AMBON LaskarMaluku.com, — Para elit Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung berdiskusi dan bersinergi bersama pada acara buka puasa bersama di Cafe JMP, Teluk Ambon, Kamis (12/3/2026)

Para senior dan kader organisasi kepemudaan menyatu setelah terjadi perbedaan pandangan dikalangan para adik-adik mahasiswa yang belum lama ini menimbulkan stigma perpecahan, menyusul aksi demonstrasi menuntut sebuah keadilan disertai pembakaran fasilitas kampus pada Selasa (3/3/26).

Perilaku destruktif ini, dinilai telah menghancurkan etika dikalangan terdidik.

Meski begitu, para senioritas OKP Cipayung yang terdiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini, duduk bersama untuk menyatukan persepsi bahwa kehadiran senioritas pada buka puasa bersama itu, guna mencairkan suasana kebatinan. 

“Pertemuan ini bukan sekadar ajang berbuka puasa. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi ruang refleksi dan penguatan relasi antarorganisasi mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai bagian dari aliansi Cipayung, ” kata Ricardo Rikumahu, M.Th, selaku Senior GMKI disela-sela buka puasa bersama ini.

Ia mengemukakan pertemuan ini merupakan kelanjutan dari diskusi yang sebelumnya digelar di kampus Universitas Pattimura. 

Diskusi itu berkaitan dengan sejumlah persoalan yang melibatkan mahasiswa beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, setelah berbagai persoalan ditangani melalui jalur hukum, langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah membangun kembali pendekatan sosial di antara para mahasiswa.

“Karena itu pertemuan seperti ini penting. Kita ingin menata kembali kehidupan bersama adik-adik mahasiswa dengan pendekatan yang lebih sosial dan persuasif,” ujar Ketua PCPS GMKI Ambon itu.

Ia menilai, buka puasa bersama yang digagas PCPS GMKI Ambon tersebut menjadi momentum untuk mempererat kembali hubungan antarkader organisasi Cipayung di Kota Ambon. Relasi yang kuat di antara organisasi mahasiswa, menurutnya, sangat penting untuk menjaga iklim akademik dan sosial yang sehat.

Ricardo juga menyinggung stigma yang kerap dilekatkan pada organisasi mahasiswa. Dalam berbagai dinamika sosial di Kota Ambon, organisasi-organisasi Cipayung sering kali disebut-sebut sebagai pihak yang terlibat dalam konflik.

Padahal organisasi-organisasi tersebut, sejatinya merupakan ruang kaderisasi bagi mahasiswa untuk belajar berpikir kritis, membangun kepemimpinan, serta mengasah kepekaan sosial.

“Pertemuan ini sekaligus menjadi cara kita mematahkan stigma negatif terhadap mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan yang sering tampil di ruang publik,” katanya.

Ia berharap mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Cipayung dapat mengedepankan etika dan intelektualitas saat menyampaikan aspirasi. Demonstrasi dan kritik terhadap berbagai persoalan kampus maupun masyarakat, hendaknya mengedepankan nurani dan etika yang mencerminkan kepribadian mahasiswa yang humanis.

Ia menekankan, hendaknya para adik-adik mahasiswa memiliki kekuatan intelektual yang tidak dimiliki semua kalangan. Karena itu, sikap dan tindakan yang muncul di ruang publik harus memperlihatkan kedewasaan berpikir serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Gunakan kapasitas intelektual dan etika yang dimiliki sebagai mahasiswa. Tunjukkan bahwa mahasiswa adalah kelompok yang dinamis, kritis, dan peka terhadap persoalan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Ustad Dr. Manaf Tubaka, S.Ag.,MA mengingatkan bahwa kebersamaan seperti ini adalah ikhtiar sederhana namun bermakna untuk menjaga semangat persatuan. 

Ia menyinggung sejarah kebangsaan ketika berbagai organisasi mahasiswa yang berbeda latar belakang ideologi mampu duduk bersama dalam wadah Kelompok Cipayung.

Meski datang dari pandangan yang tidak selalu sama, mereka memiliki tujuan yang serupa: menjaga persatuan dan menguatkan semangat kebangsaan.

Menurutnya, momen buka puasa bersama mencerminkan semangat tersebut. Di tengah perbedaan organisasi, latar belakang, dan cara pandang, kebersamaan tetap bisa terjalin dalam suasana persaudaraan.

“Buka puasa bersama ini bukan hanya soal makan bersama. Ini simbol bahwa kita bisa tetap bersatu meski berbeda,” ujarnya di hadapan para peserta yang hadir.

Menjelang akhir acara, staf pengajar UIN Ambon itu juga menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga kedamaian di Maluku dan terus merawat harmoni sosial yang selama ini menjadi kekuatan daerah tersebut.

Baginya, masa depan Ambon tidak bisa diserahkan kepada orang lain. Kota ini, kata dia, adalah milik bersama yang harus dijaga dan dibangun oleh warganya sendiri.

“Maluku ini milik kita. Siapa lagi yang akan membangun kota ini kalau bukan kita sendiri,” katanya.

Seruan itu sejalan dengan semangat yang sering digaungkan masyarakat setempat: “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua.” Sebuah pengingat bahwa Ambon berdiri untuk semua, dan semua orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya.

Senior Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ambon, Dr Hanock Mandaku, ST, M.T mempertegas bahwa silahturahmi para OKP Cipayung saat acara buka puasa bersama, berlangsung di momen yang sangat tepat, yakni di bulan suci Ramadan.

“Ini menjadi kesempatan bagi para alumni organisasi mahasiswa untuk kembali duduk bersama setelah lama tidak berjumpa. Keinginan untuk terus merawat silaturahmi itu selalu ada, dan bulan Ramadan menjadi momentum yang sangat strategis untuk menjawab kerinduan itu,” ujarnya.

