Share
MARTIN LANGODAY
Partai Golkar dan PDI-P menjadi incaran serius Kakor Brimob Polri, Irjen Polisi Murad Ismail, guna memuluskan langkahnya menjadi Gubernur menggeser Said Assagaff.
Sayangnya, sejauh ini, beringin Golkar gagal ditaklukan meski jenderal bintang dua ini sudah berusaha menerobos masuk. Gagal di Partai Golkar, putra Waihaong itu sedang menanti keputusan final dari dalam kandang banteng moncong putih.
Konon Murad Ismail pun kesulitan mendapatkan secarik kertas “mahal” tersebut. Dia harus bersaing dengan kader internal partai seperti Edwin Huwae yang mengincar orang nomor dua berpasangan dengan Said Assagaff.
Adalah fungsionaris DPD PDI-P Maluku, John Jokohael yang memanaskan discourse ini. Alasannya, PDI-P bakal punya pengaruh yang signifikan jika mengambil posisi orang nomor dua lantaran standing politik dari Said Assagaff begitu tangguh.  
Artinya, PDI-P meski punya orang nomor dua tetapi peluang merebut Gubernur pasca kepemimpinan Said Assagaff terbuka lebar. Mengikuti jalan pikiran senator Maluku, Prof John Pieris, rasanya bola politik Jokohael ini, bisa diterima. 
Bahwa saat ini kader PDI-P sepatutnya menjadi Wakil Gubernur Maluku, sambil mengintip peluang mengambil orang nomor satu lima tahun berikut yang lebih menjanjikan. 
Selain itu, kursi Ketua DPRD Maluku yang ditinggalkan oleh Edwin Huwae, tetap saja akan ditempati oleh kader banteng sendiri. Kendati pilihan ini realistis dimata John Jokohael, tetapi muncul suara sumbang akibat dinamika yang terjadi memperlihatkan Edwin Huwae tidak cukup full mendapat dukungan dari dalam kandang banteng.
Disimpul ini, posisi Murad Ismail tetap diuntungkan. Jabatannya sebagai Kakor Brimob Polri sangat berpengaruh bagi langkah mantan Kapolda Maluku, berburu rekomendasi dari partai politik.  
Sejak memperoleh rekomendasi dari NasDem, optimisme pendukung sepertinya membuncah. Sebab, terlihat seterusnya rekomendasi partai politik sangat mudah bagi Murad Ismail. Beberapa partai politik lain akhirnya mengikuti keputusan NasDem. 
Pergerakan Murad Ismail, mulai tertatih manakala beringin Golkar yang sudah diterobos ternyata gagal dipetik. Kini, publik yang melek politik sedang menunggu bagaimana sikap PDI-P. Terkesan,
kader-kader PDI-P terutama di daerah, ingin memberi isyarat kepada Murad Ismail, bahwa lobi politik di tingkat pusat sejatinya juga berpijak kepada suara para kader di daerah.
Maklum saja, sejak dibukanya pendaftaran, mainan politisi di daerah tampak nyata dalam bahasa politik tentang dua klasifikasi soal kader partai, yaitu kader internal dan kader eksternal.
Untuk yang pertama tentu menuju kepada nama Edwin Huwae walaupun masih ada politisi gaek Evert Kermite di dalam daftar nama bakal calon Wakil Gubernur yang mendaftar di PDI-P.
Sedangkan, Tagop Soulissa, Barnabas Orno dan Herman Koedoeboen, sebagai kader eksternal. Dinamika, yang alot di PDI-P dan kehadiran Murad Ismail, rasanya posisi kader internal yang mengincar orang nomor dua terlihat sangat lemah mengingat PDI-P sebagai yang terdepan dengan jumlah 7 kursi di DPRD Maluku. 
Menjadi orang nomor satu adalah sebuah keharusan bagi PDI-P, tetapi yang mendaftar untuk posisi ini justru mereka yang masuk kategori kader eksternal yaitu Tagop Soulissa, Barnabas Orno, dan Herman Koedoeboen. 
Sementara posisi Kakor Brimob Polri, Irjen Polisi Murad Ismail sendiri, tidak jelas. Pasalnya, mau dibilang kader internal tidak, pun sebagai kader eksternal juga tidak termasuk. Namun, santer berhembus, salah satu Pati Polri ini justru akan mendapat tanda tangan dari Megawati Soekarnoputri.
Menguatnya posisi Murad Ismail, disebut ikut dipengaruhi oleh belum iklasnya Megawati Soekarnoputri melepaskan kader terbaiknya Komarudin Watubun ke Maluku. Padahal, sempat muncul komunikasi mengenai kemungkinan Komarudin Watubun dan Michael Wattimena berpasangan. 
Manuver ini pada akhirnya tenggelam menyusul Michael Wattimena mengkampanyekan diri sebagai bakal calon Gubernur Maluku. Baik Tagop dan Barnabas dalam waktu yang demikian singkat, diperkirakan akan terlempar keluar gelanggang.
Tagop paling realistis, meski sempat melambung akibat pemberitaan media. Bola panas malah sempat digulirkan oleh Bupati Buru Selatan, mengenai sudah waktunya PDI-P merekomendasikan figur Islam, karena PDI-P dalam kompetisi pemilihan Gubernur Maluku, selalu merekomendasikan figur Kristen.

