Share
Martin Langoday
NUSA Tenggara Timur (NTT) bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adalah salah satu provinsi terbaik ddalam kehidupan bertoleransi antar umat beragama. 
Kedamaian itu, mulai diguncang. Fakta memperlihatkan, pendatang gelap adalah ancaman nyata, bukan lagi sebuah fenomena. 
Dari waktu ke waktu kehadiran kelompok ini tidak layak disebut sekedar fenomena. 
Mereka menyata melalui ekses yang ditimbulkan. Terorisme dan ancaman keamanan ketertiban masyarakat sudah berada dan terjadi di depan mata. 
Apa pun alasan yang diberikan, watak asli budaya ketimuran yang memberi tempat terhormat bagi siapa saja, rasanya perlu diinterupsi. 
Peristiwa berdarah yang terjadi di Sabu, Selasa (13/12/2016) menjadi catatan, pentingnya kewaspadaan bersama terhadap pendatang gelap dengan identitas jelas.
Menyebut pendatang gelap, pikiran kita langsung tertuju kepada orang-orang yang tidak memiliki identitas secara jelas. 
Oleh aparat keamanan sendiri, baik itu POLRI, TNI, pihak Keimigrasian, Ketenagakerjaan dan lintas instansi lainnya, sering menunjuk pada warga negara asing yang tidak memiliki kelengkapan dokumen. 
Pendatang gelap seolah-olah khusus kepada warga negara asing, dan selebihnya, orang-orang memiliki identitas jelas yang hanya berupa kartu tanda penduduk (KTP), surat ijin mengemudi (SIM) boleh bebas bergerak.
Sambil bergerak, sambil mengintai lengahnya kewaspadaan, di kalangan warga masyarakat yang melentur dan deteksi dini dari aparat keamanan yang masih jauh dari harapan, tentu memudahkan tindakan yang telah dirancang. 
Akibat sikap menerima dengan suka cita orang yang baru masuk tanpa menaruh rasa curiga berlebihan, telah memakan korban anak-anak sekilah dasar yang tidak berdosa.
Mereka, sama sekali tidak tahu-menahu tentang bahaya nyata dari tindakan terorisme.   
NTT, dengan kehidupan berkerukunan, toleransi antar umat beragama terbaik, mulai didekati dengan pola nyata tindakan terorisme yang didahului dengan modus mencari pekerjaan –, berdagang keliling. 
Sebagai salah satu ciri wilayah kepulauan dan semakin lancarnya jalur transportasi baik melalui darat, udara, dan terutama laut, posisi strategis NTT yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste, menjadi bagian yang sangat strategis untuk diganggu.
Mestinya kewaspadaan dan deteksi dini sebagai kampanye anti terorisme yang ditetapkan pemerintah Indonesia, mendapat gayung bersambut di daerah. Tidak hanya berupa kampanye tetapi butuh tindakan nyata. 
Apalagi, belakangan dengan kemudahan menjangkau NTT, dan mulai meningginya intensitas kunjungan ke wilayah NTT, sadar atau tidak, kegiatan terorisme kapan pun bisa dilancarkan.
Bukan tidak mungkin jaringan paling mematikan ini dengan terlebih dahulu melakukan people smuggling, menyelundupkan manusia-manusia yang telah diajarkan, didoktrin guna melakukan aksi.
Sejatinya, kegiatan terorisme pada setiap waktu bisa diwujud-nyatakan setelah pendatang gelap dengan identitas jelas mendarat mulus pada daerah tujuan aksi. Dan hal ini sudah dilakukan, tanpa sebelumnya warga setempat menaruh curiga terhadap kehadiran mereka.
Berangkat dari kondisi ini, pihak berwajib seharusnya lebih memperketat pengawasan pada pintu-pintu masuk baik itu melalui jalur darat, laut dan udara. 
Di setiap tapal batas wilayah administrasi pemerintahan, tindakan sweeping harus dilakukan. Begitupun di pelabuhan-pelabuhan laut dan bandar udara.
Setiap pendatang gelap patut dimintai keterangan secara detil dan butuh kemampuan petugas membaca gerak gerik yang mencurigakan. Jika tidak dilakukan secara simultan, bukan tidak mungkin akan ada lagi peristiwa berdarah seperti di Sabu, menimpa wilayah lain di Indonesia. 
Kehidupan antar umat beragama yang begitu harmonis dan penerimaan pengaruh (moderen), transaksi ekonomi dari luar yang terbuka dalam rasa persaudaraan yang tinggi dan saling membutuhkan, perlu ekstra waspada menyusul peristiwa berdarah di Sabu. 
Sebab, suasana keberagamaan yang sangat indah, dan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang begitu kondusif, maka peristiwa berdarah ini, dapat dikatakan sebagai tindakan terorisme.
Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pendatang gelap pada sebuah wilayah yang sudah terpatri sebagai wilayah paling damai dan harmonis, diakui dalam tantangan pluralisme.
Aksi kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, adalah sebuah tindakan terorisme yang keji. 
Meski demikian, kita juga tidak perlu terburu-buru menunjuk pelaku datang dari agama dan suku tertentu. 
Kendati dimana-mana agama tampaknya diasosiasikan dengan kekerasan. Sebab, pelaku senantiasa menautkan diri dalam upaya menunjukan identitas-identitas politis serta memberi lisensi bagi idiologi-idiologi yang berbahaya. Secara umum, tampak jelas adanya aliansi gelap antara agama dan kekerasan. 
Tetapi sesungguhnya agama adalah ‘penawar’ bagi kekerasan sebagai ganti ‘sebab’. Agama adalah penyembuhan, perbaikan dan harapan. 
Dunia melihat, dunia menyaksikan, pada sebuah wilayah yang damai dan bukan pada sebuah wilayah yang berada dalam keadaaan perang, sehingga diakui sebagai absah.
Artinya, atas taktik-taktik defensif dalam pertempuran yang sedang berlangsung atau simbol-simbol yang memberi isyarat pada dunia bahwa tindakan yang dilakukan adalah dalam keadaan genting.
Duka cita di Sabu adalah bentuk nyata dari sebuah peristiwa keji dan sudah direncanakan, secara matang. 
Ketakutan yang ditimbulkan dengan cara menyerang anak-anak kecil pada sebuah wilayah yang sangat kondusif, sebagai sebuah pesan dan tindakan nyata dari terorisme. 
Mari bersama mewaspadai karena kejamnya terorisme telah sampai di hadapan kita. Kewaspadaan terhadap people smuggling oleh jaringan terorisme, bukan semata-mata menjadi tugas aparat keamanan, tetapi butuh peran serta seluruh masyarakat. 
Komunikasi dan koordinasi diperlukan bagi upaya membangun sebuah kepercayaan dan pemahaman bersama bahwa konfrontasi yang sedang terjadi dan tampak nyata, patut disesali. 
Pula, semua kita tidak patut untuk ikut-ikutan mengiyakan sedang terjadi perang kosmis. Sebuah sejarah kelam dari perjalanan sejarah masing-masing agama. Damai itu indah..!! (*)

BACA JUGA:  Wakil Uskup Ketua Panitia MTQ, Bukti Kerukunan Beragama di Tanimbar Patut Dicontohi