BANDA ELY, LaskarMaluku.com – Kehadiran dua tokoh politik Maluku, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur G. Watubun, ST, SH dan Anggota DPR RI Saadia Uluputty, dalam peresmian Masjid Al-Mukarramah di Ohoi Banda Ely, Kecamatan Kei Besar Utara Timur, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (7/11/2026), menjadi perhatian tersendiri.
Keduanya merupakan politisi dari latar belakang partai berbeda, yakni PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, dalam momentum keagamaan dan kebersamaan masyarakat Wandan tersebut, Watubun dan Uluputty tampak duduk berdampingan di meja kehormatan dalam keakraban serta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat.
Pemandangan ini menghadirkan pesan politik yang menarik. Di tengah dinamika dan kontestasi politik Maluku, kebersamaan dua figur dari kekuatan politik berbeda tersebut memunculkan ruang diskusi publik mengenai kemungkinan kolaborasi kepemimpinan Maluku ke depan.
Bahkan, tidak sedikit yang dapat membaca kebersamaan tersebut sebagai sebuah potret menarik apabila Watubun dan Uluputty kelak dipertemukan dalam satu konfigurasi kepemimpinan Maluku mendatang.
Meski demikian, hingga saat ini kehadiran keduanya dalam kegiatan tersebut belum dapat dimaknai sebagai deklarasi atau kesepakatan politik untuk berpasangan.
DUET LINTAS PARTAI, POTENSI KEKUATAN POLITIK MALUKU
Benhur Watubun dikenal sebagai salah satu figur penting PDI Perjuangan di Maluku, dengan pengalaman politik dan kelembagaan sebagai Ketua DPRD Provinsi Maluku.
Sementara Saadia Uluputty merupakan representasi politik perempuan Maluku di tingkat nasional melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dengan pengalaman sebagai anggota DPR RI.
Jika suatu saat kedua figur ini membangun kerja sama politik, kombinasi pengalaman legislatif daerah dan nasional, serta latar belakang partai yang berbeda, tentu menjadi salah satu konfigurasi yang menarik untuk diperbincangkan.
Watubun dengan pengalaman kepemimpinan di lembaga legislatif daerah, sementara Uluputty membawa pengalaman dan jejaring politik nasional. Keduanya memiliki ruang untuk membangun komunikasi lintas kekuatan politik demi kepentingan pembangunan Maluku.
Namun, perjalanan menuju Pilkada mendatang tentu akan ditentukan oleh dinamika partai politik, dukungan masyarakat, serta kesepakatan politik yang berkembang.
MOMEN RELIGIUS YANG MEMPERLIHATKAN KEBERSAMAAN
Peresmian Masjid Al-Mukarramah sendiri merupakan peristiwa bersejarah bagi masyarakat Ohoi Banda Ely.
Ribuan warga memadati pelataran masjid untuk menyaksikan peresmian rumah ibadah yang pembangunannya telah dinantikan selama tujuh tahun.
Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Maluku Tenggara, Drs. Hi. M. Thaher Hanubun, melalui penandatanganan prasasti yang disaksikan Raja Banda Ely H. Almudin B. Latar bersama unsur Forkopimda.
Kegiatan ini turut dihadiri Wali Kota Tual H. Akhmad Yani Renuat, Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra, Ketua DPRD Maluku Tenggara Stefanus Layanan, anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, tokoh adat, tokoh agama serta panitia pembangunan masjid.
SIMBOL PERSATUAN MASYARAKAT WANDAN
Kehadiran para Rat dari berbagai Ohoi di Kei Besar, Kei Kecil dan Kota Tual turut menambah kekhidmatan kegiatan tersebut.
Dalam tatanan adat Kei, Rat merupakan pemimpin adat tertinggi di Ohoi. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan adat, persaudaraan dan kebersamaan masyarakat dalam pembangunan rumah ibadah.
Rombongan tamu undangan juga disambut melalui prosesi adat Wandan oleh para tetua adat dan Rat Ohoi Banda Ely, diiringi tarian tradisional serta tabuhan tifa.
Tradisi ini memperlihatkan kuatnya nilai Hadat dalam kehidupan masyarakat Wandan, yakni penghormatan terhadap tamu, persaudaraan dan penghargaan terhadap adat istiadat.
PESAN BUPATI: MASJID HARUS MENJADI PUSAT PERSAUDARAAN
Dalam sambutannya, Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun menyampaikan tiga pesan penting kepada masyarakat.
Pertama, masjid harus menjadi pusat ibadah yang senantiasa dimakmurkan. Kedua, menjadi pusat pembinaan umat dan pembentukan karakter generasi. Ketiga, menjadi pusat persaudaraan serta kerukunan antarumat beragama di Bumi Larvul Ngabal.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan rumah ibadah bukan hanya tentang kemegahan bangunan, tetapi juga tentang membangun kualitas kehidupan sosial, spiritual dan persaudaraan masyarakat.
WATUBUN–ULUPUTTY, SEBUAH WACANA POLITIK YANG MENARIK?
Di luar substansi kegiatan keagamaan, kebersamaan Benhur Watubun dan Saadia Uluputty menjadi pemandangan politik yang menarik untuk dicermati.
Dua figur dari partai berbeda, dengan pengalaman dan basis politik masing-masing, berada dalam satu ruang kebersamaan di tengah masyarakat Maluku.
Apakah kebersamaan ini sekadar pertemuan dalam agenda kemasyarakatan, atau kelak menjadi awal komunikasi politik yang lebih besar? Waktu yang akan menjawab.
Namun, satu hal yang pasti, Maluku membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul seluruh elemen masyarakat, membangun komunikasi lintas partai, serta menghadirkan persatuan di tengah keberagaman.
Dan dalam momentum peresmian Masjid Al-Mukarramah di Banda Ely, publik setidaknya mendapat satu potret menarik: Watubun dan Uluputty berdiri dalam satu semangat kebersamaan. (L05)
