AMBON, LaskarMaluku.com – Walikota Ambon Bodewin Wattimena kembali menyoroti peredaran minuman keras (miras), khususnya sopi, di Kota Ambon. Bodewin ingin peredarannya dikendalikan agar tidak mudah dibeli masyarakat.
Bodewin mengatakan pemerintah harus memikirkan cara melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari dampak konsumsi miras.
“Walikota berpikir untuk melindungi rakyatnya. Hari ini masalah kita adalah masalah miras. Saya bicara ini berdasarkan data dari Polres,” kata Bodewin
Menurut Bodewin, jika pemerintah dan masyarakat benar-benar peduli terhadap generasi muda, maka sopi tidak boleh dibiarkan beredar bebas.
“Kalau kita sayang warga Kota Ambon, kita punya generasi muda kota ini, mari kita bikin supaya sopi ini susah untuk orang beli. Mari kita bikin supaya orang tidak dapat sopi ini di mana-mana. Mesti dikendalikan,” ujarnya.
Bodewin kemudian mengusulkan agar peredaran minuman beralkohol diatur melalui jalur resmi. Dengan begitu, pemerintah dan aparat dinilai akan lebih mudah melakukan pengawasan.
“Kalau minuman beralkohol yang sudah resmi, maka mengendalikan dan mengawasi itu mudah. Tidak boleh dijual di toko-toko tertentu, hanya jual di agen-agen resmi. Kalau ada yang melanggar, mudah ditindak,” katanya.
Dia menilai pengaturan tersebut juga akan membuat minuman beralkohol tidak mudah dijangkau semua orang.
“Hari ini Rp20 ribu orang bisa mabuk. Tapi kalau sudah diatur, dia mesti butuh uang banyak untuk mabuk. Artinya apa? Kita melindungi supaya tidak semua orang sekarang mabuk-mabuk di mana-mana,” kata Bodewin kepada wartawan di Kantor DPRD Kota Ambon Rabu (23/9)
Bodewin mengaku khawatir kebiasaan mengonsumsi miras dapat berdampak terhadap masa depan generasi muda Kota Ambon.
“Kita sementara menggadaikan generasi muda Kota Ambon. Yang nanti mestinya besar jadi polisi, seng jadi polisi lai. Yang mestinya jadi tentara, seng bisa lai karena kebiasaan buruk, tidak jadi orang yang baik,” ujarnya.
Menurutnya, jika persoalan tersebut tidak segera dikendalikan, dampaknya akan kembali dirasakan Kota Ambon.
“Siapa yang rugi? Kota ini besok-besok rugi,” katanya.
Karena itu, Bodewin menilai pemerintah harus mencari langkah agar peredaran sopi tidak lagi berlangsung secara bebas.
“Apa yang bisa kita lakukan? Ya paling tidak mengendalikan dia supaya dia tidak lagi bebas. Itu masalah kita hari ini,” tegasnya.
Bodewin juga menyinggung penindakan terhadap peredaran sopi yang selama ini dilakukan aparat. Dia mengatakan sopi kerap dimusnahkan dalam jumlah besar, tetapi peredarannya tetap muncul.
“Sopi ini bagaimana? Kepolisian ini setiap waktu memusnahkan lima ton, akhirnya tidak terkendali,” ujarnya.
Bodewin mengaku telah mendiskusikan persoalan tersebut dengan sejumlah tokoh Islam dalam pertemuan di Hotel Santika Ambon. Menurutnya, para tokoh tersebut memahami pentingnya pengendalian dan pengawasan terhadap konsumsi minuman beralkohol.
“Kita butuh pengendalian dan pengawasan terhadap minum beralkohol,” katanya.
Bodewin menegaskan, gagasan pengendalian sopi merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala daerah.
“Semestinya ada pikiran-pikiran yang bisa lebih baik lagi memastikan perlindungan kita kepada generasi muda, generasi Kota Ambon,” ujarnya.
“Paling tidak ada upaya ke depan ini. Ini pikiran saya sebagai pemimpin daerah untuk bagaimana melindungi masyarakat. Saya harus peduli karena saya pemimpin kota,” pungkas Bodewin. (L06)







