AMBON, LaskarMaluku.com – Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, menyebut budaya membaca di kalangan anak-anak Indonesia, termasuk di Kota Ambon, masih memprihatinkan. Karena itu, Pemerintah Kota Ambon terus mendorong penguatan literasi melalui Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kota Ambon Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon di Hotel Kamari Ambon,Senin (20/7)
Sebelumnya, Ketua Panitia, C. Moniharapon, dalam laporannya menjelaskan bahwa lomba bertutur merupakan salah satu upaya meningkatkan minat baca sekaligus melestarikan cerita rakyat dan budaya lokal yang sarat nilai moral.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang menegaskan pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui lingkungan keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.
“Lomba bertutur tidak hanya melatih kemampuan bercerita, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan literasi, membangun karakter, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan kearifan Nusantara,” ujar Moniharapon.
Ia menjelaskan, pelaksanaan lomba diawali dengan seleksi video berdurasi 5–7 menit. Dari 46 peserta yang mendaftar, sebanyak 30 peserta dinyatakan lolos ke babak final sesuai petunjuk teknis pelaksanaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan dampak positif berupa meningkatnya keterampilan literasi peserta didik, keberanian tampil di depan umum, penguatan karakter, hingga lahirnya berbagai prestasi sebagai bentuk apresiasi terhadap kemampuan peserta.
Moniharapon berharap budaya membaca terus ditanamkan sejak dini melalui kerja sama keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga mampu melahirkan generasi Ambon yang cerdas, berkarakter, dan mencintai warisan budaya bangsa.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, mengingatkan bahwa kondisi budaya membaca anak-anak Indonesia masih berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
Ia mengutip pandangan budayawan Taufik Ismail yang pernah menyebut kondisi tersebut sebagai “tragedi nol buku”, karena rata-rata lulusan SMA di Indonesia dinilai belum memiliki kebiasaan menuntaskan bacaan sebagaimana pelajar di sejumlah negara lain.
Selain itu, Ely juga mengungkapkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan minat baca anak Indonesia hanya 17,66 persen, sedangkan minat menonton mencapai 91,67 persen. Rata-rata waktu membaca masyarakat Indonesia hanya sekitar 30–59 menit per hari, jauh di bawah standar UNESCO yang menganjurkan waktu membaca 4–6 jam setiap hari.
“Dua fakta ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak kita sedang berada dalam kondisi darurat membaca,” tegas Ely.
Ia mengatakan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sejak tahun 2025 yang mewajibkan siswa membaca buku dan menulis referensi sebagai pengganti LKS merupakan langkah positif dalam membangun budaya literasi.
Untuk itu, Ely mengajak seluruh sekolah membiasakan peserta didik membaca, menceritakan kembali isi buku, membuat ringkasan, resensi, maupun karya kreatif lainnya sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Ia juga meminta seluruh kepala sekolah memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon guna meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM).
Menurutnya, pada penilaian tahun 2025 terdapat 246 sekolah di Kota Ambon, namun hanya 115 sekolah yang mengirimkan data sampel sehingga nilai TGM Kota Ambon masih berada di angka 59,75, sedangkan IPLM tercatat 11,74.
“Kita berharap tahun ini kedua indikator tersebut mengalami peningkatan melalui kolaborasi seluruh sekolah dan Dinas Perpustakaan,” ujarnya.
Ely menegaskan, Lomba Bertutur bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi media membangun generasi emas yang memiliki kemampuan literasi, komunikasi, kreativitas, dan karakter yang kuat.
“Melalui lomba ini anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga memahami isi bacaan, mengembangkan imajinasi, membangun rasa percaya diri, serta berani berbicara di depan umum,” katanya.
Di akhir sambutannya, Ely memberikan semangat kepada seluruh peserta agar menjadikan lomba sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Kalian semua yang hadir hari ini adalah pemenang. Teruslah membaca, berani tampil, junjung tinggi sportivitas, dan jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk semakin mencintai budaya membaca sekaligus melestarikan tradisi bertutur di Kota Ambon,” tutupnya.(L06)
