AMBON, LaskarMaluku.com — Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon terus memperkuat keterampilan masyarakat melalui pelatihan vokasi bidang bakery atau pembuatan roti dan kue. Pelatihan yang berlangsung di Desa Passo, Kecamatan Teluk Ambon Baguala, Rabu (21/10/2026), diikuti maksimal 16 peserta untuk meningkatkan kompetensi kerja, produktivitas, dan kemampuan merintis usaha mandiri.

Instruktur BPVP Ambon, Eunike Maheyn, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan dalam dunia kerja maupun pengembangan usaha. Peserta berasal dari berbagai wilayah di Kota Ambon dan sekitarnya.

Pelatihan Cake and Bekery 16 hari dari Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon yang berlangsung di Kawasan Transit Passo, Kamis (22/10/2026)

 

Menurut Eunike, materi pelatihan berfokus pada pengembangan kemampuan di bidang bakery, termasuk keterampilan yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai jenis roti dan kue. Kompetensi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk memasuki pasar kerja atau membangun usaha sendiri.

“Saya ditugaskan untuk melatih teman-teman di Kota Ambon dan sekitarnya untuk bagaimana mengembangkan diri dalam dunia bakery; tempat memproduksi atau menjual berbagai jenis roti,” kata Eunike Maheyn saat diwawancarai di sela-sela kegiatan pelatihan.

Ia menjelaskan, pelatihan tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang ingin bekerja di industri makanan, tetapi juga bagi mereka yang berminat membangun usaha mandiri. Karena itu, peserta diarahkan untuk memahami keterampilan produksi yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

“Jadi, di sini kita dilatih untuk bagaimana kita menyiapkan diri agar kita siap masuk di dalam dunia kerja atau di dalam dunia usaha. Jadi, untuk ibu-ibu atau teman-teman semua yang berada di Kota Ambon yang berminat untuk mengikuti pelatihan ini, kita masih buka lagi untuk pendaftaran, khususnya untuk program bakery di Kota Ambon,” ujar Eunike.

BPVP Ambon membatasi jumlah peserta dalam satu pelatihan maksimal 16 orang. Pembatasan tersebut diterapkan agar jumlah peserta sesuai dengan kapasitas kegiatan pelatihan. Jumlah peserta dapat kurang dari batas maksimal tersebut, bergantung pada jumlah pendaftar yang mengikuti program.

Eunike menyebutkan, pelatihan bakery merupakan salah satu dari sejumlah program vokasi yang telah dilaksanakan BPVP Ambon secara berulang. Pada 2026, kegiatan pelatihan telah memasuki gelombang atau batch keenam, setelah dimulai dari batch pertama pada awal Januari. Program berikutnya direncanakan berlanjut hingga batch ketujuh.

“Jadi, kami dari BPVP Ambon telah berulang kali melaksanakan kegiatan seperti ini. Sudah sangat banyak dari tahun ke tahun selalu dibuka pendaftaran, bukan hanya di bagian bakery, tetapi banyak jurusan yang bisa mengembangkan potensi anak-anak Maluku untuk lebih berkembang dalam bidang usaha maupun mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja,” jelasnya.

Pelatihan berlangsung selama kurang lebih 16 hari dengan total 160 jam pelajaran (JP), melalui metode pembelajaran teori dan praktik. Materi tersebut ditujukan untuk membantu peserta memahami proses pembuatan produk bakery, mulai dari pengolahan adonan hingga menghasilkan produk siap konsumsi yang berpotensi dipasarkan.

Pelaksanaan program dilakukan berdasarkan proposal yang diajukan oleh kelompok masyarakat, lembaga, atau organisasi, termasuk organisasi gereja. Eunike mengatakan mekanisme pengajuan tersebut menjadi salah satu dasar penyelenggaraan pelatihan bagi kelompok yang membutuhkan peningkatan keterampilan.

“Ini karena proposal sudah diajukan sebelumnya dari kelompok dan atau lembaga, organisasi gereja yang mengajukan proposal,” kata Eunike.

Setelah pelatihan di Desa Passo, program bakery BPVP Ambon direncanakan kembali berlangsung di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Rencana tersebut membuka peluang bagi kelompok masyarakat lain untuk memperoleh akses pelatihan sesuai program yang diselenggarakan.

Sementara itu, ibu Syulfine Nugita Sagat mengapresiasi adanya pelatihan ini. Karena menurutnya, melalui proses pelatihan ini ada manfaat yang didapat.
“Pertama-tama saya mengapresiasi, pihak Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon yang telah berikan kesempatan bagus kepada kami untuk ikut dalam kegiatan Bekery ini,” ucap Syulfine Nugita sembari memberikan contoh kalau sehari saja dirinya bisa dapat mempelajari dua sampai tiga macam jenis kue, yang hasilnya bisa dibawah pulang dan dinikmati anak-anak.
“Jadi teori dan praktik ini sangat membantu kami peserta dan dampaknya sangat berguna sekali,” pungkas Ibu Syulfine kelahiran Tasikmalaya Jawa Barat ini menuturkan.

Baik Ibu Ike maupun Ibu Syulfine menegaskan, Pelatihan vokasi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong peserta memanfaatkan kompetensi yang diperoleh untuk memperoleh pekerjaan atau mengembangkan usaha produktif. Untuk mencapai dampak tersebut, keterampilan lulusan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja serta peluang usaha di daerah.

Program ini sejalan dengan upaya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi. Namun, dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan keberlanjutan usaha peserta tetap memerlukan tindak lanjut, termasuk pemantauan alumni, perkembangan usaha, serta kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar.

Pelatihan selama 16 hari untuk meningkatkan keterampilan kerja, produktivitas, dan peluang usaha mandiri. (L05)