Jayapura, LaskarMaluku.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) terus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program Electrifying Agriculture berbasis Smart Farming di Kampung Waibron, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura.
Program yang merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini mengusung pemanfaatan teknologi irigasi sprinkler otomatis berbasis listrik untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Inisiatif ini sekaligus menjadi implementasi pendekatan Creating Shared Value (CSV), yang mengintegrasikan kepentingan bisnis perusahaan dengan pemberdayaan masyarakat.
Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIP MPA, Landi Partoguan Simanjuntak, menjelaskan bahwa program dirancang berbasis kebutuhan riil masyarakat melalui proses social mapping, sehingga mampu menjawab tantangan di sektor pertanian secara tepat sasaran.
“Kami tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi memastikan program ini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Potensi hortikultura di Papua dinilai cukup besar, namun masih dihadapkan pada kendala klasik seperti sistem irigasi manual dan rendahnya efisiensi penggunaan air. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya produktivitas, serta tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.
Sebagai solusi, PLN UIP MPA mengembangkan learning farm seluas 500 meter persegi di Kampung Waibron sebagai pusat pelatihan dan demonstrasi pertanian modern. Melalui fasilitas ini, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan mulai dari penggunaan irigasi otomatis, teknik pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Implementasi teknologi ini terbukti meningkatkan efisiensi budidaya secara signifikan. Proses penyiraman yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam kini dapat dilakukan dalam hitungan menit, sehingga menghemat tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air dan energi.
Selain itu, kualitas dan kuantitas hasil panen komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, sawi, dan kangkung juga mengalami peningkatan yang lebih stabil. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan pendapatan petani dan membuka peluang pengembangan usaha yang lebih luas.
General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“PLN tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga bagaimana energi dapat dimanfaatkan untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Electrifying Agriculture menjadi wujud nyata kontribusi PLN dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Kami melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat. Dengan demikian, program ini memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang dan berkelanjutan,” tambahnya.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Pelita Jaya Makmur sebagai penggerak utama dalam operasional dan pemeliharaan sistem. Pendekatan partisipatif ini diperkuat melalui kolaborasi multipihak bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera, Komunitas Kitorang, Universitas Cenderawasih, serta pemerintah daerah.
Tidak hanya memberikan dampak ekonomi, program ini juga mendorong perubahan sosial dan lingkungan, antara lain melalui efisiensi penggunaan air, pengurangan potensi erosi, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap praktik pertanian berkelanjutan.
Secara kinerja, program ini mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 3,57 (89,29) dengan kategori sangat baik, serta nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1,07 yang menunjukkan bahwa manfaat sosial yang dihasilkan lebih besar dibandingkan investasi yang dikeluarkan.
Ke depan, PLN UIP Maluku dan Papua menilai program Electrifying Agriculture ini memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai wilayah lain dengan karakteristik serupa.
“Kami berharap program ini dapat menjadi model inspiratif dalam pengembangan pertanian berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” tutup Raja. (L02)