BACA JUGA:  Walikota Ambon Resmikan Rumah Singgah di Makassar Bagi Masyarakat Maluku yang Datang Berobat

Sosok Tagop Soulissa melayang tetapi pada akhirnya meredup manakala Murad Ismail secara serius mengambil sikap maju mencalonkan diri menjadi salah satu bakal calon Gubernur Maluku.

Pernyataan politik dari Tagop Soulissa yang sangat vulgar ini bagai bumbu masakan bercita rasa tinggi. Sebab, bersinggungan langsung dengan kehadiran kader eksternal lainnya seperti Barnabas Orno dan Herman Koedoeboen, mewakili komunitas Kristen.
Tetapi dengan melihat konfigurasi yang ada, maka PDI-P sesungguhnya beruntung karena ada keseimbangan dari para bakol calon. Artinya ada Murad Ismail dan Tagop Soulissa, dan ada Barnabas Orno dan Herman Koedoeoboen.
Bukan rahasia bahwa nama terakhir ini, telah memutuskan keluar dari perburuan rekomendasi partai politik dan lebih memilih masuk melalui jalur perseorangan bersama pasangan finalnya yaitu Abdullah Vanath.
Herman Koedoeboen dan Abdullah Vanath pun realistis terhadap peta kekuatan kompetitor. Figur yang paling berpengaruh bukan Tagop Soulissa dan Barnabas Orno, tetapi lagi-lagi sosok itu adalah Murad Ismail.
Ditengah penantian yang kian singkat, spekulasi tetap berseliweran. Sebab, masih terjadi tarik menarik kepentingan elite pusat dan daerah berkaitan dengan efek rekomendasi saat memasuki pemilihan legislatif dan Pilpres 2019 mendatang.
Langkah politik Herman Koedoeboen dan Abdulah Vanath melalui jalur perseorangan, cukup menghentak. Basis pemilih militan PDI-P, yang menginginkan duet bertagline HEBAt ini diakomodir mulai bergerak massif mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP) agar bisa tetap lolos bertarung dari jalur perseorangan. 
Rekomendasi kepada figur bakal calon untuk Pilgub Maluku, ternyata punya efek pada saat Pileg dan Pilpres mendatang. Apakah dalam waktu yang singkat ini Murad Ismail mampu memaksimalkkan lobi politik guna mendapatkan rekomendasi? 
Bagaimana implikasinya jika dia benar-benar mengantongi rekomendasi dan peluang pertarungan terbuka bersama beringin Golkar yang sudah final dengan Said Assagaff dan Andre Rentanubun? 
Berikut bagaimana posisi Barnabas Orno yang banyak mendapatkan suntikan dari elit PDI-P di daerah? Mari menunggu dinamika selanjutnya. Politik itu sesungguhnya adalah seni mengelolah konflik. (bersambung)