AMBON, LaskarMaluku.com – Masyarakat Luang, Kabupaten Maluku Barat Daya, kini mendapat akses pelayanan transportasi laut melalui KM Sabuk Nusantara 87 setelah kapal perintis tersebut menyinggahi Luang dalam pelaksanaan deviasi Trayek R-73. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas permohonan resmi Pemerintah Negeri Luang Timur pada 4 Agustus 2026 yang kemudian diteruskan Pemerintah Provinsi Maluku kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI pada 11 Agustus 2026.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Anos Yermias, menyampaikan bahwa masuknya KM Sabuk Nusantara 87 ke Luang merupakan jawaban atas kebutuhan nyata masyarakat terhadap konektivitas transportasi laut yang lebih aman dan mudah.
Menurut Anos, pelayanan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Prosesnya bermula dari surat resmi Pemerintah Desa/Negeri Luang Timur tertanggal 4 Agustus 2026 yang meminta agar KM Sabuk Nusantara 87 mendapat deviasi trayek sehingga dapat menyinggahi Luang atau Pulau Tamta.
Permohonan itu disampaikan kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku melalui Anos. Aspirasi tersebut didorong kondisi geografis masyarakat kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut, sekaligus mempertimbangkan risiko yang dihadapi warga ketika harus menggunakan speedboat atau longboat, terutama saat kondisi cuaca tidak bersahabat.
“Perlu beta sampaikan bahwa pelayanan ini berawal dari surat resmi Pemerintah Desa/Negeri Luang Timur tanggal 4 Agustus 2026 yang memohon deviasi trayek KM Sabuk Nusantara 87,” kata mantan anggota Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias yang saat ini duduk sebagai perwakilan Fraksi Golkar di Komisi II.
Menindaklanjuti permohonan tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku kemudian menyampaikan usulan secara resmi kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI di Jakarta pada 11 Agustus 2026.
Usulan tersebut meminta pelaksanaan deviasi Trayek R-73 agar KM Sabuk Nusantara 87 dapat menyinggahi Luang/Pulau Tamta dalam perjalanan menuju Kupang maupun saat kapal kembali dari Kupang.
Dengan terealisasinya pelayanan tersebut, masyarakat Luang tidak hanya memperoleh akses kapal pada perjalanan saat ini. Dalam perjalanan kembali dari Kupang, KM Sabuk Nusantara 87 juga dijadwalkan kembali masuk ke Luang sebagai bagian dari pelaksanaan deviasi Trayek R-73.
“Hari ini KM Sabuk Nusantara 87 masuk dan melayani masyarakat di Luang. Pada perjalanan kembali dari Kupang nanti, kapal ini juga dijadwalkan kembali masuk Luang dalam pelaksanaan deviasi Trayek R-73,” kata Anos.
Realisasi deviasi ini menjadi penting karena persoalan konektivitas di wilayah kepulauan tidak sebatas menyangkut mobilitas penumpang. Ketersediaan kapal perintis berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari, distribusi barang, aktivitas ekonomi, serta hubungan antarpulau.
Dalam konteks Luang, keberadaan layanan kapal perintis juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap moda transportasi laut berukuran lebih kecil yang menghadapi tantangan lebih besar ketika kondisi laut memburuk.
Anos menegaskan, keberhasilan pelayanan tersebut seharusnya tidak dilihat sebagai keberhasilan satu pihak. Menurut dia, proses tersebut merupakan hasil dari aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui pemerintah negeri, kemudian diteruskan dan ditindaklanjuti melalui jalur pemerintahan hingga mendapatkan respons dari otoritas perhubungan laut.
“Puji Tuhan, hari ini apa yang diperjuangkan dan diusulkan Pemerintah Negeri Luang Timur dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Anos.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Negeri Luang Timur, Dinas Perhubungan Provinsi Maluku, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI, KSOP, PPK Perintis, operator KM Sabuk Nusantara 87, nakhoda, serta seluruh awak kapal yang terlibat dalam pelayanan tersebut.
Namun, yang menjadi penekanan utama bukanlah mengenai pihak yang paling berperan dalam proses tersebut. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada sejauh mana kebutuhan masyarakat kepulauan dapat dijawab melalui pelayanan publik yang nyata.
“Bagi beta, ini bukan soal siapa yang paling berjasa. Yang paling penting adalah masyarakat Luang mendapatkan pelayanan transportasi yang lebih aman dan lebih mudah,” kata Anos.
Persoalan konektivitas antarpulau sendiri masih menjadi tantangan penting bagi wilayah kepulauan seperti Maluku. Jarak antarpulau, ketergantungan terhadap kondisi cuaca, keterbatasan armada, serta kebutuhan mobilitas masyarakat membuat keberadaan transportasi perintis memiliki posisi strategis.
Karena itu, deviasi Trayek R-73 menuju Luang dapat dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas, sekaligus memastikan wilayah yang secara geografis berada jauh dari pusat pelayanan tetap memperoleh akses transportasi yang memadai.
Anos menyatakan komunikasi dan perjuangan untuk memperkuat konektivitas antarpulau akan terus dilakukan. Ia menilai kapal memiliki fungsi yang jauh lebih besar bagi masyarakat kepulauan dibandingkan sekadar sarana perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain.
“Kita akan terus membangun komunikasi dan memperjuangkan konektivitas antarpulau, karena bagi masyarakat kepulauan, kapal bukan sekadar alat transportasi—kapal adalah urat nadi kehidupan,” tegas Anos.
Realisasi pelayanan KM Sabuk Nusantara 87 di Luang pada akhirnya memperlihatkan bahwa aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui mekanisme resmi dapat berujung pada perubahan pelayanan konkret. Tantangan berikutnya adalah memastikan konektivitas tersebut berlangsung secara konsisten dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat Luang, masuknya kapal perintis bukan sekadar bertambahnya titik persinggahan dalam sebuah trayek. Lebih jauh, kehadiran kapal merupakan akses menuju mobilitas yang lebih aman, hubungan ekonomi yang lebih terbuka, serta pelayanan publik yang lebih dekat dengan masyarakat di pulau-pulau terluar.
Untuk diketahui Anos Yeremias, melakukan rangkaian kunjungan lapangan ke sejumlah pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya untuk melihat secara langsung kondisi pelayanan ketenagalistrikan serta rencana pengembangan infrastruktur listrik bagi masyarakat kepulauan dan wilayah perbatasan.
Perjalanan dilakukan dari satu pulau ke pulau lainnya dengan rute Pulau Moa – Pulau Metimiarang – Pulau Luang – Pulau Lakor – kembali ke Pulau Moa – Pulau Wetar – hingga Pulau Kisar.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Anos Yeremias turut didampingi oleh Manager PLN ULP Moa, Wahyudi Haspullah. (L05)




