AMBON, LaskarMaluku.com – Pendidikan inklusif bukan sekadar membuka pintu sekolah bagi semua anak. Lebih dari itu, pendidikan inklusif berarti memastikan setiap peserta didik termasuk anak berkebutuhan khusus dapat hadir, belajar, berpartisipasi, merasa aman, dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Pemahaman inilah yang menjadi landasan kerja sama Yayasan Rumah Generasi melalui Program INKLUSI berjasama dengan SMP Negeri 19 Ambon dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon.
Demikian disampaikan Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi Okto Pattikawa dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (25/9/2026)
Menurutnya, kerjasama ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan inklusif masih membutuhkan penguatan, baik dalam pemahaman guru, proses pembelajaran, penyediaan akses dan akomodasi yang layak, maupun dalam memberikan dukungan terhadap peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam.
“Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Rumah Generasi bersama SMP Negeri 19 Ambon menyelenggarakan Pelatihan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif pada 21–23 September 2026 di SMP Negeri 19 Ambon,”jelasnya.
Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari 10 sekolah inklusif tingkat SD dan SMP, orang tua anak berkebutuhan khusus, Dinas Pendidikan Kota Ambon, serta ULD Pendidikan.

Dimulai dari Orang Tua: Membangun Kesadaran dan Kolaborasi
Rangkaian kegiatan diawali pada 21 September 2026 dengan pembukaan oleh Dinas Pendidikan Kota Ambon sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi bagi orang tua anak berkebutuhan khusus yang disampaikan oleh Koordinator Program INKLUSI, Jemmy Talakua. Sesi bersama orang tua menjadi ruang penting untuk membangun pemahaman bersama tentang pendidikan inklusif, kebutuhan dan hak anak, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa orang tua memiliki posisi penting dalam perjalanan pendidikan anak.
Pendidikan inklusif tidak dapat dibangun oleh sekolah seorang diri. Orang tua perlu menjadi mitra sekolah, membangun komunikasi, berbagi informasi mengenai kebutuhan anak, dan bersama-sama mencari bentuk dukungan yang paling sesuai agar anak dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Memperkuat Kapasitas Guru : Dari Pemahaman Menuju Praktik
Hari berikutnya, 22 September 2026, kegiatan difokuskan pada pelatihan bagi guru-guru perwakilan dari 10 sekolah inklusif di Kota Ambon.
Pelatihan diarahkan tidak hanya untuk memperkenalkan konsep dan prinsip pendidikan inklusif, tetapi juga membawa peserta pada pemahaman yang lebih praktis: bagaimana mengenali keberagaman peserta didik, mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan belajar, menerapkan pembelajaran yang adaptif, menyediakan akses dan akomodasi yang layak, serta memahami alur layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Materi difasilitasi oleh Tim Program INKLUSI Yayasan Rumah Generasi dan dua guru terlatih pendidikan inklusif tingkat mahir. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi, Okto Pattikawa, menyampaikan apresiasi kepada SMP Negeri 19 Ambon atas komitmen dan tekadnya dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif.
“Apresiasi juga disampaikan atas upaya SMP Negeri 19 Ambon dalam merangkul sekolah-sekolah inklusif di Kota Ambon untuk bersama-sama memperkuat dan mendorong terwujudnya penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon.”

Tidak Berhenti pada Teori: Guru Berlatih Menyesuaikan Pembelajaran
Pada tahap berikutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual. Mereka juga diajak masuk ke dalam praktik. Peserta berlatih menggunakan format identifikasi dan asesmen, menyusun capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran, membuat Program Pendidikan Individual (PPI), serta memahami bagaimana melakukan modifikasi kurikulum yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus.
Praktik ini penting karena keberagaman peserta didik menuntut guru untuk tidak menggunakan satu pendekatan yang sama bagi semua anak. Guru perlu mengenali kebutuhan belajar masing-masing peserta didik dan kemudian menyesuaikan tujuan, aktivitas, maupun strategi pembelajaran agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Dari Ruang Pelatihan ke Ruang Kelas
Menutup rangkaian kegiatan selama tiga hari, Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, S.Pd., menyampaikan harapan agar pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman yang diperoleh para guru tidak berhenti di ruang pelatihan.
Apa yang dipelajari diharapkan dapat dibagikan kepada rekan-rekan guru lainnya dan diterapkan dalam praktik pembelajaran di sekolah masing-masing. Sebab, mewujudkan pendidikan inklusif bukan pekerjaan satu orang atau satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama.
Salah seorang guru peserta mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru tentang bagaimana guru dapat memfasilitasi pembelajaran bagi seluruh peserta didik, khusus tentang pendidikan inklusif, termasuk bagaimana sebagai guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran bagi semua siswa, bukan hanya siswa tanpa kebutuhan khusus, tetapi juga siswa berkebutuhan khusus.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menyelenggarakan Pelatihan
Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi Okto Pattikawa diakhir kegiatan mengatakan, kerja sama Yayasan Rumah Generasi dan SMP Negeri 19 Ambon menunjukkan bahwa penguatan pendidikan inklusif perlu bergerak lebih jauh dari sekadar kegiatan pelatihan.
Peningkatan kapasitas guru perlu diikuti dengan praktik nyata di sekolah, komunikasi dan koordinasi dengan orang tua, penguatan dukungan sekolah, serta pemanfaatan layanan dan mekanisme rujukan yang tersedia. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan dapat diterjemahkan menjadi perubahan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Pada akhirnya, pendidikan inklusif bukan berarti memberikan perlakuan yang persis sama kepada setiap anak. Pendidikan inklusif berarti memastikan setiap anak memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya, sehingga mereka memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, berpartisipasi, merasa aman, dan mencapai potensi terbaiknya,”ungkapnya.
Karena itu, membangun pendidikan inklusif membutuhkan ekosistem yang bekerja bersama: guru yang siap dan adaptif, sekolah yang terbuka dan mendukung, orang tua yang terlibat, pemerintah yang hadir, serta layanan pendukung yang dapat diakses.
“Ketika semua pihak bergerak bersama, inklusi tidak lagi berhenti sebagai sebuah konsep. Inklusi menjadi pengalaman nyata yang dirasakan setiap anak di ruang kelas dan di lingkungan sekolah,”tutupnya. (L02).







