AMBON LaskarMaluku.com – Sebanyak 33 perwakilan para suster Tarekat Maria Mediatrix (TMM) mengikuti Workshop.

Workshop ini bertujuan mempersiapkan struktur tarekat agar lebih kokoh secara internal dalam menghadapi perayaan 100 tahun karya pelayanan Tarekat Maria Mediatrix.

Workshop dengan tema “Penguatan Tata Kelola Administrasi Karya TMM sebagai Gerakan Cinta Tarekat dalam Rangka Persiapan Menuju Yubileum 100 Tahun TMM”

Pertemuan interaktif dan terstruktur yang fokus pada pelatihan praktis, diskusi, dan kolaborasi untuk memecahkan masalah atau meningkatkan keterampilan talentan dan dianggap sangat penting untuk pemenuhan ekspektasi sejarah perjalanan karya pelayanan Tarekat Maria Mediatrix.

Peserta Workshop berasal dari Pengurus Yayasan Bintang Timur Pusat; terdiri dari Ketua, Sekretaris dan bendahara, Kepala Sub Perwakilan Yayasan Bintang Timur (YBT) Ambon, Kei Kabupaten Maluku Tenggara dan kota Tual, Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Papua dan Kalimantan.

Pengurus Yayasan Yohanes Aerts, para kepala Panti Asuhan: Fak-Fak, Surabaya, Masohi, Ambon dan yang mewakili para Suster Kepala Klinik: Dobo, Larat, Alusi, Masohi,.
Para Suster yang bekerja sebagai kepala Klinik Rumah Bersalin Milik Keuskupan Timika, Sorong, Manokwari, Agats.

General Tarekat Maria Mediatrix, Sr Epifany Ongirwalu katakan, workshop ini digelar dalam rangka membingkai Hari Ulang Tahun (HUT) ke 99 sekaligus pencanangan menuju Yubelium 100 tahun.

“Workshop bersama membingkai HUT ke 99 sekaligus pencanangan menuju Yubelium 100 tahun,”Ungkap Epifany dalam sambutannya, di Aula lantai tiga gedung TMM Soakacindan Benteng, kecamatan Nusaniwe Kota Ambon provinsi Maluku, Minggu, (26/04/2026) pagi.

Workshop ini mungkin sederhana tetapi jangan kita remehkan karena dari langkah kecil inilah Tuhan dapat memulai sesuatu yang besar,”kata Epifany Ongirwalu, Pemimpin Umum TMM. Sembari mengajak para peserta workshop agar menjalani hari-hari kedepan dengan hati yang terbuka.

“Biarlah Roh Kudus menyentuh kita,bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi mengubah hati kita agar suatu hari nanti ketika kita berdiri diambang 100 tahun TMM kita tidak hanya tersenyum tetapi mungkin dengan mata yang berkaca-kaca kita berkata:

“Tuhan kami tidak sempurna, tetapi kami telah berusaha mencintai dan setia,”ingat Sr Epifany.

TMM (Tarekat Maria Mediatrix) adalah Kongregasi tarekat pribumi pertama di Indonesia yang berakar dari semangat Mgr. Johannes Aerts, MSC, di Kepulauan Kei, Maluku.

Yubileum 100 Tahun Tarekat Maria Mediatrix akan memperingati puncak peringatan satu abad berdirinya TMM yang akan dirayakan pada 1 Mei 2027 di Ambon. Perayaan ini menjadi momentum refleksi, syukur, dan pembaruan karya pelayanan.

Penguatan Tata Kelola Administrasi: Fokus workshop untuk merapikan dan meningkatkan manajemen tata kelola karya-karya TMM (misi, pendidikan, sosial, dll) agar lebih efisien dan profesional.
Gerakan Cinta Tarekat: Administrasi tidak hanya dipandang sebagai berkas teknis, tetapi sebagai wujud cinta, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kelangsungan hidup bakti tarekat TMM.

Workshop dengan tema “Penguatan Tata Kelola Administrasi Karya TMM sebagai Gerakan Cinta Tarekat dalam Rangka Persiapan Menuju Yubileum 100 Tahun TMM ini dilaksanakan bertepatan dengan Minggu Panggilan.”

Momen ini sering digunakan untuk mengajak kaum muda merenungkan arah hidup mereka dan menjawab panggilan Tuhan dengan kesediaan, “Ini aku; Utuslah aku!”. (L05)