AMBON, LaskarMaluku.com – Tepat 100 tahun lalu, pada 2 September 1926, sebuah sejarah penting lahir bagi masyarakat Galala dan Hative Kecil. Dua negeri yang memiliki perjalanan sejarah masing-masing itu dipersatukan dalam satu persekutuan jemaat.

Kini, tepat pada 2 September 2026, sejarah tersebut kembali dikenang dan disyukuri dalam perayaan 1 Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik).

Perayaan ini bukan sekadar peringatan perjalanan waktu. Lebih dari itu, satu abad menjadi momentum untuk mensyukuri karya Tuhan yang telah menyertai jemaat melewati berbagai peristiwa, tantangan dan pergumulan kehidupan.

LaskarMaluku

Ketua Panitia Perayaan 1 Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil Johan Van Capelle mengatakan, sejarah 100 tahun Jemaat Gatik berawal dari penyatuan Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat.

“Sejarah dari 100 tahun ini adalah penyatuan dua negeri, antara Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat. Karena itu, untuk mensyukuri kasih Tuhan yang sudah menyertai dan memberkati kita sepanjang 100 tahun ini, maka dengan pertolongan Tuhan kita merayakannya dengan sukacita,” ujarnya.

Menurutnya, usia 100 tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak mudah dilalui.

Selama satu abad, Jemaat GPM Galala-Hative Kecil telah melewati berbagai peristiwa besar, mulai dari banjir Galala pada tahun 1950, konflik sosial tahun 1999, gempa bumi hingga berbagai pergumulan lainnya.

Namun, di tengah semua tantangan tersebut, jemaat tetap berdiri dan melanjutkan perjalanan imannya.

“Kalau ulang tahun satu atau dua tahun saja kita rayakan, apalagi ini 100 tahun. Kita sudah melewati berbagai masalah kehidupan, tetapi atas kasih Tuhan jemaat ini tetap berdiri kokoh,” katanya.

Rangkaian perayaan satu abad telah dimulai sejak Minggu (30/8/2026) dengan kegiatan penjemputan basudara dari berbagai daerah.

Panitia mengajak seluruh anak cucu Galala dan Hative Kecil yang berada di berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri untuk datang dan bersama-sama mensyukuri perjalanan panjang jemaat.

“Kita tidak mungkin merayakan kasih Tuhan ini sendiri. Karena itu, kita mengajak semua saudara Galala dan Hative Kecil, baik yang berada di Belanda, Irlandia maupun di seluruh wilayah Indonesia untuk turut bersama-sama merayakan,” ungkap Ketua Panitia kepada Wartawan

Meski kegiatan berlangsung pada masa kerja, basudara dari berbagai daerah masih terus berdatangan.

Sejumlah warga dari Jakarta dan daerah lainnya dijadwalkan tiba hingga menjelang puncak perayaan pada 2 September.

“Masih ada yang datang. Karena ini bukan masa libur, banyak yang masih bekerja. Sampai tanggal 2 September nanti masih ada basudara yang datang dari Jakarta maupun daerah lainnya,” ujarnya.

Panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan untuk memeriahkan dan mensyukuri perjalanan satu abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil.

Setelah kegiatan penjemputan basudara pada 30 Agustus, puncak perayaan akan dilaksanakan pada 2 September 2026 melalui ibadah syukur di Gedung Gereja.

Selanjutnya, pada 3 September 2026, seluruh masyarakat dan basudara akan mengikuti kegiatan makan patita sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan.

Rangkaian perayaan kemudian akan ditutup pada 4 September 2026 dengan malam badonci, yang akan menjadi ruang kebersamaan seluruh anak negeri, baik yang datang dari tanah rantau maupun masyarakat yang berada di Galala dan Hative Kecil.

“Kami berharap semua basudara dapat menikmati seluruh acara yang telah disusun panitia dan membawa pulang kesan yang baik,” kata Ketua Panitia.

Namun, menurutnya, perayaan 100 tahun tidak berhenti setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.

Momentum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun konsolidasi seluruh anak cucu Jemaat Gatik yang berada di mana pun.

“Kita juga berpikir untuk 100 tahun ke depan. Langkah awal yang kita lakukan adalah mengonsolidasikan semua anak Jemaat Gatik yang berada di mana pun untuk bersama-sama berkontribusi bagi negeri dan jemaat,” jelasnya.

Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian ke depan adalah pembangunan Gereja Yabok.

