Share

LASKAR AMBON– Edwin Huwae bersinggungan dengan dua peristiwa berskala nasional.Peristiwa pertama tetap seputar permainan uang.Saat Kongres IV PDI Perjuangan di Bali tahun 2015, Edwin diberitakan berbagai media tertangkap KPK terlibat transaksi.

Padahal, pemberitaan tersebut salah dan dinilai mencederai yang bersangkutan.Sejak itu, namanya makin melejit.Edwin mendapat keuntungan secara politik dari pemberitaan yang salah dan langsung diklarifikasi oleh Eva Sundari.Eva latah membenarkan berita yang dilansir.

Namun, belakangan nama Edwin justru tersudut. Masih berhubungan seputar kerja KPK, Ketua DPRD Maluku ini, tiba-tiba ketahuan tersangkut dalam heboh kasus suap Damayanti.

Pemanggilan Edwin sebagai saksi bersama Wakil Walikota Ambon, Sam Latuconsina, membuka kedok pertalian yang terjalin selama ini.

BACA JUGA:  Incumbent Noach-Ari di MBD Resmi Kantongi Rekomendasi Perindo

Tidak banyak orang tahu jika Edwin ikut keciprat dana. Tapi semua ini perlu pembuktian lebih jauh.Pasalnya, bersama   dengan Sam, Ketua DPD PDI-Perjuangan ini baru dihadirkan sebagai saksi bagi tersangka politisi asal PAN, Andi Taufan.

Meski begitu, informasi yang dihimpun menunjukan sejak nama Edwin disebut dan menjalami pemeriksaan di KPK, tingkat kepercayaan di PDI-Perjuangan Maluku mulai menurun.

Bahkan, saat ini terbersit kabar Edwin bisa saja me­ng­a­lami kudeta konstitusi jika benar-benar terbukti bersalah terlibat da­lam kasus suap Damayanti.

Apalagi, sejak terbongkar melalui per­sidangan di Jakarta, Edwin buru-buru me­lakukan klarifikasi dengan membawa-bawa nama gereja. Uang yang diterimanya, konon disalurkan sebagai bantuan kepada gereja melalui para ketua klasis.

BACA JUGA:  Kemenangan PDI-P di Maluku Adalah Kemenangan Rakyat

Chris Sahetapy, salah satu Pendeta senior menyesalkan pernyataan Edwin. Dalam akunnya di medsos Sahetapy secara tegas menyatakan Edwin jangan berlindung dibalik lembaga agama.

Alhasil, pernyataan Edwin memicu kontroversi dan membenamkan ketokohan Edwin sebagai salah satu politisi muda berprestasi.

Dua jabatan bergengsi sebagai Ketua DPRD Maluku dan Ketua DPD PDI-Perjuangan Maluku, kini sedang dipertaruhkan.

Khusus di internal PDI-Perjuangan, perlawanan mulai terdengar.Sejumlah kader tidak segan-segan berkicau sinis melalui media sosial.

Sayup-sayup juga terdengar Edwin harus mempertanggungjawabkan kasus yang menimpanya dalam rapat pengurus internal PDI-Perjuangan Maluku.

Apalagi, sumber Koran Laskar me­mastikan para petinggi PDI-Per­juangan di Jakarta sudah me­ngetahui dan mendapat laporan mengenai keterkaitan Edwin dalam kasus suap Damayanti.

BACA JUGA:  Blok Masela Jangan Munculkan Neokolonial

“Kita lihat saja perkembangan selanjutnya seperti apa. Tetapi dia harus menggelar rapat internal untuk menjelaskan semuanya,” terang sumber Koran Laksar.(LR)