AMBON, LaskarMaluku.com – Dunia pendidikan di Maluku kembali tercoreng. Para siswa laki-laki senior di SMA Siwalima melakukan tindakan penganiayaan kepada adik-adik kelas 1 tanpa perikemanusian.

Informasi yang dihimpun media ini di lapangan, para senior ini memanggil seluruh siswa kelas 1 dan menyuruh melakukan sikap tobat dan mereka melakukan aksi pemukulan di bagian tangan dan dada.

Hal ini terungkap ketika Izin Bermalam Luar (IBL) di SMA Siwalima, dimana siswa diperbolehkan pulang hari Sabtu dan Minggu ke rumah. Salah satu siswa berinisial “RPL” saat pulang ke rumah ketahuan sama orangtuanya jika tangannya bengkak karena dipukul dan bagian dada memar berwarna biru karena ditendang.

Pihak keluarga langsung membawa RPL untuk divisum pada salah satu rumah sakit di Kota Ambon dan melaporkan masalah ini kepada walikelas.

Walikelas berjanji akan melakukan penyelesaian, Senin (7/9/202) tetapi hingga berita ini dipublish, tidak ada tindakan apapun dari wali kelas

Karena belum ada tindakan penyelesain, korban pun kemudian bertemu lagi dengan para senior yang tidak punya etika dan sopan santun. Mereka tanpa punya perikemanusiaan, menyuruh para yuniornya itu itu masuk ke kamar mandi dan memaksa mereka mandi telanjang di depan para senior yang tidak beradab itu.

Sumber terpercaya di SMA Siwalima menyebutkan, ketika disuruh mandi telanjang, para senior memaksa adik kelasnya itu mengisap rokok sambil merekam dengan handphone dan mengancam jika masalah ini dilaporkan maka video mandi telanjang sambil isap rokok akan disebarkan di media sosial.

Kepala Sekolah Terkesan Menghindar

HIngga berita ini dipublikasikan belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah, termasuk dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Maluku.

Kepala sekolah SMA Siwalima Ambon yang dihubungi LaskarMaluku.com belum bersedia merincikan dugaan kekerasan di lingkungan sekolahnya.

“Selamat siang bang, Maaf telat respon. Nanti akan kami kabari ya bang,” Kata Kepsek SMA Siwalima Ambon, provinsi Maluku, La Sini La Haya, S.Pd via WhatsApp kepada media ini, Rabu (9/9/2026).

Merasa tidak puas dengan jawaban Kepala Sekolah, wartawan media ini pun mendatangi Sekolah SMA Negeri Siwalima, tapi Kepala Sekolah lebih awal meninggalkan sekolah SMA.

Padahal media ini telah memberikan konfirmasi kalau kami para wartawan telah sampai di sekolah SMA Negeri Siwalima. Namun jawaban dari beberapa dewan guru kalau sang Kepsek lagi keluar.

“Maaf pak. Bt ada aktivitas diluar. Besok rencana setelah program supervisi guru beta kabari ya,” ujar kepala sekolah SMA Negeri Siwalima Ambon, La Sini La Haya, S.Pd via WhatsApp.

Sepertinya dugaan Tindak Penganiyaan ini pun belum direspon oleh Kabid SMA provinsi Maluku. Demikian halnya dengan Kabid Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Jefikz Berhitu.

Jefikz Berhitu saat dikonfirmasi hanya meneruskan dugaan kekerasan ke Kabid SMA.

“Baik Pak, beta sudah teruskan ke Kabid SMA,” singkat Jefikz via WhatsApp, Rabu siang (9/9/2026).

Padahal jika mengacu pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), semuanya bertujuan untuk membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan fisik, tata tertib, fasilitas, serta kultur belajar yang baru di sekolah. Sayangnya siswa baru di SMA Siwalima  mendapat perlakuan yang tidak layak diterima di lingkungan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dr.Sharlota Singerin, SPd.MPd yang dikonfirmasi melalui pesan WhaatsApp juga slow respons dan hanya meminta langsung berurusan dengan Kepala Sekolah .

Sejumlah orangtua mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku mengusut tuntas kasus ini, sehingga tidak mencoreng dunia pendidikan di Maluku, serta tidak terulang lagi. Dan Kepala Sekolah juga harus dievaluasi. (L05)