Oleh: Astuti Usman S.Ag., MH., C.Med
 (Komisioner Bawaslu Provinsi Maluku)

DEMOKRASI tidak tumbuh dalam ruang hampa. Demokrasi dibentuk oleh proses pendidikan, dialog, dan keberanian warga negara untuk terlibat secara aktif dan bertanggung jawab. Refleksi ini saya tuliskan setelah menjadi pembina dan pemantik pada kegiatan Mangente Kampus yang kali ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Ambon, sebuah ruang diskusi yang mempertemukan mahasiswa, perempuan, dan penyelenggara pemilu dalam satu percakapan kritis tentang masa depan demokrasi menuju Pemilu 2029.

Dalam forum tersebut, saya kembali menegaskan pandangan saya bahwa kampus adalah laboratorium demokrasi. Kampus bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga ruang pembentukan nilai, etika, dan kesadaran politik. Di sinilah nilai-nilai pengawasan pemilu yang sehat, cerdas, dan berintegritas seharusnya mulai ditanamkan dan mengakar kuat sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

Kampus adalah laboratorium demokrasi. Penanaman nilai-nilai pengawasan yang sehat, cerdas, dan berintegritas harus tertanam dan mengakar sejak di bangku kuliah. Mahasiswa adalah garda terdepan perubahan, maka mereka harus memastikan mandat yang diberikan rakyat tetap berjalan di atas aturan yang benar.


Mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan demokrasi. Mereka bukan hanya calon pemilih, tetapi juga agen perubahan sosial. Dengan kapasitas berpikir kritis yang dimiliki, mahasiswa seharusnya mampu membaca praktik demokrasi secara lebih jernih, membedakan mana proses yang berjalan sesuai aturan dan mana yang menyimpang dari prinsip keadilan dan integritas.

Dalam konteks pengawasan pemilu, kesadaran ini menjadi sangat penting. Pengawasan tidak boleh dipahami semata sebagai kerja teknis lembaga penyelenggara. Demokrasi yang sehat justru menuntut keterlibatan publik secara aktif. Mahasiswa, dengan energi dan idealismenya, memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pengawasan partisipatif yang menjaga kualitas demokrasi di daerah.

Kegiatan mangente kampus di Politeknik Negeri Ambon

Refleksi lain yang muncul dari diskusi di Politeknik Negeri Ambon adalah pentingnya demokrasi yang inklusif, khususnya keterlibatan perempuan. Perempuan masih sering ditempatkan sebagai objek dalam politik, bukan sebagai subjek yang memiliki suara dan pengaruh. Padahal, pengalaman perempuan dalam kehidupan sosial memberikan perspektif penting dalam membangun demokrasi yang lebih adil dan berkeadilan.

Melalui kegiatan Mangente Kampus yang mengangkat tema Perempuan voor Demokrasi Inklusif, saya melihat antusiasme mahasiswa, baik perempuan maupun laki-laki, untuk mendiskusikan peran perempuan dalam demokrasi secara lebih setara. Ini menjadi sinyal positif bahwa ruang-ruang kampus masih menyimpan harapan besar bagi lahirnya generasi demokratis yang inklusif dan berintegritas.

Kegiatan Mangente Kampus sendiri tidak dimaksudkan sebagai forum seremonial. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog yang cair, kritis, dan reflektif. Forum ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, bertanya, bahkan mengkritisi praktik demokrasi yang selama ini berjalan. Dari sini saya belajar bahwa literasi politik akan jauh lebih bermakna ketika disampaikan melalui dialog, bukan ceramah satu arah.

Ke depan, Mangente Kampus akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan setiap bulan sebagai bagian dari upaya literasi dan edukasi politik. Konsistensi ini penting agar kesadaran demokrasi tidak bersifat sesaat, melainkan tumbuh secara bertahap dan berakar kuat. Demokrasi membutuhkan proses panjang, dan pendidikan politik adalah salah satu fondasi utamanya.

Saya percaya, jika kampus terus didorong menjadi ruang belajar demokrasi yang hidup, maka nilai-nilai integritas, keadilan, dan partisipasi publik akan tumbuh secara alami. Mahasiswa tidak hanya akan memahami demokrasi sebagai konsep, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi dari Politeknik Negeri Ambon ini menguatkan keyakinan saya bahwa masa depan demokrasi, khususnya di Maluku, sangat ditentukan oleh sejauh mana kita serius menanamkan nilai-nilai demokrasi sejak dini. Kampus adalah titik awal yang penting, dan mahasiswa adalah penjaga masa depan demokrasi itu sendiri. Ditangan Anak muda yang cerdas lah lahir pemilu yang berkualitas. (*)