetapi juga berkontribusi terhadap kinerja keuangan Tirta Yapona sebagai BUMD penyedia air bersih. Tahun kedua kerja sama diharapkan mampu meningkatkan volume distribusi sekaligus memperkuat sistem pengendalian teknis melalui digitalisasi sensor otomatis.

Dengan mekanisme berbasis jadwal kapal yang kini diterapkan, risiko gangguan distribusi dinilai lebih terkendali. Jika sistem injeksi otomatis terealisasi, efisiensi operasional dan akurasi suplai diperkirakan meningkat signifikan. (L05)