Oleh : August Johannes Ricolat Ufie (Dosen Program Studi Destinasi Pariwisata Program Sarjana Terapan- Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Ambon
Provinsi Maluku dengan segala daya tarik yang dimiliki tak ayal telah menjadi daerah yang ingin dikunjungi oleh wisatawan dalam waktu dekat. Kondisi geografis dan sejarah yang dimiliki menjadikan Maluku memiliki beragam obyek dan daya tarik wisata, baik wisata alam, budaya, religi, buatan dan musik, yang khas serta tidak ditemukan di tempat lain.
Data kunjungan wisatawan ke Maluku sepanjang tahun 2025 yang dirilis Dinas Pariwisata Provinsi Maluku menunjukkan trend yang positif. Terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik dibandingkan tahun 2024. Pada 2025, jumlah wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 14.225 orang, mengalami peningkatan 1.130 orang dibandingkan tahun 2024; jumlah wisatawan domestik tercatat sebanyak 396.419, mengalami peningkatan 6.674 orang dibandingkan tahun 2024.
Peningkatan ini menjadi angin segar bagi sektor pariwisata di daerah yang oleh dunia internasional dikenal sebagai Spice Islands. Namun tantangan yang dihadapi kemudian adalah bagaimana kita sekalian sebagai tuan rumah dapat menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh wisatawan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah.
Salah satu kebutuhan dasar wisatawan adalah ketersediaan akomodasi penginapan yang bersih, sehat, nyaman, aman, dan menarik disertai layanan dasar lainnya. Akomodasi penginapan yang memadai akan menjadi pertimbangan wisatawan dalam memperpanjang waktu tinggal disuatu daerah tujuan wisata. Secara sederhana, semakin lama waktu tinggal wisatawan maka dampak ekonomi yang dihasilkan pun semakin tinggi.
Peluang Ditengah Keterbatasan
Provinsi Maluku sebagai salah satu provinsi tertua di Indonesia memiliki luas wilayah sebesar 712.479,65 km2 didominasi oleh luas laut sebesar 92,4 persen dan memiliki sekitar 1.388 pulau. Selanjutnya, Provinsi Maluku memiliki 1.236 desa dimana masing-masing berpotensi mengembangkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulannya. Disisi lain, dengan kondisi geografis tersebut maka perpindahan masyarakat antar tempat/pulau sangat tergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan armada.
Akomodasi penginapan yang memadai memungkinkan wisatawan untuk tinggal/berisitirahat di desa yang dikunjungi selama jangka waktu tertentu. Di Maluku, pada umumnya akomodasi penginapan terpusat didaerah perkotaan dan atau pusat kabupaten, didominasi oleh hotel, guest house, resort dan penginapan. Terdapat beberapa akomodasi penginapan di desa yang menjadi tujuan utama wisatawan. Umumnya akomodasi penginapan tersebut dibangun dengan dana yang besar.
Keterbatasan dana menjadi kendala dalam menyediakan akomodasi sejenis yang disebutkan sebelumnya pada lingkup desa. Disisi lain, tersedia pilihan akomodasi penginapan lain yang belum dilirik dan sangat mungkin dikembangkan pada tiap desa di Maluku. Akomodasi dimaksud yakni homestay yang dalam bahasa Indonesia diperkenalkan dengan nama pondok wisata.
Berbeda dengan jenis akomodasi penginapan sebelumnya, homestay secara sederhana diartikan sebagai jasa akomodasi berbasis rumah keluarga dimana wisatawan/tamu diajak untuk tinggal di rumah bersama keluarga pemilik rumah yang memiliki kamar lebih untuk disewakan. Kelebihan homestay dibanding jenis akomodasi lain adalah adanya interaksi langsung antara pemilik rumah, memungkinkan wisatawan untuk merasakan keseharian pemilik rumah dimana akan menambahkan pengalaman wisata-nya.
Meskipun pelaksanaannya menggunakan rumah masyarakat dan dikelola oleh mereka sendiri terdapat beberapa standar yang harus diperhatikan. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 mencantumkan standar yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang ingin mengusahakan homestay meliputi standar sarana, standar sumber daya manusia, standar ketentuan produksi, dan standar manajemen usaha.
