AMBON, LaskarMaluku.com – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti), menggelar Inaugurasi Mahasiswa Baru Angkatan 2026 di Pantai Sopapei, Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Satu Rumah, Satu Cita: Menyatukan Langkah Mahasiswa Baru untuk PGSD Cemerlang” itu diikuti 209 dari total 235 mahasiswa baru sebagai bagian dari proses pembentukan karakter, kebersamaan, serta kesiapan akademik mahasiswa untuk menempuh pendidikan di PGSD Unpatti.
Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari dan dihadiri Ketua Program Studi PGSD FKIP Unpatti, Johannes Pelamonia, sejumlah dosen, serta panitia inagurasi. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan oleh Ketua Program Studi, penyampaian materi oleh Johannes Pelamonia dan dosen PGSD FKIP Unpatti Samuel Patra Ritiauw, pagelaran seni oleh mahasiswa baru yang terbagi dalam 10 kelompok, permainan, hingga penutupan.
Bagi Program Studi PGSD, inagurasi tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Momentum tersebut diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus membangun perubahan pola pikir dari status siswa sekolah menengah menjadi mahasiswa yang dituntut memiliki tanggung jawab, komitmen, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan di perguruan tinggi.
Ketua Program Studi PGSD FKIP Unpatti, Johannes Pelamonia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menyambut mahasiswa baru yang mulai bergabung dalam keluarga besar PGSD Unpatti.
“Ini adalah proses bagaimana kami menyambut 235 mahasiswa baru yang bergabung dalam keluarga besar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Tentunya momen ini juga merupakan sebuah momen di mana kami membina nilai-nilai kebersamaan dengan mereka, merasakan bagaimana menjadi mahasiswa baru yang akan bergabung dengan keluarga besar PGSD Unpatti untuk melangkah meraih masa depan mereka empat sampai tujuh tahun ke depan,” kata Ketua Program Studi PGSD FKIP Unpatti, Johannes Pelamonia, kepada awak media.
Menurut Pelamonia, salah satu fokus utama dalam pembinaan mahasiswa baru adalah membentuk perubahan pola pikir. Mahasiswa tidak lagi diposisikan sebagai siswa SMA, tetapi sebagai pribadi yang harus memiliki karakter dan tanggung jawab akademik.
Ia menegaskan, perjalanan mahasiswa hingga menjadi sarjana tidak selalu mudah. Karena itu, sejak awal mahasiswa perlu dibekali dengan karakter dan mental untuk menghadapi berbagai tantangan selama masa pendidikan.
“Mindset bagaimana kita merubah mindset calon mahasiswa yang bergabung menjadi mahasiswa, yang awalnya mindset dari siswa SMA menjadi pribadi dan personality seorang mahasiswa. Tentunya dasar-dasar pembinaan, penguatan karakter untuk membentuk mereka menjadi calon-calon guru ke depan dan membentuk mereka menjadi mahasiswa yang siap bertarung, siap belajar untuk meraih mimpi dan masa depan mereka ke depan,” ujar Pelamonia.
Pendidikan Guru di Tengah Karakteristik Kepulauan Maluku
PGSD Unpatti juga menempatkan karakteristik Maluku sebagai wilayah kepulauan dalam proses pembentukan kompetensi mahasiswa. Tantangan geografis yang berbeda dengan wilayah daratan menjadi salah satu konteks yang perlu dipahami calon guru yang nantinya bekerja di berbagai daerah.
Pelamonia menjelaskan, pendekatan tersebut sejalan dengan penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) di Program Studi PGSD.
Menurutnya, lulusan PGSD tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan profesi sebagai guru sekolah dasar, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan karakteristik masyarakat dan lingkungan tempat mereka mengabdi.
“Memang sesuai dengan kurikulum OBE yang berlaku di program studi kami bahwa mahasiswa yang dibentuk di perguruan tinggi, terutama di Prodi PGSD, bukan saja mereka akan menjadi guru SD, tetapi peran-peran mereka ke depan ketika mereka selesai, so pasti itu akan mendukung sesuai dengan karakteristik wilayah kami Maluku yang notabenenya adalah wilayah kepulauan,” kata Pelamonia.
Ia menyebut, sejumlah muatan pendidikan yang berkaitan dengan wilayah kepulauan dan masyarakat pesisir menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa. Pendekatan tersebut diharapkan membuat lulusan PGSD mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat di daerah kepulauan.
“Muatan-muatan mata kuliah pendidikan kepulauan, kemudian mata kuliah tentang kepulauan pesisir yang merupakan mata kuliah wajib universitas, itu yang juga diterapkan di prodi kami sehingga ketika output daripada lulusan dari PGSD, mereka siap untuk diperhadapkan dalam tantangan dan dunia kerja yang sesuai dengan karakteristik Maluku sebagai wilayah kepulauan,” ujarnya.