Hanock menilai, pertemuan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang sedang berkembang di Kota Ambon dan Maluku, khususnya yang melibatkan mahasiswa di tingkat organisasi.

Ia mengingatkan bahwa para senior yang kini berkumpul pernah melewati masa-masa yang tidak mudah ketika aktif sebagai aktivis mahasiswa. Saat itu, Maluku berada dalam situasi yang sangat kelam, namun para mahasiswa dari berbagai organisasi mampu tetap menjaga kebersamaan.

“Kami pernah berada dalam dunia aktivisme di masa ketika Maluku berada dalam situasi yang sangat kelam. Tetapi dalam kondisi itu, kami tetap bersama-sama menjaga Ambon dan Maluku hingga bisa keluar dari masa sulit tersebut,” katanya.

Menurut Hanock, keberhasilan menjaga stabilitas daerah pada masa itu tidak lepas dari kerja sama seluruh komponen masyarakat, termasuk mahasiswa dari organisasi Cipayung seperti HMI, GMKI, GMNI, PMKRI dan PMII.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi pelajaran penting bagi generasi mahasiswa saat ini. Ia berharap semangat kebersamaan yang pernah terbangun pada masa sulit tetap dipelihara oleh kader-kader muda organisasi kemahasiswaan.

Hanock menegaskan bahwa organisasi Cipayung harus tetap berada di garda depan dalam menjaga persatuan masyarakat Maluku. Mahasiswa, menurutnya, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan di tengah masyarakat.

Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk ikut mendukung pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas sosial demi pembangunan yang lebih baik bagi masyarakat Maluku.

“Semangat kebersamaan itu harus tetap terpelihara. OKP Cipayung harus berdiri di garda terdepan menjaga persatuan anak negeri di Maluku, menjaga keamanan dan ketertiban, serta mendukung pemerintah daerah demi pembangunan yang lebih baik,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Hanock menegaskan bahwa membangun dan merawat silaturahmi jauh lebih penting dibandingkan kepentingan-kepentingan pragmatis yang sering muncul dalam dinamika organisasi.

Baginya, hubungan persaudaraan yang kuat antarorganisasi mahasiswa adalah fondasi utama untuk menjaga kedamaian dan masa depan Maluku.

Melalui pertemuan tersebut, para senior berharap solidaritas organisasi Cipayung di Ambon tetap terjaga, sekaligus menjadi contoh bahwa perbedaan latar belakang organisasi tidak menghalangi mahasiswa untuk tetap bersatu menjaga ruang dialog dan persaudaraan.

Senada Sekretaris KAHMI Maluku, Dr. Djufry Pattilouw, M.Si, menegaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum untuk kembali merajut silaturahmi sekaligus menguatkan semangat perjuangan para kader dan alumni organisasi.

Menurutnya, sejak awal kelompok Cipayung berdiri dengan tujuan yang jelas: memperjuangkan kepentingan generasi muda dan masa depan bangsa. Karena itu, hubungan antarorganisasi di dalamnya harus terus dijaga agar tetap solid meski dinamika dan perbedaan pandangan kerap terjadi.

“Dialektika dalam aliansi Cipayung adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan pandangan justru menjadi bagian dari proses berpikir kritis. Namun dinamika itu tidak boleh meruntuhkan nilai solidaritas dan kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan kita,” ujarnya.

Djufry mengakui bahwa dalam perjalanan waktu, hubungan antarorganisasi kadang mengalami pasang surut. Kepentingan yang berbeda sering kali memunculkan ketegangan. Namun menurutnya, hal itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah kebersamaan yang telah dibangun sejak lama.

Ia menilai, justru dalam situasi seperti itulah para kader dituntut untuk tetap rasional, kritis, dan terbuka dalam berdialog. Dengan begitu, setiap dinamika dapat melahirkan keputusan yang diterima bersama tanpa merusak hubungan persaudaraan.

Momentum Ramadan, kata dia, menjadi waktu yang tepat untuk meredakan sekat-sekat yang mungkin muncul akibat perbedaan kepentingan. Melalui kebersamaan seperti buka puasa bersama, kepercayaan antar aktivis dapat kembali diperkuat.

“Ramadan memberi ruang bagi kita untuk kembali merajut kebersamaan dan saling percaya. Kehadiran Cipayung harus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Maluku,” katanya.

Djufry juga mengingatkan bahwa kondisi Maluku saat ini membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, organisasi kepemudaan tidak boleh terjebak pada kepentingan sempit yang justru menghambat kemajuan daerah.

“Maluku tidak sedang dalam situasi yang sepenuhnya baik-baik saja. Karena itu perhatian kita harus diarahkan pada kepentingan yang lebih besar, yaitu masa depan daerah ini,” seraya mengajak masyarakat Maluku untuk terus menjalin silaturahmi untuk mewujudkan Maluku yang aman dan damai.

“Selaku anak-anak Maluku, mari kita bersinergi dengan aparat keamanan menjelang hari-hari besar keagamaan, kita ciptakan rasa persaudaraan yang hakiki ciptakan situasi aman dan damai, ” ajak Djufry Pattilouw.

Untuk disimak bersama kelompok Cipayung, yang terdiri dari organisasi kemahasiswaan seperti HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, dan PMII, didirikan pada tanggal 22 Januari 1972. Pertemuan awal yang menandai terbentuknya kelompok ini berlangsung di Cipayung, Bogor, sebagai upaya menyatukan pandangan organisasi kepemudaan di Indonesia. 

Tujuan:

Didirikan sebagai wadah diskusi dan sinergi organisasi mahasiswa nasional di tengah perbedaan ideologi. (L05)