Share
dr,Edwin Tomasoa

LASKAR – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar dr Edwin Tomasoa akhirnya angkat bicara meluruskan pernyataan Ketua Komisi B DPRD Kepulauan Tanimbar Apolonia Laratmase terkait kekosongan obat-obatan dan Bahan Habis Pakai (BHP) di RSUD P.P.Magretty, Saumlaki.

Kepada LASKAR, Jumat (23/10/2020), Tomasoa menjelaskan bahwa tidak terjadi kekosongan obat di rumah sakit seperti yang dikatakan Ketua Komisi B, hanya beberapa jenis obat tertentu yang habis, sehingga dokter spesialis memberikan resep untuk pasien agar membeli di apotik di luar rumah sakit.

“Kalau dikatakan kekosongan obat, berarti stok obat untuk semua jenis habis. Ini hanya beberapa jenis yang habis, misalnya anti biotik yang tersisa hanya 1 macam padahal anti biotic itu bisa 4-5 macam,”jelas Tomasoa.

BACA JUGA:  Walikota Ambon Lantik Kepala Pemerintahan Negeri Hukurila

 “Jadi kalau mengatakan semua obat habis itu memang tidak benar, tetapi kalau bilang bahwa ada obat-obat tertentu yang jumlahnya habis, itu betul dan memang kenyataannya seperti itu sehigga ada obat yang kemudian diresepkan ke luar,”tegas Tomasoa lagi.

Ditambahkan, obat-obatan yang sudah dibeli akan masuk hari ini dengan kapal dan secara internal diatur oleh SKPD teknis. “dinas juga tidak bisa lepas tangan begitu saja karena itu adalah salah satu instrument kesehatan, dan dinas sementara menutupi kekurangan-kekurangan yang dialami,”ungkapnya.

Dinas Kesehatan tahun ini, kata Tomasoa mengalami kesulitan dalam membeli obat-obatan melalui e-catalog dari para penyedia. Pasalnya, para penyedia menuntut untuk membayar utang pembelian obat-obatan pada tahun sebelumnya. 

BACA JUGA:  Tidak Benar Pemda KKT Ganti Nama Peserta Seleksi PEM Akamigas Cepu

“Nah ini juga salah satu faktor beberapa jenis obat mengalami kekosongan karena pemesanan tidak bisa melalui e-catalog. Kita mempunyai mekanisme lain yang bisa dipakai untuk menutupi kekurangan obat di RS salah satunya adalah memperbelanjakan dari sisi obat BPJS dan mereka bisa belanja langsung, dan akan masuk dengan kapal, sehingga diharapkan setidaknya untuk 1 bulan atau 2 bulan bahkan sampai akhir tahun stok obat tersedia,”papar Tomasoa. (L03)