Menurut dia, kemampuan beradaptasi dengan masyarakat pesisir dan kepulauan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Komitmen Mahasiswa Disimpan sebagai Pengikat Hingga Lulus
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam Inagurasi Mahasiswa Baru PGSD 2026 adalah penulisan komitmen pribadi oleh mahasiswa baru. Komitmen tersebut kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah wadah karton.
Program studi memberikan makna khusus terhadap simbol tersebut. Komitmen yang ditulis mahasiswa dipandang sebagai bentuk ikatan pribadi agar mereka memiliki tekad untuk menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana.
Pelamonia mengatakan, konsep tersebut menjadi salah satu pembeda dalam pengenalan program studi tahun ini. Program studi ingin mahasiswa sejak awal memiliki kesadaran bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan membutuhkan perjuangan dan konsistensi.
“Ada yang berbeda dengan pengenalan program studi di tahun 2026, khusus untuk mahasiswa PGSD. Kita butuh komitmen individual mereka karena belajar dari pengalaman yang selama ini terjadi ketika yang masuk itu satu angkatan ada 250, tapi yang sampai di finish itu cuma sekitar 80 persen. Dua puluh persen itu gagal di tengah jalan,” kata Pelamonia.
Komitmen tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan mental mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan akademik maupun persoalan lain selama masa pendidikan.
“Oleh karena itu, kita sendiri membentuk mental dan karakter mereka sehingga ada komitmen secara pribadi dari mereka ketika mereka menjadi mahasiswa, mereka harus berjuang untuk selesai, belajar, belajar, belajar dan meraih masa depan mereka dengan mereka harus selesai menjadi sarjana Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,” ujarnya.
Pelamonia menegaskan komitmen tersebut tidak berhenti sebagai simbol dalam kegiatan inagurasi. Program studi ingin menjadikannya sebagai pengingat bagi mahasiswa mengenai tanggung jawab mereka sejak memasuki pendidikan tinggi.
“Komitmen ini merupakan komitmen mereka dengan kami di program studi. Sebagai bekal, proses mental mereka secara psikologi itu bisa mengikat mereka secara individu untuk tetap berjuang sampai finish,” katanya.
Persoalan Ekonomi Tak Semestinya Menghentikan Pendidikan
Di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat bagi sebagian masyarakat, Program Studi PGSD juga menaruh perhatian terhadap kemungkinan mahasiswa menghadapi kendala pembiayaan pendidikan.
Pelamonia mengatakan Universitas Pattimura memiliki mekanisme yang dapat digunakan mahasiswa ketika mengalami kesulitan ekonomi, termasuk kemungkinan mengambil cuti semester sesuai ketentuan yang berlaku.
“Dalam kondisi ekonomi yang saat ini, yang katakan ekonomi sangat-sangat sulit, Unpatti itu sangat fleksibel. Ketika misalnya mahasiswa dalam pergantian semester mengalami kesulitan-kesulitan ekonomi untuk tidak membayar SPP misalnya, itu ada mekanismenya. Mahasiswa bisa mengambil cuti misalnya. Mereka bisa mengambil cuti-cuti semester tanpa mengorbankan diri mereka sendiri,” ujar Pelamonia.
Ia juga menekankan pentingnya peran pembimbing akademik dan mentor dalam mendeteksi persoalan yang dihadapi mahasiswa sejak dini. Program studi melakukan evaluasi perkembangan mahasiswa pada awal, pertengahan, dan akhir semester.
“Peran mentor harus lebih proaktif untuk melihat setiap mahasiswanya. So pasti kami di prodi itu ada evaluasi. Kita melakukan evaluasi terus kepada perkembangan mahasiswa di awal semester, di tengah semester, dan akhir,” katanya.
Menurut Pelamonia, pendekatan tersebut diperlukan agar persoalan ekonomi maupun persoalan lain yang dialami mahasiswa dapat diketahui lebih awal sehingga dapat dicarikan jalan keluar dan tidak langsung berujung pada kegagalan menyelesaikan pendidikan.

Seni dan Budaya Jadi Bagian dari Pembentukan Kebersamaan
Selain pembinaan karakter dan penyampaian materi, Inagurasi Mahasiswa Baru PGSD 2026 juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan kreativitas seni.
Sebanyak 10 kelompok mahasiswa baru tampil dalam pagelaran seni yang mengangkat tarian dan budaya khas Maluku. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan keragaman budaya sekaligus membangun rasa memiliki terhadap lingkungan akademik PGSD.
Pelamonia mengatakan kegiatan seni menjadi bagian dari pembinaan mahasiswa sekaligus representasi keberagaman budaya yang terdapat di Maluku.
“Kegiatan kali ini biasa kami di prodi dalam pembinaan program studi, terlepas muatan-muatan pembinaan, ini akan diisi dengan kreasi seni, pentas seni yang mereka bawakan, tari-tarian khas daerah Maluku dan mewakili budaya yang ada di seluruh kabupaten kota yang ada di Maluku sebagai ungkapan rasa kebersamaan, rasa memiliki nilai-nilai budaya yang mempersatukan kami semua sebagai civitas akademika Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,” kata Pelamonia.
