Share

Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Lakor (HML), Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menggelar aksi demo di halaman kantor Gubernur Maluku. Aksi berlangsung dengan mengoyang pintu gerbang dan saling dorong dengan Satpol PP, Senin (21/09/2020) (FOTO: BERITABETA.COM)

 LASKAR – Merasa diabaikan dalam mengkaji Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) Blok Masela, puluhan Himpunan Mahasiswa Lakor (HML), Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Maluku, Senin (21/9/2020).

Dalam orasinya, Dani Watloly mengaku kecewa dengan kebijakan Gubernur Maluku yang tidak melibatkan masyarakat MBD dalam melakukan kajian AMDAL.

 “Ini tindakan diskriminasi, kenapa tidak dilibatkan masyarakat MBD dalam proses analisis. Untuk itu saat ini kita menolak AMDAL yang dilakukan Inpex,” tegasnya seraya mengecam akan mengerahkan masa yang lebih besar jika Gubernur Maluku tidak menemui mereka.

BACA JUGA:  Koordinator Relawan Covid di Tanimbar Ngaku Tidak Terima Insentif

“Hari ini peringatan pertama kalau Gubernur Maluku tidak menemui kami, kami  akan turun dengan seluruh masyarakat MBD,” ancamnya. 

Dalam orasinya, HML menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk mengkaji kembali Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk mega proyek Blok Gas Abadi di Masela, karena dinilai berdampak nagatif bagi lingkungan.

Para pendemo bersikeras ingin bertemu Gubernur Maluku Murad Ismail sehingga terjadi aksi dorong mendorong dengan polisi pamong praja maupun anggota polisi yang tidak  mengijinkan para pendemo masuk ke halaman kantor Gubernur Maluku. 

Akibatnya para pendemo mulai beringas dan menaiki pagar besi sambil menggoyang-goyang sehingga pagar menjadi patah.

 

Untungnya, aksi ini dapat dilerai oleh aparat Kepolisian dari Polsek Sirimau dan personel PRC Polresta Ambon.

BACA JUGA:  DPRD Maluku Bentuk Pansus Bahas Perda Pengelolaan Blok Masela

Karena tidak dijinkan masuk,  para demonstran kemudian melakukan orasi di luar pagar. (L02)