Penulis : Zefnat Christian Sahetapy
Dengar dan simak pernyataan Pak JK baik- baik . Saya tidak mau membela atau menyalahkan siapa- siapa sebagai pengendali pesan atau penjaga gawang, atau mereka- reka narasi orang lain yang dipublis.
Setelah ikuti berbagai publikasi dari berbagai media tentang narasi Pak JK dan tanggapan terhadap pernyataan itu, maka sangat penting membedah secara kritik teks dan konteks perubahan sikap dalam ilmu komunikasi.
Ketika dengan secara saksama memahami berkali – kali narasi Pak JK dan behavior Pak JK akhir-akhir ini dengan teks- teks yang disampaikan beliau, maka perlu melebar lensa pembesar untuk memperlihatkan fitur-fitur aspek behavior beliau yang menimbulkan teks antar teks terhadap masalah Poso dan Ambon.
Ada yang terputus-putus dalam teks yang dikomunikasikan kepada audience yang sebetulnya dibalik itu terdapat konteks yang lebih besar lokal, nasional, regional, Global.
Diwilayah abu-abu inilah hanya konteks nasional yang ditampilkan dan diarahkan kekonflik beberapa daerah, Poso termasuk juga Maluku.
Kenapa beliau angkat masalah tersebut, karena teks-teks yang harus ditampilkan secara regional yang sementara terjadi, tetapi area Nasional Poso dan Maluku dijadikan konteks, sementara area regional disembunyikan katakan saja Timur Tengah.
Kita tau persis konflik Maluku itu akibat dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang disusun rapi dalam strategi komunikator dan provokator untuk provokasi rakyat Maluku agar konflik diperlebar dan diduga Pak JK tahu itu.
Dari hasil Penelitian saya tahun 2004 sekaligus berjuang untuk perdamaian sebagai saksi mata, saksi sejarah terhadap konflik ditemukan berbagai issu dikembangkan untuk memicu konflik tetapi kurang berhasil.
Untuk itu issu terakhir untuk melebarkan konteks konflik itu adalah isu agama yang cocok dan sensitif dimainkan mastermind, bukan rakyat Maluku. Rakyat Maluku dijadikan tumbal, kambing yang hitam-hitaman yang bisa diberikan lebel IQNORANCE (aktor tanpa tau diri) bukan rakyat mencari legitimasi dan atau pergunakan agama untuk konflik, tapi agama dipicu untuk melebar konflik yang bisa disaksikan secara riil.
Bila lensa pembesar diperlebar melalui behavior komunikasi maka rekam jejak Pak JK dalam komunikasi politik digolongkan dalam ilmu Komunikasi yang diduga sebagai PENJAGA GAWANG.
Beliau masuk dengan teks-teks narasi perdamaian yang sudah dirancang masuk ke Perjanjian Malino dengan 11 butir pada 12 Pebruari 2002, dengan perjanjian itu rakyat dilegitimasi sebagai penyebab konflik agama dan tokoh-tokoh Maluku yang tidak mewakili rakyat tanda tangan perjanjian. Namanya Politik Gelang karet yang meremas.
Disudut pandang komunikasi kompetensi Perjanjian Malino adalah jerat tapi juga media publikasi lompat pagar. Artinya mereka menggeser issu konflik politik menjadi issu konflik agama.
Untuk itu dikonteks konflik Poso dan Ambon, ruang yang diterobos membenarkan kesalahan agama.
Dengan demikian pembentukan opini Beliau memasuki zona comparasi teks dan konteks konflik untuk melegitimasi kesalahan yang dibuat rakyat Poso dan Maluku yaitu konflik agama. Sementara tidak ada perang agama, tapi konflik politik Nasional untuk melemahkan kultur dan memecahkan sesama anak Maluku.
Destinasinya pesan Pak JK ke doktrin Islam dan Kristen sama membunuh atas nama agama. Pola Komunikasi Kompetensi tersebut melemparkan issu kewilayah agama untuk membebani rakyat Poso dan Ambon/ Maluku.
Pesan yang digeser kewilayah agama ini disampaikan di forum akademis UGM sebagai media pembelajaran dan pembentukan opini yang dipublikasi tanpa menjelaskan latar belakang konflik Poso, Ambon yang dimulai dari Jakarta sampai masuk di Poso dan Ambon.
Teks-teks dari fitur-fitur di lensa yang bila diperlebar, tapi itu dihilangkan dan fokus hanya konteks Poso dan Ambon. Yang di jelaskan Pak JK sebagai komunikator yang di transmisikan kepada audiens telah menciptakan berbagai chanel baru untuk dipublikasi yang sekarang viral diberbagai media. Unsur pesan dengan destinasinya terletak pada inti Pesan dengan mengatakan Islam Kristen sama – sama memiliki makna pesan bila “membunuh” atas nama adalah ” Syahid”.
Dua kutub Doktrin PESAN komunikasi yang berbeda, telah berproduksi melalui Chanel forum ilmiah yang menerima narasi itu sangat berpengaruh / berdampak , tetapi juga terdapat unsur provokasi kedua agama, karena doktrin agama masing masing berbeda maknanya. Terjadi Noise tetapi juga Ambiquitas atau pertentangan atau penilaian yang bertentangan.
Akhirnya teraplikasi di komunikasi masa kepada khalayak. Apakah Pak JK tidak mengerti bahasa komunikasi yang mengandung teks- teks yang disampaikan itu bertujuan dapat menimbulkan efek komunikasi atau dampak yang besar antar dua agama yang saling bertentangan doktrinnya ?
Namun Pak JK diduga sengaja melemparkan issu Poso dan Ambon untuk memperlihatkan jati diri dan integritas diri sebagai juru Damai yang ingin melegitimasi Konflik Poso dan Ambon demi menutupi skenario Politik penghancuran Poso dan Ambon.
Demikian analisis dari segi Manajemen Ilmu komunikasi dengan berbagai literatur yang ada termasuk Buku : Teori Komunikasi Sejarah, metode dan terapan didalam media masa oleh : Werner J. Severin- James W. Tankard, Jr edisi ke 5, dan Theorie of Human Communication oleh Stephen W.Littlejohn dan Karen A.Foss Edisi 9. (*)




