AMBON, LaskarMaluku.com – Minggu tanggal 8 Februari 2026, merupakan hari terakhir Jakarta Art Paper 2026 yang digelar di City Hall Pondok Indah Mall 3, Jakarta.

Para pengunjung pun semakin membludak, berjalan mengitari 28 bilik galeri yang memajang karya seniman Indonesia maupun seniman Asia yang berbasis kertas.

Acara ini menyoroti medium kertas sebagai fokus utama dari gambar, cetak, hingga arsip untuk memperluas apresiasi seni kontemporer.

Saya merupakan salah satu pengunjung yang datang dari Maluku, kawasan Timur Indonesia. Saya pun melangkah dan mengamati hasil karya para seniman dari satu gallery ke gallery yang lain sambil melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang penjaga booth.

Langkah kaki saya pun terhenti ketika melewati Neo Gallery dan memandang beberapa lukisan hasil karya seniman Rudi Pranadjaya – lukisan perempuan telanjang.

Sebagai perempuan yang tidak memiliki jiwa seni, pasti bertanya dalam hati, kok bisa? Namun, pasti ada alasan bagi pelukis Rudi Pranadjaya mengeksplore tubuh wanita tanpa sehelai benangpun dalam perpaduan karya modern classic.

Dan cara pandang seniman terhadap perempuan telanjang dalam seni rupa pun pasti berbeda.

Dari kacamata masyarakat secara umum, melihat lukisan perempuan telanjang umumnya dianggap sebagai tabu atau aib dalam banyak budaya dan agama, khususnya di Indonesia, karena berkaitan dengan batasan aurat, norma kesusilaan, dan potensi membangkitkan syahwat.

Untuk menjawab keingintahuan saya terhadap lukisan tersebut, saya pun mulai berdialog dengan Christian, Marketing Neo Gallery yang bertugas melayani para pengunjung.

“Jadi seniman Rudy Pranadjaya dia menggambarkan sosok perempuan yang telanjang itu bukan karena ingin menunjukan sisi ketelanjangannya saja, tetapi Rudy Pranadjaya menilai telanjang itu adalah bentuk dari sebuah kemurnian alami dari manusia,”ungkapnya.

Pelukis Rudy Pranadjaya, kata Christian berusaha mengangkat derajat perempuan melalui lukisan. “Jadi tidak dilihat dari sisi kecantikannya saja tetapi ada value-value lain yang bisa dinilai,”jelasnya seraya menambahkan, esensinya manusia dilahirkan dalam bentuk telanjang, jadi tidak ada yang namanya aib atau rasa malu, karena yang ingin ditunjukan adalah keindahan tersendiri baik itu secara alami baik yang dibuat seindah mungkin oleh Rudy Pranadjaya.

Saya pun menarik nafas lega setelah mendengar makna dibalik lukisan perempuan telanjang hasil karya Rudy Pranadjaya, pelukis kelahiran Kota Cirebon, 17 November 1948.

Sementara bagi Rendy, salah satu pengunjung asal Jakarta Barat menilai, dari era prasejarah hingga peradaban awal, figur perempuan telanjang sering kali melambangkan kesuburan, kehidupan, dan kebugaran, bukan sekadar objek seksual.

“Secara keseluruhan, bagi seniman, perempuan telanjang adalah subjek yang kompleks dan abadi, yang digunakan untuk mengeksplorasi batas-batas seni, budaya, dan manusia itu sendiri,”kata Rendy sambil melangkah ke gallery berikutnya.

Para pengunjung pastinya mempunyai interpretasi yang berbeda melihat hasil karya Rudy Pranadjaya.

Sebelum meninggalkan Neo Gallery saya berpapasan dengan pasangan paruh baya yang sementara mengamati lukisan perempuan telanjang. Sambil menghampiri pasangan tersebut, kami saling menyapa dan memperkenalkan diri. Ternyata keduanya pasangan suami istri yang sejak masih di bangku sekolah sudah tertarik dengan dunia seni.

Opa Resky namanya, merangkul pundak istrinya sambil mengamati lukisan tersebut dan mengatakan, “Lukisan perempuan telanjang ini adalah representasi keindahan dan estetika. Karena seniman sering melihat tubuh perempuan sebagai objek studi bentuk, garis, dan proporsi yang harmonis. Ketelanjangan digunakan untuk menonjolkan keindahan alami manusia,”kata Opa Resky singkat sambil tersenyum.

Setidaknya Jakarta Art Paper 2026 yang digelar 5-8 Februari 2026 yang menampilkan 28 gallery lokal dan Asia dengan memamerkan gambar, cetak, buku seniman, hingga instalasi kertas, memperkuat posisi kertas sebagai medium seni utama, serta memberikan edukasi dan cara pandang yang positif terutama tentang lukisan perempuan telanjang, sehingga karya-karya seni patut diapresiasi, karena itu merupakan simbol kejujuran, atau keindahan tubuh manusia, kemurnian alami manusia dan bukan sebagai pornografi.  (saswaty)