Share

AMBON, LaskarMaluku.com – Pastor Leonardus Ancis Bast, menilai peristiwa bentrokan warga di Kota Tual menjadi keprihatinan bersama.

Menurut Romo Ancis, sebagaimana yang diketahui dari media massa, kalau masalah ini pertama berawal dari masalah sepele; yakni gara-gara makan bakso dan orang-orangnya tidak bayar.

“Kalau tidak punya uang jangan makan bakso, karena dampak yang ditimbulkan melukai hati banyak orang karena menderita luka, harta benda musnah terbakar akibat ulah yang ditimbulkan, “ujar Romo Ancis Bast SVD ketika memimpin perayaan Ekaristi Kudus Misa Kedua di Gereja Santa Maria Bintang Laut Benteng Ambon, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Minggu (05/2/2023).

Kondisi ini kata Romo Leonardus Ancis, menjadi keprihatinan kita bersama karena selain penderitaan yang dirasakan para korban baik luka-luka maupun penderitaan batin yang  perlu dipulihkan.

Sejauh ini, korban yang menderita luka akibat kejadian itu tercatat sebanyak 35 orang, lima orang diantaranya dari pihak kepolisian termasuk dua perwira Polri karena terkena lemparan batu dan senjata api angin.

BACA JUGA:  Pelni Cabang Ambon Siapkan 9 Kapal Antisipasi Lonjakan Arus Mudik

Sisanya dari unsur kelompok masyarakat yang bentrok. Sejauh ini, kondisi keamanan telah berangsur-angsur dipulihkan aparat keamanan dari Polri dan TNI.

Hanya saja masyarakat ketika mau memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok, terasa agak sulit karena faktor ketakutan dan enggan untuk keluar rumah.

Jadi Garam dan Terang

Hari ini Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang dunia yang berarti kita diajak untuk berbuat sesuatu yang baik di tempat kita hidup; baik itu di lingkungan, bertetangga, tempat kerja dan di mana saja kita berada.

Bacaan pertama, Kitab Nabi Yesaya, memberikan kepada kita cara menjadi garam dan terang dunia, yaitu dengan peduli akan orang lapar, miskin dan yang membutuhkan pertolongan.

Ditegaskan bahwa dengan berbuat demikian, terang di dalam dirinya dan garam dalam dirinya memberikan penyedap kepada orang lain dan bukan untuk membuat hal-hal yang menyulitkan banyak orang.

BACA JUGA:  TNI AL Akan Maksimalkan Bakti Kesehatan di Pulau Terjauh

“Kita tidak punya uang, kita makan bakso punya orang kemudian tidak bayar bagaimana ceritanya; kalau tidak punya uang jangan makan bakso,”Kata Romo Ancis. Aneh juga, kalau minum punya duit tapi giliran makan bakso tidak bayar. Hidup sebagai orang benar harus menjadi garam dan terang bagi sesama bukan menciptakan kebenaran,ā€¯ungkapnya.

Romo Ancis kemudian menceritakan perjuangan sekelompok Ibu-ibu di Kota Tual bergabung dan melakukan aksi turun ke jalan menyuarakan persatuan dan perdamaian. Perjuangan ini dilihatnya sebagai sebuah perjuangan untuk hidup bersama yang harmonis.

“Pentingnya saling menghargai, tidak ada seorangpun yang bertindak mempersingkat masa hidupnya di dunia ini, kurang lebih itu yang saya tangkap dan refleksikan dari perjuangan ibu-ibu di Kota Tual turun ke jalan memperjuangkan perdamaian,”ungkap Pastor Leonardus Ancis Bast dalam homilinya itu.

BACA JUGA:  Stok Pangan Tersedia Jelang Ramadhan di Kota Ambon

Pater ini juga berkotbah seraya mengutip pesan moral yang dikemukakan Prof Dr Magnis Suseno ketika diminta pengadilan sebagai saksi ahli dalam kasus Ferdy Sambo Cs.

Magnis Suseno kata Pastor Ancis, adalah seorang pakar dan Ilmuan pada bidang Filsafat. Tetapi ketika pengadilan meminta penjelasannya bahwa bahasa sederhana yang dikemukakan adalah; “Supaya semua masyarakat dimanapun berada, menghargai nafas hidup orang lain, “tandas Ancis seraya menambahkan pesan moral yang ia kemukakan menyikapi kondisi bentrok antara kelompol Banda Eli dan kelompok pemuda Yarlear di Kota Tual, Selasa (31/01/2023) malam.

Prof Dr Magnis Suseno adalah seorang gembala Jesuit pakar dan ahli Filsafat.

Romo Leonardus Ancis Bast diakhir homilinya menekankan betapa penting hidup yang aman dan damai, persaudaraan sejati dalam lingkungan kita menjadi garam dan terang bagi sesama. (L05)