AMBON, LaskarMaluku.com – Tanggal 22 Desember 2027 mendatang, Keuskupan Amboina akan merayakan HUT 125 Tahun, dan Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra telah menetapkan Puncak Perayaan Yubileum 125 Tahun untuk tingkat Keuskupan Amboina akan dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2028 di lokasi Taman Para Martir di Desa Langgur, Kevikepan Kei Kecil sekaligus memperingati peristiwa kemartiran Mgr. Arnoldus Johannes Hubertus Aerts, MSC dkk.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Pengarah HUT 125 tahun Keuskupan Amboina, RD Antonius Aleks Lesomar dalam pengantar rapat panitia, yang dilaksanakan di lantai 2 rumah Keuskupan Amboina di Jalan Pattimura Ambon, Kamis (7/5/2026) sore.

Pastor Aleks menjelaskan, dalam kaitan dengan HUT 125 tahun Keuskupan Amboina maka nantinya pada tahun 2026 panitia akan fokus pada penggemaan yubileum keuskupan melalui sosialisasi dan perlombaan/pertandingan.

Sementara Tahun 2027, fokus pengembangan iman (katekese umat, doa, rekoleksi) dan perayaan HUT 125 tahun pada 22 Desember 2027, sedangkan Tahun 2028 pada 30 Juli 2028, merupakan Perayaan Puncak Yubileum 125 Keuskupan Amboina untuk tingkat Keuskupan, bertempat di lokasi Taman Para Martir di Langgur sekaligus peringatan kemartiran Mgr. Arnoldus Johannes Hubertus Aerts, MSC.

Menurutnya, sejak tahun 2025 telah ditetapkan tema yang memayungi pelaksanaan dua tahun yubileum yakni tahun yubileum biasa 2025 dan yubileum Keuskupan Amboina ke-125. Maka tema yang harus melebur dan mewarnai semua agenda kegiatan yang dilaksanakan adalah : Gereja Keuskupan Amboina Berziarah dalam Pengharapan Menuju Gereja Mandiri.

“Oleh sebab itu, rapat saat ini kami mengharapkan masing-masing seksi bisa melaporkan program kerja serta rincian anggaran untuk dirampungkan guna mensukseskan perayaan HUT 125 tahun Keukupan Amboina,”harap Pastor Aleks.

Pada kesempatan itu juga, Ketua Panitia Pelaksana, RD. Agustinus Arbol, menjelaskan, secara historis wilayah Keuskupan Amboina secara resmi didirikan sebagai Prefektur Apostolik Nugini Belanda (Prefektur Apostolik Nouva Guinea Olandese) pada 22 Desember 1902. Maka sejak itu tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Keuskupan Amboina.

“Dalam rangka memperingati HUT 125 Keuskupan Amboina, Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra mengajak segenap umat Katolik di setiap Kevikepan untuk berpartisipasi dalam pelbagai kegiatan perayaan Yubileum Ke 125 Tahun Keuskupan Amboina. Dan Perayaan Yubileum 125 Tahun untuk tingkat Keuskupan Amboina akan dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2028 di lokasi Taman Para Martir di Desa Langgur, Kevikepan Kei Kecil sekaligus memperingati peristiwa kemartiran Mgr. Arnoldus Johannes Hubertus Aerts, MSC dkk,”jelas Pastor Arbol.

Dikatakan, momentum perayaan Yubileum Keuskupan Amboina ke 125 adalah kesempatan yang baik bagi Uskup, para Imam, Biarawan-biarawati serta seluruh umat untuk merefleksikan keberadaan dan karya Gereja di Keuskupan Amboina, yang wilayahnya terbentang dari Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara sampai ke wilayah Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

“Berbagai agenda kegiatan akan dilaksanakan dalam rangka momentum yubileum keuskupan ini dengan tetap berjalan dalam terang visi Keuskupan Amboina: Menuju Keuskupan Amboina yang Mandiri, serta Misinya: Terwujudnya Gereja Keuskupan Amboina yang Mandiri Di Tahun 2043,”jelas Pastor Arbol seraya menambahkan, catatan penting yang harus tetap diingat pertama-tama adalah tahun suci ini bukan semata-mata diisi dengan kegiatan-kegiatan seremonial, tetapi lebih dari itu harus ada upaya menghadirkan kesucian hidup bagi seluruh umat Keuskupan Amboina melalui refleksi, tobat, doa, pelayanan dan amal kasih.

Dalam rapat panitia, nampak masing-masing seksi melaporkan program dan kegiatan serta kebutuhan anggaran. Lomba logo dan mascot HUT 125 tahun Keuskupan Amboina, serta lomba cipta lagu Mars dan Hymne Keuskupan Amboina, merupakan program prioritas yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Selain itu juga panitia akan menghasilkan buku yang mengulas tentang peran Gereja Keuskupan Amboina di berbagai bidang dan di Kevikepan-Kevikepan.

Wakil Ketua Panitia, Bapak Edy Tasso, menyarankan agar dilakukan validasi sebelum buku tersebut dicetak. “Hal ini penting dilakukan guna menghindari complain dari pembaca, dan apakah sumber informasi dan literatur tercaya atau hanya sekedar asumsi. Ini yang harus diperhatikan,”harapnya.

Rapat panitia berjalan dengan lancar, dan ini merupakan langkah awal yang krusial untuk memastikan seluruh persiapan acara dapat diselesaikan dengan efektif dan terorganisir. Rapat diakhiri dengan doa dan foto bersama. (L02)