AMBON, LaskarMaluku.com – Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan para peserta kegiatan SPOTLIGHT 1.0 LIGHT UP Academy sebagai bentuk motivasi dan inspirasi bagi generasi muda. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Vlissingen, Balai Kota Ambon, Sabtu (25/4).

Menurut Wattimena, pengalaman hidup yang penuh perjuangan dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak muda dalam menata masa depan. Ia menegaskan bahwa inspirasi sebaiknya dicari sejak usia muda, karena perjalanan generasi muda masih panjang dan penuh peluang.

“Kalau di usia kita baru mencari inspirasi, belum terlambat, tetapi sudah agak terlambat. Karena itu, adik-adik harus mulai dari sekarang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wattimena juga berbicara mengenai kepemimpinan.

Menurutnya, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang bagaimana seseorang mengelola karakter diri. Teori kepemimpinan memang banyak, namun dasar utamanya adalah manajemen diri.

“Manajemen itu penting, bagaimana kita mengatur dan menata diri dengan tahapan yang baik supaya tujuan yang ingin dicapai bisa diperoleh,” katanya.

Ia kemudian menceritakan latar belakang kehidupannya yang sederhana. Dirinya lahir dan besar di kawasan Siwang, ketika akses jalan menuju Ambon belum terbuka seperti sekarang. Saat itu, perjalanan menuju kota harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui medan sulit.

“Saya pergi sekolah berjalan dengan obor, karena berangkat dari subuh saat masih gelap. Sampai dekat sekolah baru obor dimatikan dan lanjut jalan lagi,” kenangnya.

Seragam sekolah bahkan harus dititipkan di dekat sekolah agar tetap rapi, sementara dari rumah ia berangkat dengan pakaian biasa. Setelah tiba di sekolah, ia mandi lalu berganti pakaian seragam.

Orang tuanya hanyalah petani dengan keterbatasan ekonomi. Bahkan untuk membeli susu pun tidak mampu, sehingga air bubur dicampur gula menjadi pengganti.

Namun, menurut Wattimena, kehidupan sulit itulah yang membentuk karakternya menjadi pribadi kuat dan tidak mudah menyerah.

Setelah pindah ke Passo, ibunya membuka usaha dan sempat mengalami kemajuan hingga memiliki tiga mobil pada tahun 1984. Namun, sebuah peristiwa membuat keluarga mereka bangkrut dan harus memulai lagi dari nol.

Dalam kondisi sulit itu, ia tetap berjuang untuk sekolah. Untuk membeli buku, ia harus mengumpulkan uang sendiri. Sejak kecil, ia berjualan pisang goreng di kawasan Batu Gong, membuat es untuk dijual, lalu setelah itu pergi ke sekolah.

“Kadang orang melihat saya jadi Wali Kota dan berpikir hidup saya dulu enak. Mereka tidak tahu bahwa saya dulu susah, makan bubur karena tidak ada uang,” ungkapnya.

Ia mengakui pernah gagal, namun tidak menyerah. Dengan tekad kuat, ia terus berusaha hingga akhirnya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), lalu dipercaya memimpin Kota Ambon sebagai Walikota.

Dari seluruh perjalanan hidupnya, ada satu pesan utama yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda: latar belakang bukanlah penentu masa depan.

“Bukan soal dari mana kita berasal, tapi bagaimana kegigihan kita memperjuangkan masa depan. Kadang kita minder dengan latar belakang sendiri, padahal itu tidak menentukan kegagalan kita,” tegasnya.

Wattimena juga membagikan moto hidup yang selalu dipegangnya, yakni tetap rendah hati dan berserah kepada Tuhan.

“Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan pada waktunya. Kita hanya bisa berusaha, tapi yang menentukan adalah Tuhan,” ujarnya.

Ia menutup pesannya dengan menekankan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh keluarga, lingkungan, serta ilmu pengetahuan yang dipelajari. Karena itu, generasi muda harus terus belajar dan menjaga kepribadian yang baik agar mampu menjadi pemimpin masa depan.

Sementara itu, CEO & Founder LIGHT UP Academy, Audra Pattiasina, menegaskan komitmennya dalam membangun kualitas generasi muda melalui peningkatan keterampilan dan penguatan karakter lewat kegiatan SPOTLIGHT 1.0 LIGHT UP Academy.

Audra menjelaskan bahwa LIGHT UP Academy merupakan pusat pembelajaran (learning center) yang fokus mendidik generasi muda agar memiliki kecakapan yang relevan dengan kebutuhan zaman, baik dalam bentuk soft skill maupun hard skill.

“Kami hadir sebagai ruang belajar bagi anak muda agar siap menghadapi perkembangan dunia yang sangat cepat. Tidak cukup hanya kemampuan teknis, tetapi juga harus didampingi dengan karakter, kepemimpinan, dan kreativitas,” ujarnya.

Menurut Audra, kegiatan SPOTLIGHT 1.0 dirancang dengan tiga pilar utama, yakni leadership, entrepreneurship, dan artificial intelligence (AI).

Ia menilai perkembangan teknologi saat ini justru menuntut generasi muda lebih kuat dalam aspek soft skill, sebab teknologi secanggih apa pun tidak dapat menggantikan sisi manusiawi seperti empati, intuisi, dan kemampuan observasi langsung.

“AI tidak bisa menggantikan manusia dari sisi feeling, komunikasi, dan kepemimpinan. Karena itu anak-anak harus didampingi agar berkembang seimbang antara hard skill dan soft skill,” katanya.

Audra juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Ambon terhadap pengembangan generasi muda. Menurutnya, Ambon saat ini menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian dalam pengembangan pemuda kreatif.

Ia menambahkan, materi entrepreneurship diberikan untuk membangun pola pikir mandiri dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Selama ini banyak anak muda berpikir pilihan kerja hanya menjadi pegawai. Padahal mereka juga harus punya CEO mindset, mampu melihat peluang, menciptakan usaha, dan membuka lapangan pekerjaan,” jelasnya.

Selain itu, LIGHT UP Academy juga ingin menjawab kesenjangan antara keterampilan lulusan pendidikan formal dengan kebutuhan dunia industri saat ini.

Berdasarkan data BPS, kata Audra, masih terdapat gap keterampilan yang cukup besar, sehingga banyak lulusan belum siap masuk ke dunia kerja.

“Gap skill itulah yang ingin kami isi melalui pelatihan-pelatihan di LIGHT UP Academy,” ujarnya.

Untuk tahap awal, kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta dan difokuskan bagi generasi muda di Kota Ambon. Pemilihan Ambon sebagai lokasi pertama didasarkan pada tingginya angka pengangguran di wilayah tersebut.

“Ambon kami jadikan center point dulu. Setelah ini akan ada pengembangan ke daerah lain,” katanya.

Meski SPOTLIGHT 1.0 digelar dalam format kelas sehari, Audra memastikan program ini akan berlanjut melalui berbagai kursus dan pendampingan berkelanjutan, mulai dari pengembangan soft skill, pelatihan AI, hingga pendampingan usaha dan digital marketing bagi pelaku UMKM.

“Kami ingin membuka mindset anak-anak dulu. Setelah itu kami isi dengan pelajaran-pelajaran lanjutan agar mereka benar-benar siap menghadapi masa depan,” pungkasnya.(L06)