AMBON, LaskarMaluku.com – Perayaan 40 tahun imamat RD Agustinus (Agus) Ulahayanan sekaligus peringatan 58 tahun perjalanan Paroki Santa Maria Bintang Laut (MBL) Ambon menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang pelayanan seorang imam di Keuskupan Amboina.
Misa syukur yang berlangsung di Paroki Santa Maria Bintang Laut, Minggu (30/8/2026), dihadiri perwakilan umat dari delapan paroki Kevikepan Kota Ambon. Perayaan tersebut tidak hanya menyoroti usia imamat, tetapi juga kesetiaan, pengorbanan, pengampunan, dan dinamika pelayanan yang dilalui RD Agus Ulahayanan.
Dalam homili, RD Amandus Oratmangun, Episkopal Kevikepan Kota Ambon sekaligus Pastor Paroki Santa Maria Bintang Laut, mengaitkan perjalanan RD Agus dengan bacaan kedua dari Roma 12:1-2 tentang mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup.
Menurut dia, kehidupan imamat RD Agus menunjukkan karakter seorang pelayan yang berusaha menyelesaikan setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. Sikap itu, kata Amandus, terlihat sejak RD Agus menjalankan pelayanan pastoral di wilayah kepulauan yang pada masa lalu memiliki tantangan geografis dan transportasi yang berat.
Amandus mengibaratkan RD Agus seperti “Motor Paula”, kapal yang dahulu digunakan para misionaris untuk menjangkau wilayah-wilayah pelayanan di Kepulauan Tanimbar.

Perayaan Ekaristi Syukur 40 thn Imamat RD Agus Ulahayanan dan Syukur HUT Paroki MBL ke-58
Menurut dia, kapal tersebut sangat dikenal masyarakat Larat dan Saumlaki karena perannya dalam pelayanan misi. Ia kemudian menggunakan perumpamaan itu untuk menggambarkan kegigihan RD Agus dalam menjalankan tugas pastoral.
“Motor Paula adalah Pastor Agus Ulahayanan,” kata RD Amandus Oratmangun.
Menurut Amandus, ketika bertugas di Larat, RD Agus tidak membatasi dirinya pada pekerjaan pastoral di gereja. Ia disebut terlibat dalam berbagai pekerjaan lapangan, termasuk perjalanan melalui laut dan kegiatan di hutan. Dalam kondisi tertentu, ia bahkan mengemudikan kapal dan membantu pekerjaan ketika perjalanan menghadapi angin dan gelombang.
Bagi RD Amandus, pengalaman tersebut memperlihatkan kesediaan RD Agus menjalankan tugas tanpa banyak mengeluh.
Karakter RD Agus yang menginginkan sesuatu dikerjakan dengan baik juga disebut terlihat dalam berbagai karya pelayanan.
Pastor Amandus mencontohkan pengalaman pembangunan tempat wisata rohani Katolik di Air Louw, Kecamatan Nusaniwe, Ambon. Ia mengatakan RD Agus dapat meminta pekerjaan dibongkar dan dikerjakan kembali apabila hasilnya dinilai belum sesuai dengan standar yang diharapkannya.
“Di mana saja dia berada, RD Agus Ulahayanan mau supaya kesempurnaan iman dan kesempurnaan hidup terjamin, tetapi kesempurnaan itu terkadang membutuhkan penderitaan,” ujar Amandus.
Peran Dalam Masa Konflik
Perjalanan RD Agus juga tidak terlepas dari dinamika sejarah sosial Maluku. Amandus mengingat peran RD Agus dalam masa konflik sosial Maluku, termasuk keterlibatannya dalam upaya perdamaian.
Ia menyebut RD Agus sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam proses perdamaian Maluku dan pernah terlibat dalam rangkaian Pertemuan Malino. Namun, Amandus juga mengungkap bahwa setelah masa tersebut RD Agus sempat tidak menjalankan pelayanan pastoral selama beberapa tahun dan keberadaannya ketika itu tidak banyak diketahui publik.
Menurut Amandus, ketika RD Agus kembali, Uskup Keuskupan Amboina saat itu, Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, menempatkannya sebagai Sekretaris Keuskupan Amboina.
