AMBON, LaskarMaluku.com – Bakal calon Ketua DPD II Partai Golkar Kota Ambon, Steven Risakotta, mempersoalkan proses pencalonannya dalam Musyawarah Daerah (Musda) X Partai Golkar Kota Ambon.

Steven menilai aturan yang digunakan Steering Committee (SC) dalam tahapan pendaftaran berpotensi menggugurkan dirinya dari proses pencalonan.

Hal itu disampaikan Steven dalam wawancara eksklusif dengan media ini melalui sambungan telepon, Senin (5/10/2026).

Steven yang kini tercatat dalam kepengurusan DPD I Partai Golkar Provinsi Maluku sebagai Wakil Sekretaris II, mengaku keberatan dengan proses pengambilan hingga pengembalian formulir pendaftaran.

Menurutnya, sejak awal timnya telah menggunakan surat kuasa untuk mengambil formulir. Namun, proses tersebut disebut sempat dipersoalkan oleh SC.

“Pada saat tim saya datang mengambil formulir, tim saya menggunakan surat kuasa. Kenapa malah dihambat? Ini sangat aneh,” kata Steven.

Ia menilai penggunaan surat kuasa merupakan bagian dari hak kader yang mengikuti proses pendaftaran, terlebih sebelumnya disampaikan bahwa siapa pun kader yang memenuhi ketentuan diberikan kesempatan untuk mendaftar.

Persoalan Kembali Muncul Saat Proses Pengembalian Formulir

Steven menjelaskan, dirinya saat itu memiliki agenda yang tidak dapat ditinggalkan. Timnya kemudian melakukan komunikasi melalui video call dengan dirinya sebagai bentuk konfirmasi bahwa dokumen yang diserahkan benar-benar atas persetujuannya.

“Saya sudah video call. Tim menelepon untuk memastikan sebagai bentuk verifikasi bahwa berkas saya sudah diserahkan dan saya menyatakan siap maju bertarung,” ujarnya.

Namun, kata Steven, menjelang batas akhir pengembalian berkas, dirinya mendapat informasi dari Saka Ririhena agar hadir pada Senin untuk proses selanjutnya.

Ia mempertanyakan dasar permintaan tersebut karena menurutnya verifikasi faktual seharusnya dilakukan dalam forum Musda.

“Kenapa harus datang hari Senin? Mau verifikasi faktual? Verifikasi faktual itu kan dilakukan di arena Musda,” tegasnya.

Steven menduga mekanisme tersebut digunakan untuk menghambat dirinya dalam proses pencalonan.

“Sangat disayangkan kalau cara-cara seperti ini dipakai untuk menjegal atau menolak pencalonan saya,” katanya.

Sebelumnya, proses pencalonan Steven memang telah menjadi bagian dari dinamika Musda Golkar Kota Ambon. Pada April 2026, berkas Steven disebut telah diterima SC dan dinyatakan lengkap secara administrasi, sementara tahapan verifikasi faktual masih akan dilakukan.

Musda X Golkar Kota Ambon sendiri sebelumnya sempat diskors tanpa batas waktu pada 30 April 2026 setelah agenda Musda berlangsung. DPD Golkar Maluku kemudian melakukan koordinasi dengan DPP Partai Golkar terkait kelanjutan forum tersebut.

Dalam perkembangan terbaru, pendaftaran bakal calon kembali dibuka pada awal Oktober 2026. Sejumlah pemberitaan menyebut Ely Toisuta dan Steven Risakotta masuk dalam dinamika pencalonan, sementara proses pendaftaran kemudian kembali memunculkan polemik terkait kehadiran fisik Steven saat pengembalian berkas.

Steven menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan siapa yang nantinya terpilih memimpin Golkar Kota Ambon.

Menurut dia, seluruh kader harus diberikan ruang untuk mengikuti proses demokrasi internal partai sesuai aturan yang berlaku.

“Siapa pun yang terpilih dan siapa pun yang akan dipilih oleh teman-teman kecamatan, sayap maupun organisasi pendiri, saya rasa tinggal kita membesarkan diri kita,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Partai Golkar memiliki Mahkamah Partai sebagai ruang untuk menyelesaikan persoalan internal apabila terdapat kader yang merasa dirugikan dalam proses organisasi.

“Di Partai Golkar ini punya tempat untuk kita mengadu, yakni Mahkamah Partai. Di situlah tempat kita mengadu terhadap segala sesuatu yang dibuat oleh segelintir orang di Partai Golkar,” katanya.

Steven juga mempertanyakan sikap SC yang menurutnya berbeda dibandingkan komunikasi yang terjadi pada April 2026.

Ia mengaku sebelumnya memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan Saka Ririhena.

“Pada bulan April kemarin Saka sangat dekat dengan saya, selalu memuji-muji saya. Kenapa sekarang melupakan apa yang terjadi pada April? Kenapa tidak dikoreksi saya saat itu? Kenapa sekarang menjegal saya banget?” ujar Steven.

Selain mempersoalkan SC, Steven juga menyoroti komunikasi internal di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Ambon, Ely Toisuta.

Menurut Steven, komunikasi antarkader dan pengurus penting dilakukan agar dinamika internal tidak berkembang menjadi keretakan.

Ia menilai persoalan komunikasi tersebut perlu menjadi perhatian dalam proses konsolidasi Partai Golkar Kota Ambon.

“Hubungan komunikasi agar tidak terjadi keretakan di antara sesama pengurus partai, ini yang tidak pernah dilakukan oleh Plt,” katanya.

Steven juga menyinggung pernyataan Ely Toisuta yang disebut mengaku tidak mengenalnya.

Menurut Steven, sebagai sesama kader, semestinya komunikasi tetap dibangun tanpa mengedepankan ego pribadi.

“Sesama kader tidak usah ego. Sebagai seorang pemimpin harus bijaksana dan menunjukkan profesionalitas serta kedewasaan dalam berpolitik,” ujarnya.

Ely Toisuta sebelumnya memang telah ditunjuk DPD I Partai Golkar Maluku sebagai Plt Ketua DPD II Golkar Kota Ambon untuk memastikan roda organisasi berjalan sekaligus mempercepat pelaksanaan Musda.

Steven menegaskan, dirinya tetap akan memperjuangkan haknya untuk mengikuti proses Musda sesuai aturan organisasi.

Ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam SC menjalankan tugas secara objektif dan memberikan ruang yang sama kepada seluruh kader yang ingin maju.

“Kalau memang mereka SC menjegal saya, kasih tahu saja dari awal. Sudah, kita anggap tidak terima Steven Risakotta. Tapi jangan menggunakan cara-cara seperti ini,” pungkasnya.

Musda X Partai Golkar kota Ambon direncanakan berlangsung Kamis (8/10/2026 di Swissbel hotel, dengan agenda mengukuhkan Ibu Ely Toisuta sebagai ketua DPD II Partai Golkar kota Ambon. Sementara pengurus Golkar kota yang merasa keberatan boleh memilih parpol lain sebagai tempat berlabuh di kemudian hari.
Golkar dibawah kepemimpinan Umar Lessy sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Maluku diberbagai kabupaten kota mengalami krisis kepercayaan (L05)