Share

Uskup Diosis Amboina, Mgr.P.C.Mandagi,MSC 

LASKAR – Uskup Diosis Amboina, Mgr.P.C.Mandagi,MSC mengatakan, belakangan orang ramai berbicara mengenai Kelompok Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang dideklarasikan belum lama ini. 

Kelompok ini bertujuan untuk menegur pemerintah. Tapi pertanyaannya? Apakah menegur itu dilatarbelakangi dengan cinta kasih atau ada dilatar belakangi kepentingan politik.

“Kita semua boleh menegur pemerintah, tetapi menegur dengan cinta kasih jangan menegur karena ada kepentingan politik,”tegas Mandagi saat Khotbah dalam Perayaan Misa, Minggu (06/09/2020) pagi di Gereja Katedral Ambon.

Menurutnya, dalam Bacaan Injil Matius 18:15-20, Yesus berkata kepada muridnya, “apabila saudaramu berbuat dosa tegurlah dibawah empat mata, jika ia mendengarkan nasehatmu, engkau telah mendapatkannya kembali”.

BACA JUGA:  Pemkot Mulai Data Jumlah Pengusi Kebakaran Lorong Tahu

Itu berarti kata Mandagi, menegur dengan sopan, menegur dengan lemah lembut tidak ada kepentingan lain. “Kita menegur bukan karena kita membenci tetapi karena kita mencintai. Ini yang dikatakan Yesus menegur dibawah empat mata,”ungkap Mandagi seraya menegaskan, menegur karena melaksanakan kebenaran, bukan menegur karena benci dan memfitnah orang lain. 

Mandagi menuturkan, kita dipanggil untuk mencintai sesama, memang tidak gampang tetapi kita dipanggil supaya sesama kita juga selamat terlepas dari dosa. “Supaya kita semua mengalami keselamatan seperti Yesus. Kita berani menegur yang bersalah supaya kita semua akan masuk ke dalam kerajaan sorga,”harap Mandagi.

Ditambahkan, Yesus mencintai kita sepenuhnya. Kita adalah para pengikutnya. Karena itu berbahagialah kita karena ada yang mencintai kita. Orang boleh melupakan kita, orang boleh meninggalkan kita, orang boleh membenci kita, tetapi kita punya Yesus yang selalu mencintai kita. 

BACA JUGA:  Tak Miliki Dokumen Resmi, Bea Cukai Musnahkan Ratusan Barang dari Belanda

“Kenyataan ini membuat pengharapan ada dalam diri kita dan selalu menciptakan rasa optimistis,”kata Uskup.

Cara yang dinyatakan oleh Yesus kepada pengikutnya ialah menegur kita manusia yang berdosa. Tidak membiarkan para pengikutnya tinggal dalam dosa dan akhirnya mati karena dosa atau menderita karena dosa.

Sebagai pengikut Yesus, kata Mandagi kita ditantang untuk berani menegur sesama kita yang berdosa. “Latar belakangnya bukan kita mau merendahkan dia, bukan mau menyingkirkan dia tetapi karena kita mencintai dia. Memang kita ingat Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli taurat, resikonya adalah mereka memusuhi DIA, mereka tidak mencintai bahkan mereka ingin membunuh-NYA. Tetapi Yesus tidak berhenti menegur mereka walaupun dengan resiko salib, resiko mati di kayu salib,”ungka Mandagi lagi.

BACA JUGA:  Ampera MBD Gelar Aksi Demo Desak Kejati Tuntaskan Kasus PT Kalwedo

Diakhir khotbahnya, Uskup Mandagi mengatakan, ketika para pemimpin menyuarakan keadilan dan perdamaian, terkadang dimusuhi, dibenci, dihina bahkan ditolak. “Inilah panggilan dari perutusan kita memperjuangkan keadilan dan perdamaian bagi kepentingan banyak orang,”tutup Mandagi. (L02)