AMBON, LaskarMaluku.com – Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo mulai membuka peluang kemitraan antardaerah melalui program sister city atau kota kembar. Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat sektor kebudayaan, pariwisata, pendidikan, hingga perdagangan dan ketahanan pangan.

Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena bersama Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita di Balai Kota Ambon, Kamis (29/10/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum bagi kedua daerah untuk mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan bersama, terutama karena Ambon dan Ponorogo memiliki kekuatan budaya serta agenda festival unggulan yang telah mendapat pengakuan nasional.

Kunjungan Lisdyarita ke Ambon juga berkaitan dengan keikutsertaannya dalam rangkaian Amboina International Music Festival (AIMF) 2026. Festival musik internasional yang berlangsung pada 30–31 Oktober tersebut menjadi ruang pertemuan budaya sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni dari berbagai daerah dan negara.

Dalam kesempatan itu, rombongan Ponorogo turut menyaksikan penampilan Reog Ponorogo yang dibawakan komunitas warga asal Ponorogo dan Trenggalek yang bermukim di Ambon.

Kedua kepala daerah melihat adanya kesamaan potensi yang dapat menjadi fondasi pengembangan kerja sama. Ponorogo dikenal dengan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP), sementara Ambon memiliki Amboina International Music Festival. Kedua festival tersebut masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Selain itu, Ambon dan Ponorogo sama-sama memiliki keterkaitan dengan UNESCO Creative Cities Network atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Lisdyarita menilai pengalaman Ambon dalam membangun ekosistem musik dan menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi Ponorogo dalam mengembangkan potensi kebudayaan daerah.

“Ekosistem musik di Kota Ambon sangat hidup dan menyatu dengan aktivitas masyarakat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus berupaya menjaga keberlangsungan seni Reog melalui regenerasi pelaku seni dan pengenalan kesenian tradisional tersebut di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, penguatan budaya harus dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda tetap mengenal dan memiliki kebanggaan terhadap warisan daerahnya.

Di sisi lain, Bodewin menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Ambon juga memberikan perhatian terhadap pendidikan seni sejak usia dini. Salah satunya melalui pembelajaran musik di sekolah, penyelenggaraan Festival Ukulele, serta penguatan peran Ambon Music Office (AMO).

“Sejak usia sekolah, anak-anak sudah dilatih bermain ukulele dan mengikuti festival ukulele,” jelas Bodewin.

Ia berharap pengalaman kedua daerah dalam mengembangkan seni dan budaya dapat dipertukarkan, sehingga masing-masing memiliki kesempatan memperluas promosi serta meningkatkan daya tarik pariwisata.

Kerja Sama Antardaerah Jadi Prioritas

Bodewin menyambut positif rencana membangun hubungan sister city dengan Ponorogo. Menurutnya, kemitraan antardaerah di dalam negeri memiliki peluang lebih besar untuk diwujudkan secara efektif karena lebih dekat dari sisi geografis dan relatif efisien dalam pembiayaan maupun mobilitas.

Ia berpandangan, kerja sama internasional memang penting, tetapi hubungan antarkota di Indonesia juga perlu diperluas agar potensi daerah dapat saling melengkapi.

Ambon sendiri telah memiliki pengalaman menjalin hubungan kota kembar dengan Pemerintah Kota Vlissingen, Belanda, sejak 1996. Kemitraan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pengelolaan persampahan, pariwisata, ekonomi, air bersih hingga ketenagakerjaan.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal dalam membangun pola kemitraan baru dengan Ponorogo.

Dalam pertemuan itu, Lisdyarita juga menyampaikan harapan agar warga Ponorogo yang telah lama merantau dan menetap di Ambon mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Saya titip warga saya untuk dijaga ya, Pak Wali Kota,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Bodewin menegaskan bahwa Ambon merupakan kota yang terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda.

Ia menyebut kerukunan dan nilai kebinekaan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ambon.

Ponorogo Siap Pasok Beras untuk Ambon

Tidak hanya membicarakan pengembangan kebudayaan, pertemuan kedua pemerintah daerah juga menghasilkan pembahasan awal mengenai peluang perdagangan, khususnya komoditas pangan.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyatakan memiliki potensi produksi beras yang surplus dan terbuka untuk menjalin kerja sama distribusi dengan daerah lain, termasuk Kota Ambon.

“Kita surplus beras. Jika Kota Ambon membutuhkan beras, kita siap distribusikan,” kata Lisdyarita.

Tawaran tersebut mendapat respons positif dari Bodewin. Menurutnya, kerja sama perdagangan dapat menjadi langkah strategis untuk menghubungkan potensi produksi daerah dengan kebutuhan masyarakat di wilayah lain.

Jika ditindaklanjuti, hubungan ekonomi Ambon dan Ponorogo tidak hanya berpeluang memperkuat pasokan pangan, tetapi juga membuka akses pasar bagi produk unggulan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kedua pemerintah daerah selanjutnya akan melakukan pemetaan potensi, menyusun program prioritas, serta memperkuat komunikasi ant organisasi perangkat daerah (OPD) guna merumuskan bentuk kerja sama yang lebih konkret.

Sejumlah peluang yang dapat dikembangkan antara lain pertukaran seniman dan pelajar, promosi destinasi wisata, pengenalan produk UMKM, penyelenggaraan kegiatan kebudayaan bersama, serta perdagangan komoditas unggulan.

Paguyuban Jatim Dorong Kerja Sama Konkret

Ketua Paguyuban Warga Jawa Timur Provinsi Maluku, Sugiyanto, menyambut baik pertemuan kedua kepala daerah tersebut. Ia menilai komunikasi antara Ambon dan Ponorogo dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan kerja sama sekaligus memperkuat hubungan masyarakat perantauan.

Menurutnya, hubungan antardaerah sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Sugiyanto menyebutkan, sekitar 30 ribu warga asal Jawa Timur saat ini menetap di Provinsi Maluku dan tersebar di 11 kabupaten/kota, termasuk masyarakat asal Ponorogo.

Keberadaan komunitas tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu jembatan dalam membangun komunikasi sosial, budaya, maupun ekonomi antara kedua daerah.

“Pertemuan ini memperluas konektivitas dan membuka ruang kolaborasi antara kedua daerah,” ujarnya.

Ia berharap peluang kerja sama yang telah dibicarakan dapat segera ditindaklanjuti melalui program yang terukur, terutama dalam memperluas pemasaran produk unggulan, meningkatkan perdagangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sugiyanto juga menilai kehadiran rombongan Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam Amboina International Music Festival 2026 memiliki nilai strategis. Selain memperkenalkan Reog Ponorogo kepada masyarakat Maluku, kunjungan tersebut sekaligus membuka ruang promosi potensi daerah.

“Dengan berbagai kesamaan dan peluang yang dimiliki, penjajakan sister city Ambon-Ponorogo diharapkan berkembang menjadi kemitraan yang produktif. Tidak hanya memperkuat hubungan budaya, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui perdagangan, pariwisata, pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kedua daerah,”tutup Sugiyanto. (L02)