Share

LASKAR –  Sungai memiliki peran yang sangat penting, selain sebagai penyuplai air, juga dapat mengurangi resiko banjir, jangan dijadikan tempat pembuangan sampah oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy saat memimpin Apel Aksi Gerakan Bersih Sungai Wae Batu Gajah, yang digelar di lapangan Korem 151 Binaiya, Jumat (9/11/2018)

Turut hadir dalam apel bersama Komandan Korem 151 Binaiya, Kolonel Inf. Hartono; Kapolres Pulau Ambon dan PP.Lease, AKBP Sutrisno Hadi Santoso; Komandan Kodim 1504/Ambon, Letkol Inf. Fendry N. Raminta;  Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler; Sekretaris Kota Ambon, A. G. Latuheru; masyarakat, aparatur pemerintah, TNI/Polri, komunitas peduli sungai, komunitas peduli lingkungan, sekolah-sekolah serta dunia usaha.

BACA JUGA:  DPRD Kota Ambon Dorong Indag dan Dishub Segera Tangung jawab Pembangunan Lapak dan Kios Diatas Trotoar

Lokasi sasaran sepanjang sungai mulai dari batu bulan, aer mata cina, pohon puleh dilanjutkan ke waihaong.

Gerakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan komunitas yang mampu mengelola dan mengurangi resiko bencana serta meningkatkan kualitas hidup, menciptakan jejaring atau komunikasi sebagai agen pengkaderisasi dalam memperkuat dan mengembangkan gerakan pengurangan resiko bencana.

Dalam arahannya, Walikota menyatakan, gerakan pengurangan resiko bencana adalah langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, membawa semangat kebersamaan, kesetiakawanan sosial, gotong royong yang baik. Sehingga menjadi nilai budaya dimasyarakat dalam pengelolaan resiko disetiap wilayah.

Dijelaskan, peran sungai sangat vital selain sebagai penyuplai air dan menanggulangi banjir, juga dapat mencegah kekeringan, memelihara kesehatan ekosistem, jalur hijau, dan pendidikan. Sehingga penting untuk mengembalikan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian sungai.

BACA JUGA:  Dinkes Kota Targetkan Eliminasi Penyakit Malaria di Bulan April 2022

“Gerakan pengurangan resiko bencana sungai merupakan sebuah proses pemberdayaan komunitas yang berfokus pada kegiatan partisipastif dalam melakukan kajian, perencanaan, pengorganisasian, serta aksi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, sebagai upaya untuk mewujudkan komunitas yang mampu mengelola lingkungan dan mengatasi resiko bencana serta meningkatkan kualitas hidup,” terang Walikota.

Komunitas ini diharapkan, saling berkomunikasi, dan memfasilitasi serta mendorong kelompok masyarakat dibagian hulu atau hilir untuk menggalang dan medeklarasikan diri serta bekerjasama dengan komunitas yang sudah ada dalam menjalankan aksi nyata yakni merestorasi sungai. (M1R)