LANGGUR, LaskarMaluku.com – Ketua DPRD provinsi Maluku, Benhur George Watubun mengingatkan kepada pihak-pihak yang berseteru di kabupaten Maluku Tenggara agar mengedepankan hidup persaudaraan yang sejati.
Ajakan tersebut disampaikan menyusul konflik kekerasan dua kelompok masyarakat yang berasal dari satu Ohoi yakni geng Ohoitom dan geng Danar Ternate. Kondisi demikian patut disesalkan apalagi situasi tersebut, tercipta ditengah masyarakat masih menikmati suasana hari lebaran, orang bersilahturahmi, saling mengunjungi dan suasana mendamaikan, saling memaafkan satu sama lainnya. Semestinya sebagai orang sudara, harus menciptakan persaudaraan sejati.
Ini menegaskan bahwa masyarakat Kei berasal dari keturunan yang sama, sehingga meskipun berbeda keyakinan, mereka tetap satu keluarga. Ini yang harus mendasari kekuatan kita sebagai masyarakat yang berasal dari Kepulauan Kei.
“Karena hidup di Kei itu Falsafahnya Ain Ni Ain dan itu hidup dalam setiap sendi-sendi masyarakat, karena pada akhirnya Hira mehe yanan ubun (kita berasal dari turunan yang sama),” ingat Benhur Watubun, melalui pesan singkatnya kepada Laskar Maluku.com. Sabtu (28/3). Sembari menekankan pada aspek menjunjung tinggi persaudaraan antara adik – kakak dalam pergaulan keseharian kita.
“Dan Vuut ainmehe ni ngifun, Manut ain mehe ni tilur, falsafah di atas itu yang dijunjung oleh semua orang Kei dan terus dilestarikan,” pinta BGW sapaan akronim Benhur George Watubun
Ain Ni Ain adalah falsafah adat masyarakat Kei di Maluku Tenggara yang berarti “Adik-Kakak” atau “Sesama Kita”. Konsep ini menekankan persaudaraan, persatuan, dan toleransi yang kuat, melampaui batas agama (Islam, Protestan, Katolik) untuk menciptakan harmoni sosial serta perdamaian, sering dikaitkan dengan hukum adat Larvul Ngabal.
Ain Ni Ain harus menjadi modal utama kesadaran mendalam bahwa kita semua adalah satu, yang menjadi pondasi kokoh bagi masyarakat Kei dalam merawat perdamaian dan kerukunan. Namun demikian, tatanan ini tak mengakar pada generasi mudah padahal falsafah hidup semestinya dia menjadi pegangan kuat masyarakat Kei.
Sebelumnya Ketua DPRD provinsi Maluku Benhur George Watubun mengajak masyarakat menjadikan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai momen memperkokoh persatuan, sekaligus menjaga stabilitas dan toleransi di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Hari Raya Idul Fitri memiliki makna yang sangat mendalam, tidak hanya sebagai momen kemenangan spiritual bagi umat Muslim setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh dibulan Ramadhan.
Benhur mengatakan, perayaan idul Fitri adalah momen kemenangan maka harus dijadikan sebagai kesempatan berharga bagi seluruh masyarakat Maluku, tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang, untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan yang sudah terjalin sejak lama.
“Kita semua tahu, bahwa Maluku dikenal sebagai tanah air yang penuh dengan keberagaman. Keragaman ini bukanlah hal yang harus menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan utama yang membuat kita kuat dan berbeda dari daerah lainnya,” ujar Watubun.
Ia menekankan soal pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban di setiap sudut provinsi, terutama di masa perayaan yang sering diikuti dengan aktivitas silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga serta teman.
Menurut Watubun, semangat saling menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan serta cara hidup harus terus dipelihara dengan sungguh-sungguh, karena hal itu merupakan fondasi utama bagi terbentuknya kehidupan sosial yang harmonis dan sejahtera. Namun pesan moral yang penuh mendalam itu, sirna dan berlalu begitu saja ketika, suasana yang kurang mengejukan tercipta diantara dua kelompok massa. Peristiwa yang hanya muncul lantaran kesalahpahaman itu mengakibatkan seseorang tewas dan beberapa orang lainnya mengalami luka dan puluhan rumah dibakar massa.
Kapolres Maluku Tenggara AKBP RIAN SUHENDI memimpin personil gabungan guna meredam konflik horisontal langsung. Sebanyak 50 Personil Gabungan Polres Malra, 22 personil BKO Polres Tual, 20 Personil Brimob dan 30 Personil TNI yg di kerahkan untuk mengamankan lokasi bentrokan.
Hingga berita ini dipublikasikan kondisi keamanan setempat telah dikendalikan.
Ketua DPRD provinsi Maluku dan Kapolres menghimbau kepada masyarakat setempat agar tidak terprovokasi dengan isu – isu yg tidak bertanggung jawab dan mempercayakan Penanganan masalah kepada pihak kepolisian. Hingga saat ini situasi pad alokasi bentrokan dapat di kendalikan dan berangsur kondusif
Bentrokan yang terjadi antara Warga Danar Ohoitom dan Warga Danar Ternate kec. Kei Kecil Timur Selatan Kab. Maluku tenggara pada hari Kamis 26 Maret 2026 pkl 23.30 WIT, berawal dari salah paham antar kedua kelompok warga dan berujung saling serang dengan menggunakan senjata tajam ( Panah – panah wayar, parang dan Tombak )serta terjadinya aksi pengrusakan dan pembakaran beberapa rumah warga. Dalam kejadian tersebut Wakapolres Malra KOMPOL JUFRI DJAWA dan Kasat Reskrim AKP BARRY TALABESSY ikut menjadi korban lantaran terkena anak panah termasuk 3 warga setempat. (L05)
