JAKARTA, LaskarMaluku.com – Pameran seni berbasis kertas Art Jakarta Papers 2026 yang digelar untuk pertama kalinya mencatat 9.289 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan. Acara ini berlangsung pada 5–8 Februari 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3.

Manajer Komunikasi Art Jakarta Papers, Adinda menjelaskan, sebanyak 28 gallery dari Indonesia dan Asia ambil bagian dalam pameran yang berfokus pada medium kertas tersebut, dimana bertujuan untuk menyoroti potensi kertas dalam praktik seni kontemporer.

Adinda merincikan, 22 galeri berasal dari Indonesia, antara lain Jakarta, Bali, Aceh, dan Bandung. Sementara enam galeri lainnya datang dari Kuala Lumpur, Seoul, Bangkok, Taipei, dan Tokyo.

Sejumlah galeri ternama turut meramaikan pameran ini, di antaranya ArtSociates dari Bandung dan Jakarta, ara contemporary dari Jakarta, Art WeMe Contemporary yang berbasis di Kuala Lumpur dan Jakarta, serta SAC Gallery dari Bangkok.

Pameran ini menampilkan berbagai eksplorasi karya seni berbasis kertas. Tidak hanya lukisan atau gambar, pengunjung juga dapat melihat instalasi hingga patung yang memanfaatkan kertas sebagai medium utama.

Syane siswa kelas 5 SD bersama adiknya yang juga tertarik dengan dunia seni ikut mengunjungi Jakarta Art Paper 2026 di PIM 3

Boneka kertas setinggi 2,5 meter karya Iwan Effendi, menjadi salah satu yang menarik perhatian pengunjung. Buktinya, Syane, siswa kelas 5 SD ini sangat mengagumi boneka kertas karya Iwan Effendi.

“Saya sangat suka lukisan-lukisan disini, apalagi boneka kertas ini. Bagus bangets,”ungkap Syane kegirangan.

Didampingi adiknya yang berusia 6 tahun, Syane mengaku dirinya dan adiknya sangat suka melukis terutama yang abstrak, sehingga bisa mengunjungi Jakarta Art Paper didampingi tantenya.

Sama halnya dengan keluarga artis Christian Sugiono dan Titi kamal bersama kedua anaknya yang juga sangat tertarik pada seni.

Disela-sela kunjungannya Christian Sugiono mengakui Jakarta Art Paper hadir dengan sesuatu yang berbeda dibanding pameran seni lainnya, selain menghadirkan kanvas yang berukuran besar, para seniman menghadilkan karyanya melalui kertas.

Hanya saja Christian lebih menyukai hasil karya seni berukuran kecil sehingga mudah untuk dibawa.

Sementara Titi Kamal memberikan apresiasi dan respons positif terhadap kegiatan Jakarta Art Paper 2026. “Kami sekeluarga suka sama seni. Saya berharap mpameran ini memberikan dampak positif dalam mendorong lahirnya seniman baru yang hebat dan mengharumkan nama Indonesia,”ungkapnya seraya mengharapkan kegiatan ini tidak berhenti disini tetapi menjadi agenda tahunan.

Salah satu pengunjung asal Bali, Made yang ditemui saat berbincang dengan seniman Enda Ginting di Zen1 gallery mengaku, penggunaan kertas dalam seni mencerminkan keragaman ekspresi budaya indonesia yang luar biasa.

“Saya berharap melalui pameran ini, talenta muda dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk berpameran, membangun jejaring, dan berinteraksi langsung dengan pelaku seni rupa internasional,”harap Made.

Sementara bagi seniman Enda Ginting yang menggunakan media utama cat air mengakui, kertas adalah media yang paling bagus sehingga dirinya bisa mengungkapkan spontanitas dan ekspresinya.

“Saya memang bersahabat dengan kertas, sehingga ada Art Jakarta ini saya langsung menyiapkan 6 lukisan saya, yang disiapkan hanya beberapa hari,”ungkapnya

Enda menggoreskan karakter air yang lembut, transparan sesekali secara ekspresif spontan dan juga ditepuk dengan efek dan alat tertentu menanggalkan jejak artistik unik di sejumlah karyanya.  

Sementara Art Jakarta Papers juga didukung oleh Lead Partners BCA dan Sucor Asset Management.

Kehadiran dua institusi dari industri keuangan ini memperkuat posisi Art Jakarta sebagai bagian dari ekosistem seni rupa Indonesia dan regional.

Patung kertas setinggi 2,5 meter karya Iwan Efendi di Jakarta Art Paper 2026.

BCA melalui myBCA Space menghadirkan instalasi seni monolitik karya Rudy Atjeh. Instalasi berbahan kertas yang dipotong secara manual ini menggambarkan perjalanan hidup manusia melalui metafora sebuah pohon, dengan akar sebagai prinsip dasar, batang sebagai simbol keteguhan, dan dahan yang merepresentasikan fase-fase kehidupan.

Pengunjung juga diajak berinteraksi melalui aktivitas origami yang terus mengembangkan karya selama pameran berlangsung.

Sedangkan, Sucor Asset Management mempersembahkan Sucor AM Corner, sebuah instalasi interaktif hasil kolaborasi dengan seniman Naufal Abshar. Mengusung konsep catur sebagai metafora investasi, instalasi ini menampilkan enam patung paper mache yang merepresentasikan bidak catur dengan karakter dan peran berbeda, sekaligus menggambarkan strategi dan pengambilan keputusan dalam dunia investasi. (L02)