AMBON, LaskarMaluku.com – Seorang mahasiswa asal pedalaman Pegunungan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat hendak menyampaikan pesan dan surat dari Kepala Tanah Manusela kepada Gubernur Maluku.

Peristiwa tersebut terjadi di sela-sela rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Ambon, Senin (17/8).

Mahasiswa tersebut datang membawa surat yang disebut berisi pesan dan aspirasi masyarakat dari wilayah pedalaman Pulau Seram. Ia bermaksud menitipkan surat tersebut kepada Gubernur Maluku sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat dari Pegunungan Seram Utara.

LaskarMaluku

Namun, upaya tersebut diduga dihalangi oleh pengawal pribadi Gubernur Maluku yang berada di lokasi.

Menurut pengakuan mahasiswa tersebut, pengawal pribadi Gubernur sempat menahan, memarahi, hingga mendorong dirinya ketika hendak menyerahkan surat.

Pengawal pribadi itu mengatakan“Jangan kasih sekarang, nanti di kantor saja. Jangan sekarang, bodoh ee.”

Tidak hanya itu, pengawal pribadi Gubernur tersebut juga diduga berupaya mengambil secara paksa surat yang sedang dipegang mahasiswa asal Seram Utara itu.

Mahasiswa tersebut mengaku mendapat perkataan yang dianggap merendahkan, termasuk kata “bodoh” dan “monyet.”

Mendapat perlakuan tersebut, mahasiswa itu kemudian menegaskan kepada pengawal pribadi Gubernur bahwa dirinya datang dengan maksud baik untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

“Pak, beta manusia, bukan monyet,” ujar mahasiswa tersebut.

Pengawal pribadi itu kemudian diduga meminta mahasiswa tersebut untuk menghargai orang.

Mahasiswa itu menjawab bahwa dirinya tetap menghargai, namun kedatangannya hanya untuk menyerahkan surat yang dibawanya.

“Saya hargai, Pak. Saya hanya ingin kasih surat ini saja,” jawabnya.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi sorotan karena mahasiswa yang bersangkutan mengaku datang bukan untuk melakukan aksi kekerasan maupun membuat keributan. Ia hanya membawa pesan dari masyarakat pedalaman Pulau Seram untuk disampaikan kepada pemerintah daerah.

Surat yang dibawa mahasiswa tersebut disebut berasal dari Kepala Tanah Manusela dan merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat dari wilayah Pegunungan Seram Utara.

Peristiwa ini juga memunculkan perhatian terhadap cara aparat pengamanan pejabat daerah dalam menghadapi masyarakat yang hendak menyampaikan aspirasi secara langsung.

Meski demikian, seluruh dugaan tindakan tersebut masih berdasarkan keterangan mahasiswa yang bersangkutan. Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pengawal pribadi Gubernur yang disebut terlibat maupun dari pihak Pemerintah Provinsi Maluku terkait kejadian tersebut.

Konfirmasi dari pihak terkait tetap diperlukan untuk memperoleh penjelasan berimbang mengenai kronologi kejadian, termasuk dugaan tindakan mendorong, upaya mengambil surat, serta perkataan yang disebut dilontarkan kepada mahasiswa tersebut. (L06)