HILA, LaskarMaluku.com – Setelah selesai mempersiapkan Negeri Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana), PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara kembali melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bekerjasama dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Provinsi Maluku, di Negeri Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (15/2/2026).
Sosialisasi mengenai Pengenalan Desa Siaga Bencana dan Karakteristik Bencana yang dilakukan Forum PRB Maluku ini dilaksanakan di halaman Benteng Amsterdam dan mendapat antusias dari masyarakat.
Ketua Forum PRB Provinsi Maluku, Kasrul Selang, menjelaskan, Negeri Hila dipilih untuk sosialisasi Desa Siaga Bencana, karena salah satu catatan sejarah, sumber Rumphius (1675) tsunami dahsyat melanda Negeri Hila dan pesisir Ambon pada 17 Februari 1674, pukul 19.30 WIT dipicu oleh gempa bermagnitudo 6,8-7,9 dan longsoran bawah laut.
Gelombang setinggi 80-110 meter menghancurkan pemukiman, menewaskan 2.243 jiwa, dan tercatat sebagai salah satu bencana tsunami terbesar di Indonesia dalam arsip VOC oleh Rumphius.
“Dinding Benteng Amsterdam di Hila setebal 2,5 meter dengan tinggi 3 meter terkoyak sampai ke pondasinya,”jelas Kasrul.
Lantaran itu, tujuan sosialisasi Desa Tangguh Bencana bagi masyarakat Negeri Hila agar masyarakat memiliki kemampuan mandiri untuk mengenali potensi bencana, beradaptasi, dan memulihkan diri secara cepat dari dampak bencana.
“Saya berharap Negeri Hila menjadi pilot project Desa Siaga Bencana, baik di sekolah, di tempat ibadah dan di masyarakat,”harap Kasrul Selang.

Sementara itu, Anggota Forum PRB Maluku, Dr.Herfien.Samalehu,ST.M.Eng dalam sosialisasinya mengenai gempa bumi dan tsunami Maluku, diawali dengan struktur interior bumi dan perkembangan bentuk bumi sejak 250 juta tahun yang lalu hingga sekarang.
Herfien menjelaskan, gempa bumi merupakan peristiwa bergetarnya bumi yang diakibatkan oleh pelepasan energy akibat pergeseran kerak bumi secara tiba-tiba, serta energy yang dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Herfien juga menitikberatkan pada gempa yang berlanjut tsunami di Maluku pada 17 Februari 1674, dimana Negeri Hila dan Zeith mengalami ketinggian air laut 80-100 meter.
“Dari catatan Rumphius waktunya hanya 15 menit ketika terjadi gempa disusul tsunami. Dan dari catatan Rumphius, sesaat sebelum terjadinya gempa lonceng-lonceng di Benteng Victoria berdentang dengan sendirinya,”ujarnya.

Herfien menjelaskan, gempa diikuti tsunami dengan ketinggian 80-100 meter di Negeri Hila kala itu, karena ada longsoran bawah laut kurang lebih 2500 meter sehingga terjadi patahan, sementara di Negeri Hitu, Mamala dan Morela terjadi gemba dan tsunami dengan ketinggian hanya 3-5 meter.
Dirinya juga menjelaskan kepada masyarakat cara mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.
Masyarakat Negeri Hila begitu antusiasi mendengar sosialisasi sehingga terjadi interaksi dan dialog yang memperkuat pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana.
Pada kesempatan itu juga, anggota Forum PRB Maluku, Freta Kayadoe melakukan sosialisasi tentang InaRisk, sebuah portal hasil kajian risiko bencana yang menampilkan informasi ancaman bencana, kerentahan, kapasitas dan risiko bencana, yang mana menurut Kayadoe, InaRisk juga dapat menampilkan pantauan indeks risiko bencana.
Sebagian besar masyarakat yang mengikuti sosialisasi langsung mendownload aplikasi InaRisk dan berdialog mengenai cara mengisi form rencana kesiapsiagaan bencana untuk keluarga.
Plt Raja Negeri Hila, Kasim Elly menyampaikan terima kasih kepada Forum PRB yang telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat Negeri Hila tentang mitigasi bencana sehingga Hila bisa menjadi Desa Tangguh Bencana.
“Hila sudah pernah mengalami bencana, oleh sebab itu sosialisasi hari ini sangat bemanfaat agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang lengkap saat terjadi bencana apa yang harus dilakukan,”kata Kasim Elly.
Senada dengan itu, salah satu masyarakat Nurdin Lating, mengakui kegiatan sosialisasi ini sangat positif karena mengedukasi masyarakat mempersiapkan diri dalam situasi bencana.
“Jadi sebelum bencana, hal yang penting dilakukan yakni kita mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana,”kata Nurdin seraya meminta agar kegiatan-kegiatan seperti ini bisa dilakukan berkelanjutan dengan agenda simulasi dengan jalur-jalur evakuasi yang melibatkan lebih banyak masyarakat Negeri Hila. (L02)