PGSD Unpatti Menarik Mahasiswa dari Berbagai Daerah
Keberadaan mahasiswa baru dari luar Maluku juga memperlihatkan bahwa PGSD Unpatti tidak hanya menjadi pilihan bagi calon mahasiswa dari wilayah Maluku.
Pelamonia menyebut mahasiswa PGSD dalam beberapa tahun terakhir berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Selain dari kabupaten dan kota di Maluku, mahasiswa juga datang dari Sumatera, Nias, Makassar, Papua, hingga Pulau Jawa melalui sejumlah jalur penerimaan, termasuk program afirmasi.
“PGSD sudah dari tahun ke tahun bukan saja yang mewakili seluruh kabupaten kota di Maluku. Tapi kita ada masuk dari Sumatera. Dari Sumatera juga ada beberapa kabupaten kota, sampai di Kabupaten Nias. Itu ada dari Makassar juga ada, dari Papua juga ada, dari Pulau Jawa sendiri juga ada. Mereka masuk melalui program afirmasi itu,” ujar Pelamonia.
Menurutnya, persebaran asal mahasiswa tersebut menunjukkan daya tarik PGSD Unpatti yang semakin luas. Bahkan, kata dia, mahasiswa dari kawasan barat Indonesia semakin banyak memilih PGSD Unpatti untuk melanjutkan pendidikan.
“Selama beta jadi kaprodi, keterwakilan mahasiswa PGSD itu dia seantero Nusantara, hampir sebagian besar. Bahkan kalau dulu misalnya kita orang timur yang pergi sekolah di wilayah barat di Pulau Jawa, malah sekarang untuk PGSD punya animo yang sangat-sangat besar dari daerah barat, daerah Pulau Jawa, daerah Sumatera, yang sebagian besar mahasiswanya datang ke Prodi PGSD,” katanya.
Pelamonia menambahkan, dari wilayah Sumatera saja, jumlah mahasiswa yang datang untuk menempuh pendidikan di PGSD Unpatti setiap tahun disebut tidak kurang dari 20 orang.
Ia menilai pilihan tersebut tidak terlepas dari persepsi positif terhadap lulusan PGSD Unpatti yang telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja.
“Mereka lebih memilih PGSD karena ada nilai, ada kesan yang baik terhadap lulusan-lulusan sebelumnya yang membuat daya tarik mereka untuk memilih PGSD FKIP Unpatti,” ujarnya.
PGSD Jadi Salah Satu Program Studi dengan Kuota Besar.
Dari sisi penerimaan mahasiswa, PGSD disebut sebagai salah satu program studi dengan jumlah penerimaan terbesar di Universitas Pattimura. Kuota penerimaan setiap tahun berada di kisaran 250 mahasiswa.
Pelamonia menjelaskan, jumlah mahasiswa yang akhirnya melakukan registrasi biasanya berada pada kisaran 230 hingga 240 orang. Selisih dari kuota tersebut dapat terjadi karena calon mahasiswa memiliki pilihan program studi lain dalam proses penerimaan.
“PGSD itu prodi terbesar di Unpatti. Kita kuota per setiap tahun itu sekitar 250 orang. Penerimanya 250 orang. Biasanya ketika proses pendaftaran dan pengembalian kembali, kita ada di angka 230 sampai 240,” kata Pelamonia.
Dengan jumlah mahasiswa baru Angkatan 2026 yang mencapai 235 orang, Program Studi PGSD kembali menunjukkan tingginya minat terhadap bidang pendidikan guru sekolah dasar.
Namun, bagi program studi, ukuran keberhasilan bukan semata-mata jumlah mahasiswa yang diterima. Tantangan berikutnya adalah memastikan mahasiswa mampu bertahan, berkembang, dan menyelesaikan pendidikan hingga menjadi sarjana.
Karena itu, pesan utama yang dibawa dalam Inagurasi Mahasiswa Baru PGSD 2026 tidak berhenti pada seremoni penyambutan. Tema “Satu Rumah, Satu Cita” diarahkan menjadi pijakan awal untuk membangun identitas bersama, memperkuat karakter, dan menanamkan komitmen kepada mahasiswa baru agar mampu melewati proses pendidikan hingga tuntas.
Di tengah kebutuhan tenaga pendidik yang mampu memahami karakter masyarakat kepulauan, PGSD Unpatti juga menempatkan konteks Maluku sebagai bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai kompetensi sebagai calon guru, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan realitas sosial, budaya, dan geografis tempat mereka kelak mengabdi.
Dengan demikian, inaugurasi mahasiswa baru menjadi titik awal dari perjalanan akademik 235 mahasiswa Angkatan 2026 untuk memasuki lingkungan pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan diri menjadi calon guru yang memiliki kompetensi, karakter, komitmen, dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat kepulauan. (L05)