Karena itu, seluruh anak cucu yang pernah lahir, dibaptis, bertumbuh hingga menikah di Jemaat Galala-Hative Kecil diharapkan dapat ikut mengambil bagian dalam pembangunan jemaat.

“Ketika kita diberkati, berarti kita harus menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Terlebih khusus bagi jemaat tempat mereka lahir, dibaptis dan menikah. Mari bersama-sama berkontribusi bagi jemaat ini,” ajaknya.

Dalam perayaan satu abad tersebut, panitia juga mengundang negeri-negeri yang memiliki hubungan pela, gandong dan hubungan persaudaraan dengan Galala dan Hative Kecil.

Galala memiliki hubungan pela dengan Hitulama, sementara Hative Kecil memiliki hubungan pela dengan Hitumeseng.

Selain itu, sejumlah pejabat negeri dan masyarakat dari Hative Besar, Halong dan Nusaniwe juga turut diundang dalam rangkaian perayaan.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari semangat Hinuhahala, yang selama ini menjadi dasar dalam membangun dan menjaga hubungan baik antar-negeri.

Seluruh basudara pela, gandong dan mitra persaudaraan dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan pada 2 hingga 4 September 2026.

Ketua Majelis Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Pdt. Ny. A. Hanoatubun

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Pdt. Ny. A. Hanoatubun, menegaskan bahwa perayaan satu abad tersebut bukan merupakan peringatan masuknya Injil.

Perayaan tersebut merupakan momentum sejarah penyatuan Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat pada 2 September 1926.

“Perayaan ini bukan perayaan Injil masuk, tetapi perayaan penyatuan Negeri Hative Kecil dan Desa Galala menjadi satu jemaat. Tanggal 2 September nanti merupakan 100 tahun penyatuan dua negeri ini menjadi satu jemaat,” jelas Hanoatubun.

Ia mengatakan, perjalanan selama satu abad merupakan perjalanan iman yang panjang.

Banyak peristiwa telah dialami masyarakat Galala dan Hative Kecil, namun seluruh perjalanan tersebut diyakini sebagai bagian dari karya Tuhan dalam sejarah jemaat.

“Bagi kami, ini tidak sekadar perayaan. Ini adalah perjalanan sejarah iman. Seratus tahun adalah perjalanan panjang dan banyak hal yang sudah dialami Jemaat Galala-Hative Kecil,” katanya.

Menurutnya, sejarah penyatuan Galala dan Hative Kecil memiliki makna yang sangat besar.

Di masa lalu, hubungan antarwilayah tidak selalu berjalan mudah. Namun Tuhan, kata dia, telah merangkai sejarah dan mempersatukan dua negeri yang berdekatan tersebut dalam satu persekutuan jemaat.

“Tidak mudah mendapatkan satu jemaat dengan dua negeri yang menyatu seperti ini. Karena itu, kami sangat bersyukur kepada Tuhan atas perjalanan sejarah yang telah Tuhan kerjakan bagi jemaat ini,” ujarnya.

Hanoatubun berharap perayaan satu abad menjadi landasan yang semakin kuat untuk membangun persekutuan, persaudaraan dan pelayanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil di masa mendatang.

Ia juga berharap sejarah tentang karya Tuhan dalam perjalanan Galala dan Hative Kecil terus dituturkan dari generasi ke generasi.

Baik anak negeri yang tinggal di Galala dan Hative Kecil maupun mereka yang kini berada di tanah rantau, diharapkan tidak melupakan akar sejarah dan karya kasih Tuhan yang telah mempersatukan dua negeri tersebut.

“Kasih Tuhan dan sejarah ini harus terus diceritakan turun-temurun, dari generasi ke generasi, supaya karya Tuhan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan seluruh anak negeri, baik yang berada di Galala dan Hative Kecil maupun yang berada di tanah rantau,” tandasnya.

Rangkaian perayaan 1 Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil berlangsung mulai 30 Agustus hingga 4 September 2026.

Dimulai dengan penjemputan basudara, dilanjutkan ibadah syukur pada 2 September, makan patita pada 3 September dan ditutup dengan malam badonci pada 4 September.

Satu abad telah dilalui. Dari dua negeri yang dipersatukan, kini lahir sebuah perjalanan iman yang terus dijaga lintas generasi. Bagi Galala dan Hative Kecil, sejarah itu bukan sekadar masa lalu, tetapi warisan untuk melangkah menuju 100 tahun berikutnya. (L06)