Share
LASKAR – Balai Arkeologi Maluku melakukan evaluasi hasil penelitian yang dilakukan lima peneliti di tahun 2019.

Kepala Balai Arkeologi Maluku Bambang Sugiyanto, Rabu mengatakan tahun 2019 fokus pada 11 penelitian yang dilakukan lima peneliti dengan tiga tema besar yakni kemaritiman, kebhinekaan dan daerah terluar.

Tahapan penelitian masih banyak observasi, survei dan data awal yang akan dilanjutkan di tahun 2020.

Penelitian ini akan dilanjutkan di tahun 2020 dengan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dalam hal ini pengambil kebijakan tertinggi di daerah yakni Gubernur, Bupati atau Wali Kota,” katanya.

Bambang mengakui, kerja sama dilakukan dengan pemerintah daerah agar seluruh potensu arkeologi di Maluku dan Maluku Utara dapat dimanfaatkan masyarakat, akademisi maupun pemda sebagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebudayaan.

BACA JUGA:  Klinik Mata Utama Maluku Berbagi Kasih Dengan Anak Yatim
Selama ini kerjasama dilakukan dengan pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai mitra kerja di lapangan, tetapi belum menyentuh langsung ke pengambil kebijakan di daerah.

“Seluruh potensi arkeologi di Maluku dan Malut mulai saat ini harus dibicarakan bersama dengan pemda, karena hasilnya harus segera dimanfaatkan dalam pengembangan kebudayaan,” katanya.
Hasil penelitian lanjutnya, harus segera dilestarikan, karena jika tidak dikembangkan akan rusak bahkan musnah.

“Penelitian yang dilakukan merupakan bagian pelayanan , karena itu pemerintah daerah berhak menentukan kebijakan dan hal tersebut menjadi nilai dalam kebijakan, bahwa kita sudah berhasil menyampaikan satu rekomendasi tergantung kepala daerah mau menindaklanjuti atau tidak,” tandasnya.

Disinggung terkait lokasi penelitian di tahun 2020, Bambang menyatakan, akan dilanjutkan di lokasi yang lama yakni Pulau Ambon,Seram, Maluku Barat Daya, Kepulauan Tanimbar provinsi Maluku.
Sedangkan di provinsi Maluku Utara yakni Halmahera dan Morotai.

BACA JUGA:  Sambil Makan Embal, Sandiaga Uno Kaget Pasir di Pantai Ngurbloat Sehalus Bedak
Bambang menambahkan, lima peneliti akan menuntaskan penelitian sehingga lokasi tersebut kedepan akan menjadi pusat studi kebudayaan atau cagar budaya.

“Jika bisa dikembangkan menjadi tempat wisata atau pusat informasi kebudayaan,” ujarnya. (L02)