Share
Gubernur Maluku Said Assagaff (pic – google)
LASKAR AMBON – Gubernur Maluku Said Assagaff menegaskan menghadapi era kompetisi global abad 21, maka anak-anak perlu diasah kemampuan, karakter, literasi serta kompotensi.

“UNESCO telah menggalakan empat pilar pendidikan yakni belajar mengetahui, melakukan, belajar untuk hidup bersama,” kata Gubernur Said pada puncak Bulan Pendidikan, di Ambon, pekan kemarin.

Assagaff mengungkapkan banyak terobosan yang sudah dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku dalam rangka memacu dan meningkatkan kualitas pendidikan, diantaranya melalui gerakan mewujudkan Maluku cerdas, membuat peta pendidikan, Gerakan Maluku Gemar Membaca (GMGM) serta afermasi guru Strata satu (S1).
Begitu juga pemberian beasiswa program S1, S2 dan S3, peningkatan keterampilan berbahasa asing, pembuatan Website Pendidikan, deklarasi bersama generasi muda Maluku taat hukum dan berintegritas, dengan tagline
“Katong Jujur Maluku Makmur” dalam rangka mewujudkan zona integritas ekosistem pendidikan. Pemprov juga memprogramkan beasiswa khusus guna menjawab kebutuhan Migas Blok Masela dengan jenjang pendidikan meliputi bidang geologi, perminyakan, transportasi, kelautan, perikanan, dan pariwisata,” katanya.
Dia mengakui kualitas pendidikan di daerah ini masih kalah bersaing dengan daerah lainnya di tanah air, karena masih berada di level bawah terutama kompetensi guru, di mana dari 32.961 guru hanya 12.435 orang yang telah berkualifikasi sebagai guru profesional.
“Salah satu penyebab fundamental keterpurukan kualitas SDM di maluku karena adanya disparitas pendidikan sangat tinggi antara wilayah Barat, Tengah dan Timur Indonesia, serta wilayah kontinental dan kepulauan,” ujarnya.
Realitas sejarah pembangunan di Indonesia, menunjukan kebijakan pembangunan terlalu dominan bertumpu di wilayah Barat, serta paradigma pembangunan berorientasi kontinental dan mengabaikan kebhinekaan Indonesia, telah berakibat munculnya disparitas yang sangat tajam.
“Efek dari permasalahan fundamental tersebut antara lain, anggaran pembangunan tidak seimbang dengan tingkat kesulitan aksesibilitas dan konektivitas di wilayah kepulauan seperti di Maluku,” kata Assagaff.
Menurut Said, pembiayaan lebih didasarkan perhitungan jumlah penduduk tanpa mempertimbangkan krakteristik geografis, sehingga berdampak tidak meratanya penyebaran guru. Kebanyakan guru lebih memilih ditempatkan di ibu kota kabupaten/kota, atau wilayah yang mudah aksesibilitas dan konektivitas.

BACA JUGA:  Walikota Ambon Jadi Pembicara di Kementerian LHK

Karena itu, Gubernur Said mengajak semua komponen di Maluku untuk memanfaatkan momentum Bulan Pendidikan untuk bersinergi dan memajukan di dunia pendidikan, belajar menjadi guru atau pendidik yang inspiraif dan bukan menjadi materialistik.

Kemajuan dunia pendidikan di maluku, akan berdampak besar terhadap kesiapan masyarakat mengahadapi era kompetisi global diantaranya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Jika kita tidak menyiapkan kualitas SDM memadai, maka pasti akan tergilas dan tidak dihitung, atau orang Ambon menyebutnya “tidak rekeng”. Kita hanya menjadi kelompok yang tidak bernilai tawar, tidak percaya diri, tidak punya tujuan hidup dan masa depan kita,” pungkasnya. (LL)