Bagi Amandus, keputusan tersebut menjadi gambaran penting tentang pengampunan dalam kehidupan Gereja. Ia menilai masa lalu tidak semestinya menjadi alasan untuk menutup kesempatan seseorang kembali memberikan pelayanan.
“Ini pengampunan yang luar biasa. Kita boleh berbeda pendapat, kita boleh berselisih paham, tetapi jangan pernah membenci orang,” tegas Amandus.
Amandus menggambarkan RD Agus sebagai pribadi yang terkadang keras dalam menyampaikan pandangan, tetapi memiliki kelembutan dalam hubungan dengan umat dan sesama imam.
Ia menyebut RD Agus sebagai senior, kakak, dan figur yang dapat memberikan pandangan ketika dimintai nasihat. Karena itu, ia mengajak umat untuk mendoakan perjalanan imamat RD Agus yang telah memasuki empat dekade.
“Saya yakin itu dialami oleh Pastor Agus, tetapi saya mengenal dia sebagai seorang pastor senior, sebagai seorang kaka, sebagai seorang bapa, yang baik hati,” ujar Amandus.
Semua Karena Pernyataan Tuhan
Sementara itu, Ketua Unio Projo Keuskupan Amboina, RD Lucky Kelwulan, menilai perjalanan 40 tahun imamat RD Agus tidak terlepas dari penyertaan Tuhan. Menurut Lucky, meskipun memiliki kekurangan dan keterbatasan sebagai manusia, RD Agus tetap menjalankan pelayanan kepada umat di tempat ia diutus. Ia menilai kesetiaan tersebut merupakan bagian penting dari identitas seorang imam Diosesan.
“Dalam segala kekurangan dan keterbatasannya, Pastor Agus tetap setia melayani umatnya di mana ia diutus,” kata RD Lucky Kelwulan.
Lucky juga mengingat motto yang selama ini ditekankan RD Agus, yakni to be head, to be hand, to be heart. Prinsip tersebut dimaknai sebagai ajakan menggunakan pikiran untuk berpikir jernih, tangan untuk bekerja, dan hati untuk melayani.
Ia menegaskan bahwa imam Diosesan dipanggil untuk bekerja bersama umat dan hadir di tengah kehidupan umat Allah.
Selama 40 tahun imamatnya, RD Agus telah menjalani pelayanan di bawah tiga Uskup Keuskupan Amboina, yakni Mgr Andreas Sool, MSC, Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, dan Mgr Seno Ngutra.
RD Lucky menyebut sekitar sembilan tahun pelayanan RD Agus berlangsung pada masa kepemimpinan Mgr Andreas Sool, 27 tahun pada masa Mgr Petrus Canisius Mandagi, dan sekitar empat tahun terakhir berada dalam kepemimpinan Mgr Seno Ngutra.
Rentang tersebut, menurut Romo Lucky, menunjukkan panjangnya perjalanan seorang imam Diosesan dalam menghadapi perubahan kepemimpinan dan tantangan pelayanan.
“Senior, kenapa tidak meninggalkan Keuskupan Amboina saja? Jawab Romo Agus, ‘Lucky, supaya ko tahu, saya terlalu sayang Keuskupan Amboina. Saya sangat sayang umat Keuskupan ini’,” ungkap Pastor Lucky yang juga Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Amboina
Bagi Lucky, kesetiaan tersebut menjadi bagian penting dari makna 40 tahun imamat RD Agus Ulahayanan. Ia menilai ketaatan kepada Gereja dan kesediaan untuk terus bekerja bersama umat merupakan nilai yang harus dijaga seorang imam Diosesan.
Perayaan 40 tahun imamat itu akhirnya bukan sekadar penanda perjalanan waktu, melainkan refleksi atas pelayanan, pergulatan, pengampunan, dan kesetiaan seorang imam dalam menjalankan panggilan di tengah umat.
Acara syukuran 40 Imamat RD Agus Ulahyanan sekaligus syukur HUT Paroki MBL ke-58 dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan pemotongan kut HUT yang dilaksanakan di Catolik Center. (L05)
