AMBON, LaskarMaluku.com – Walikota Ambon Bodewin Wattimena mendorong pemanfaatan sains dan teknologi untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan perkotaan. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihannya, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Walikota saat menjadi pembicara dalam The 2nd International Conference Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura (Unpatti), di Hotel Santika Ambon, Jumat (16/10).

Dalam pemaparan bertema “Pembangunan Inklusif Berbasis Sains dan Teknologi”, Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan, mengurangi kesenjangan, dan menjaga keberlanjutan pembangunan.

“Kalau kita bicara peran sains dan teknologi untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, maka hal itu tidak boleh hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang kita gunakan,” kata Walikota

Dia menjelaskan, ilmu pengetahuan menyediakan landasan dan bukti dalam pengambilan kebijakan, sedangkan teknologi menjadi instrumen untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Karena itu, pemerintah harus memastikan perkembangan sains dan teknologi benar-benar menjawab kebutuhan warga, bukan sekadar mengikuti kemajuan zaman.

“Tujuan pemerintahan adalah memastikan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan minimal masyarakat dapat tercapai,” ujarnya.

Walikota menyebut pembangunan Kota Ambon menghadapi persoalan yang kompleks dan saling berkaitan. Mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transformasi digital, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan kelompok rentan dan persoalan lingkungan.

Di sektor ekonomi, keterbatasan sumber daya alam menuntut Ambon memperkuat kemandirian masyarakat dalam berusaha. Pelaku UMKM juga perlu beradaptasi dengan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Sementara di sektor sosial, pemerintah harus memastikan pemerataan akses pendidikan, peningkatan literasi dan numerasi, distribusi tenaga pendidik yang lebih merata, serta pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat.

“Di bidang kesehatan, kita harus memastikan pelayanan kesehatan terjangkau sampai ke seluruh wilayah,” katanya.

Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian, mulai dari pengelolaan sampah, kualitas air, degradasi lingkungan, perubahan iklim, kemacetan, banjir, hingga kebutuhan infrastruktur perkotaan.

Menurutnya, berbagai tantangan tersebut membutuhkan pendekatan berbasis penelitian, inovasi, dan teknologi yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan Kota Ambon.

Dalam kesempatan itu, Ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi tidak bisa dilakukan secara seragam di semua daerah. Kondisi geografis, kebutuhan, kesiapan, dan kemampuan daerah harus menjadi pertimbangan utama.

Dia mencontohkan tuntutan masyarakat agar pemerintah menggunakan pesawat untuk membantu menangani kabut asap akibat kebakaran di Ambon. Menurutnya, teknologi yang telah digunakan di daerah lain belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di Ambon.

Hal serupa berlaku terhadap harapan masyarakat mengenai rekayasa cuaca untuk mendatangkan hujan. Penerapan teknologi tersebut membutuhkan pertimbangan ilmiah dan kondisi tertentu.

Karena itu, Walikota menekankan pentingnya memahami kemampuan teknologi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan daerah.

Menurutnya, sains dan teknologi harus tetap berorientasi pada manusia, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Perkembangan sains dan teknologi mesti berjalan seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia itu sendiri,” ujarnya.

Dirinya menegaskan, pemerintah tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.

Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi untuk membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat.

Dia berharap hasil penelitian dan inovasi akademik tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Tidak ada satu pihak pun yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan ini sendiri. Kita membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi,” tegasnya.

Walikota menambahkan, pembangunan Kota Ambon selama lima tahun kepemimpinannya diarahkan pada visi Ambon Manise yang Inklusif, Toleran, dan Berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan inklusif berarti memastikan seluruh lapisan masyarakat memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk memperoleh manfaat dari program pembangunan.

“Inklusif itu berarti memastikan semua masyarakat dapat mengakses pembangunan, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh intervensi pembangunan, dan menikmati hasil-hasilnya,” pungkasnya.

Dia berharap penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, disertai pemanfaatan sains serta teknologi yang tepat sasaran, dapat mendorong pembangunan Ambon yang lebih efektif, berkelanjutan, dan merata. (L06)