Jogjakarta, LaskarMaluku.com – 

+ Ada di mana ?
# Di Yogya Mbah Yai
+ Sudah ke Probolinggo ?
# Sudah Mbah Yai. Sudah antar Rm Fadjar ke Kraksaan. Dari Kraksaan, lalu ke Surabaya dan langsung ke Yogya.
+ Jangan lupa pesan saya saat datang ke pondok..

Itu komunikasi pembuka antara KH Fathullah Suyuti Toha dan AM Putut Prabantoro melalui video call pada Selasa (16/06/2026) pukul 19.54. KH Suyuti yang panggilan akrabnya Mbah Yai (85) adalah ulama kharismatik pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi. Ia juga pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon. Sementara AM Putut Prabantoro adalah alumnus Lemhannas PPSA XXI, pegiat kebangsaan dan pengajar ideologi. Ia juga pendiri dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Komunikasi keduanya dijembatani oleh Suyanto, wartawan pribadi Mbah Yai.

“Mbah Yai seperti masih merindukan kehadiran Romo Fadjar dan mas Putut, meskipun baru dua hari lalu berkunjung ke Ponpes. Ini banyak tamu setelah kegiatan Istighosah Jamaah Dzikir Nurul Wathon, tadi siang. Menyambut tamunya, Mbah Yai nampak bahagia meskipun kurang istirahat sejak dua hari lalu. Ini menyempatkan untuk video call,” ujar Suyanto, wartawan Selendangsutera.id.

Yang dimaksud dengan Romo Fadjar atau lengkapnya, Rm. Damianus Fadjar Tedjo Soekarno adalah pastor paroki St. Paulus, Kraksaan, Probolinggo. Ia sahabat Mbah Yai sejak 25 tahun lalu dan sekaligus menjadi simpul persahabatan antara KH Suyuti Toha dan Putut Prabantoro. Pada Minggu (14/06/2026), Rm Fadjar mengantarkan Putut Prabantoro ke Ponpes Mansyaul Huda.

Kunjungan ke Banyuwangi ini lebih merupakan kunjungan balasan di samping silaturahmi. Pasalnya, pada akhir Mei lalu (30/05/2026), setelah berziarah ke makam Panglima Besar Jenderal Sudirman, secara mengejutkan KH Suyuti Toha berkunjung ke rumah Putut Prabantoro di Yogyakarta. Kunjungan itu dipimpin Mayjend TNI (Purn) Herianto Syahputra, teman satu kelas Putut Prabantoro di Lemhannas dan sekaligus Dewan Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathon. Pertemuan di Yogya itulah merupakan perjumpaan pertama kali antara Mbah Yai dan Putut Prabantoro.

PESAN KHUSUS
Menurut Putut, dalam kunjungan ke ponpes Mbah Yai dua hari lalu itu, ulama kharismatik itu dalam pertemuan empat mata menitipkan pesan khusus untuk bangsa dan negara, selain untuk dirinya. Dan pesan khusus itu, diulangi lagi KH Suyuti saat melakukan komunikasi via video call pada saat dirinya di Yogya.

“Mbah Yai tidak ingin Indonesia pecah dan meminta seluruh komponen bangsa pegang erat persatuan. Bangsa Indonesia harus mencegah dan terus mempertahankan agar sebagai bangsa, Indonesia tetap satu dan utuh serta jangan mudah diadu domba. Agama tidak boleh digunakan sebagai sumber perpecahan,” ujar Putut.

Bangsa Indonesia di manapun berada, sebagaimana yang dipesankan kepada Putut, harus memegang ukhuwah wathaniah dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Wathaniah yakni persaudaraan atau ikatan kasih sayang antar sesama warga negara yang hidup di dalam satu wilayah dan negara yang sama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan. Sementara Ukhuwah Basyariyah yakni persaudaraan universal antar sesama umat manusia. Persaudaraan ini bersifat inklusif dan tidak mengenal diskriminasi.

“Itu pesan Mbah Yai. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Mbah Yai karena terus mengingatkan saya tentang pesannya. Bahkan Mbah Yai sejak pertemuan pertama di Yogya telah menitipkan pesan itu,” ujar Putut.

Melalui video call itu, kembali Mbah Yai mengingatkan pesan khususnya untuk para pejabat ataupun mereka yang ingin mengabdi kepada negara. Siapapun yang akan dan yang sudah mengabdi kepada bangsa dan negara, ungkap Putut, harus bersikap dan berperilaku jujur dan ikhlas. Itu yang paling utama.

“Jika semua sudah bisa bersikap dan berperilaku jujur serta ikhlas, Allah akan mengangkat derajad dan martabatnya. Sikap ini, insya Allah, akan menghindarkan bangsa dan negara dalam situasi yang sulit. Sikap ikhlas dan jujur ini akan menumbuhkan sikap legawa. Dan kita pada saat ini membutuhkan sikap legawa. Dalam situasi seperti sekarang ini, pemerintah membutuhkan bantuan dari kita semua. Kita harus berdoa bersama-sama, “ kutip Putut atas pesan Mbah Yai yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

Suyanto menjelaskan bahwa giat Istighotsah Jama’ah Dzikir Nurul Wathon dalam rangka hari lahir ke-56 ponpes Mansya’ul Huda itu dihadiri ribuan jamaah. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pejabat pemerintah, TNI dan Polri. Kegiatan doa yang ditujukan untuk bangsa dan negara ini dilaksanakan di pondok serta berlangsung dengan lancar pada Selasa (16/06‘2026) dari pukul 13.00 hingga 15.20 Wib. (L02)