Studi pada beberapa tempat menunjukkan bahwa selain beberapa standar diatas, kesuksesan juga dipengaruhi oleh perhatian dan keamanan yang diberikan oleh tuan rumah, keragaman obyek dan daya tarik lokal, kearifan lokal, serta upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Diketahui pula bahwa meskipun berskala kecil, usaha homestay memberikan dampak yang besar bagi masyarakat setempat terlebih manfaat itu dirasakan secara langsung.
Merajut Asa dari Negeri Oma
Negeri Oma yang terletak di Pulau Haruku merupakan salah satu desa adat di Provinsi Maluku. Negeri Oma memiliki beberapa obyek dan daya tarik wisata, diantaranya Pemandian Air Asol, Tugu Patung Liberty, Pantai Pohaya, Batu Kapal dan Benteng Hectorya. Disisi lain terdapat potensi geothermal (panas bumi) yang tampak dari keberadaan mata air panas seperti yang terdapat di Negeri Tulehu. Sampai akhir tahun 2021 diketahui bahwa belum terdapat akomodasi penginapan yang memadai dan dapat diakses oleh wisatawan di Negeri Oma. Homestay menjadi alternatif pemecahan masalah tersebut.
Pada tahun yang sama, Tim Politeknik Negeri Ambon berkesempatan untuk memberikan pelatihan terkait homestay di Negeri Oma. Secara berkala Tim berkunjung ke Negeri Oma, bertemu dengan berbagai stakeholder diantaranya Pemerintah Negeri Oma, Ibu-Ibu PKK, Pokdarwis, beberapa pengelola obyek wisata dan kelompok masyarakat lainnya.
Dalam perkembangannya, ditetapkan target lokasi untuk homestay adalah pemukiman penduduk yang terletak disekitar oyek wisata di Negeri Oma. Pertimbangannya adalah jarak tempuh yang dapat memudahkan wisatawan selama berwisata di Negeri Oma.
Beberapa pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kesiapan masyarakat setempat dalam penyediaan homestay? bagaimana cara pemanfaatan tempat tinggal untuk tujuan homestay? bagaimana penataan tempat tinggal untuk tujuan homestay? dan bagaimana pengelolaan tempat tinggal untuk tujuan homestay?
Selain pertanyaan tersebut diatas, hal lain yang patut diperhatikan keluarga yang ingin menjadikan rumah mereka sebagai homestay adalah ketersediaan ruang kamar kosong (termasuk kecahayaan, sirkulasi udara, ketersediaan tempat tidur, dsb), ketersediaan dan kondisi toilet-kamar mandi (mencakup didalamnya jenis toilet, bak air mandi, kecerahan, dsb), ketersediaan-kondisi air bersih, ketersediaan-kondisi dapur, ketersediaan-kondisi ruang tamu dan lingkungan rumah, ketersediaan listrik, jumlah anggota keluarga, pekerjaan anggota keluarga, dan yang paling penting adalah kesediaan menerima orang asing untuk tinggal.
Secara umum diketahui bahwa masyarakat setempat tertarik dengan penyediaan akomodasi penginapan homestay. Mereka juga menyatakan kesiapan dalam memberikan layanan jika wisatawan menginap di rumah mereka.
Tren Wisatawan: Mencari Pengalaman
Tahun ini, pola perjalanan wisata mengalami pergeseran. Wisatawan cenderung akan mencari tempat yang lebih lengah dan cenderung terpencil atau yang sering dikenal dengan istilah hidden gem. Wisatawan pada kalangan muda cenderung mencari daerah yang tidak merusak dan mengeksploitasi alam. Aspek keberlanjutan lingkungan telah menjadi pertimbangan dalam berwata (Kompas, 2026).
Hal ini patut untuk diantisipasi. Rantai pasok industri pariwisata patut untuk dijaga kualitas dan kuantitasnya agar wisatawan yang berkunjung ke Maluku nantinya dapat pulang dengan segala kenangan manis yang mereka alami.
Ketersediaan homestay yang memadai serta mampu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan menginap di akomodasi peginapan lainnya tentu akan menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Sudah saatnya masyarakat pedesaan diingatkan kembali akan potensi homestay yang selain dapat menjadi sumber pendapatan juga menjadi sarana berbagi pengalaman dengan wisatawan. (*)







