AMBON, LaskarMaluku.com – Festival Marawai 2026 di Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga momentum untuk menggerakkan potensi anak negeri sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Hatalai kepada masyarakat luas.

Ketua Panitia Festival Marawai 2026, Jonathan Kainama, mengatakan kegiatan bertajuk “Festival Marawai, Harmoni Cinta dan Nada untuk Negeri” merupakan salah satu agenda panitia dalam mendukung pelaksanaan Sidang Klasis GPM Pulau Ambon Timur ke-15 Tahun 2027.

Kainama menjelaskan, panitia Festival Marawai pada dasarnya merupakan panitia Sidang Klasis GPM Pulau Ambon Timur ke-15. Karena itu, berbagai kegiatan dirancang untuk mendukung suksesnya pelaksanaan agenda tersebut, termasuk dari sisi pembiayaan.

“Festival Marawai, Harmoni Cinta dan Nada untuk Negeri adalah salah satu kegiatan utama panitia untuk mendapatkan dukungan dana bagi pelaksanaan Sidang Klasis nanti,” kata Kainama dalam laporannya.

Meski demikian, ia menegaskan tujuan Festival Marawai tidak semata-mata berkaitan dengan penggalangan dukungan finansial. Lebih dari itu, panitia ingin menjadikan festival sebagai momentum untuk menggerakkan dan mengonsolidasikan seluruh potensi anak Negeri Hatalai.

Menurut Kainama, potensi tersebut penting disatukan untuk kepentingan negeri, jemaat, maupun masa depan generasi muda Hatalai.

Kainama mengatakan Negeri Hatalai memiliki kekayaan seni, budaya dan kuliner yang selama ini menjadi ciri khas negeri tersebut.

Namun, kekayaan tersebut dinilai belum banyak diketahui masyarakat di luar Hatalai. Karena itu, Festival Marawai diharapkan menjadi sarana promosi sekaligus memperkenalkan Hatalai sebagai salah satu negeri adat di Jasirah Leitimur Selatan yang memiliki kekayaan budaya dan layak dikunjungi.

“Harus dikunjungi, perlu untuk dinikmati tari-tariannya, perlu untuk didengar seluruh musik dan lagunya yang merdu dan menghibur, serta harus dicicipi berbagai kuliner yang enak dan rasanya,” ujarnya.

Ia menegaskan seni dan budaya merupakan jati diri sekaligus identitas suatu daerah yang patut dibanggakan.

“Festival Marawai adalah kebanggaan kami memperkenalkan apa yang kami miliki kepada orang lain,” katanya.

Lebih lanjut Kainama menjelaskan, nama Festival Marawai diambil dari Puncak Marawai, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis bagi Negeri Hatalai.

Menurutnya, kawasan tersebut berkaitan dengan sejarah awal peradaban Negeri Hatalai. Karena itu, nama Marawai dipilih untuk merepresentasikan identitas dan perjalanan sejarah negeri.

Festival tersebut akan diisi berbagai tarian dan musik tradisional. Selain itu, pada sore hingga malam hari, masyarakat akan dihibur sejumlah artis lokal.

Salah satu sajian yang menjadi perhatian khusus adalah tarian Cakaiba,tarian tradisional yang disebut sudah hampir 40 tahun tidak dipentaskan di Negeri Hatalai.

Kainama mengatakan tarian tersebut akan kembali diperkenalkan sebagai sajian utama dalam Festival Marawai.

“Kami akan memperkenalkan satu tarian yang sudah hampir 40 tahun tidak dipentaskan di negeri ini. Tarian ini adalah tarian Cakaiba akan menjadi sajian utama yang kami perkenalkan kepada Bapak-Ibu dan saudara-saudara sekalian,” ungkapnya.

Kainama menyampaikan empat harapan dari pelaksanaan Festival Marawai.Pertama, festival tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya semangat untuk melestarikan seni dan budaya serta dapat dilaksanakan secara rutin.

Kedua, kegiatan ini diharapkan mampu mempersatukan seluruh potensi anak negeri untuk mengembangkan diri dan membangun Negeri Hatalai.

Ketiga, Festival Marawai diharapkan menjadi bagian dari kekayaan khasanah seni dan budaya Maluku serta Kota Ambon.

Keempat, dari sisi finansial, kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu menopang pelaksanaan Sidang Klasis GPM Pulau Ambon Timur ke-15 Tahun 2027.

“Kami percaya harapan-harapan ini akan dapat kami wujudkan,” tegasnya.

Kainama juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dan sponsor terhadap pelaksanaan Festival Marawai. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, para pejabat, tamu undangan serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Walikota Ambon Bodewiin Wattimena saat memberikan sambutan

 

Sementara itu, Walikota Ambon Bodewin Wattimena dalam sambutannya mengatakan Pemkot Ambon terus mendorong seluruh negeri untuk kembali menghidupkan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang diwariskan para leluhur.

“Pemerintah Kota Ambon terus mendorong semua negeri-negeri di Kota Ambon untuk kembali menghidupkan berbagai nilai-nilai budaya, adat istiadat, warisan yang telah diberikan oleh para leluhur kita,” kata Wattimena.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui narasi maupun literasi. Harus ada kegiatan nyata dan atraksi budaya agar generasi muda dapat melihat, memahami dan mengenal langsung warisan leluhur.

Karena itu, Wattimena mendorong negeri-negeri dan desa untuk menghidupkan kembali kegiatan Panas Pela dan Panas Gandong.

“Nilai-nilai sejarah, warisan pela, gandong itu tidak sekadar dinarasikan, tidak sekadar kita membangun literasi. Tetapi yang terpenting ada atraksi yang mesti kita bikin supaya anak-anak kita hari ini, anak-anak muda tahu dan mengerti,” ujarnya.

Ia juga mendorong pembentukan sanggar-sanggar budaya di setiap desa, negeri dan kelurahan. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya warisan leluhur.

Selain itu, Wattimena menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Gubernur Maluku dan seluruh jajaran, yang terus mendukung pembangunan di Kota Ambon.

Ia berharap dukungan dan sinergi tersebut terus berjalan di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah.

Wattimena juga mengajak seluruh kepala pemerintahan negeri dan para raja untuk terus membangun kebersamaan di masing-masing negeri.

“Terus bangun kebersamaan di negeri. Semua raja-raja, bangun kebersamaan di semua negeri di Kota Ambon. Mari dari negeri-negeri kita bangun supaya kita bisa memperbaiki Kota Ambon yang kita cintai,” tandasnya.

Wattimena kemudian menyampaikan selamat kepada panitia dan seluruh masyarakat Negeri Hatalai atas terselenggaranya Festival Marawai.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa pelestarian adat, seni dan budaya merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. (L06)