AMBON, LaskarMaluku.com – Sebanyak 66 perusahaan bersama unsur pemerintah pusat dan daerah mengikuti kegiatan Dialog Informasi Pasar Kerja yang digelar oleh Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pusat Pasar Kerja di Ambon, Maluku.

Kegiatan ini dalam upaya memperkuat kolaborasi dan sinergitas antara dunia industri dan pemerintah guna meningkatkan penyerapan tenaga kerja, memperluas akses informasi lowongan kerja, serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan sesuai kebutuhan pasar kerja.

Dialog ini menghadirkan sekitar 100 peserta yang terdiri dari perwakilan perusahaan, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon, serta Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah Ambon. Sejumlah pejabat dan narasumber dari Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan turut hadir sebagai pembicara utama, termasuk Kepala Pusat Pasar Kerja, Sigit Aryprasetyo, bersama timnya.

Dialog ini menjadi forum strategis untuk membahas Sistem Informasi Pasar Kerja (SIPK) atau platform Pasker ID yang dikembangkan pemerintah guna menyediakan data real-time terkait permintaan dan penawaran tenaga kerja. Data tersebut mencakup jenis pekerjaan, kualifikasi, lokasi, hingga standar upah, yang bertujuan mempertemukan pencari kerja dan pemberi kerja secara lebih efisien.

Dalam pemaparannya, Kepala Pusat Pasar Kerja menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam mendorong keterbukaan informasi dan pemerataan akses kerja, khususnya di wilayah timur Indonesia.

“Kegiatan hari ini kita dari Kementerian Tenaga Kerja khususnya Pusat Pasar Kerja mengadakan dialog informasi pasar kerja kepada seluruh peserta, dengan maksud melakukan kolaborasi dan sinergitas antara dunia industri dengan pemerintah, khususnya melalui platform Siap Kerja Kemenaker, agar masyarakat Maluku mendapatkan informasi kerja yang valid dan kesempatan yang sama,” kata Kepala Pusat Pasar Kerja, Sigit Aryprasetyo kepada Laskar Maluku.com usai kegiatan dialog Informasi Pasar Kerja yang berlangsung di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis sore, (16/04/2026)

Ia juga menyoroti masih rendahnya keterbukaan informasi lowongan kerja oleh perusahaan, yang berdampak pada tidak optimalnya penyerapan tenaga kerja lokal.

“Perusahaan kalau punya lowongan pekerjaan jangan disimpan, tolong sampaikan kepada masyarakat bahwa sedang membuka rekrutmen, supaya putra-putri Maluku tidak kehilangan kesempatan kerja di daerahnya sendiri,” ujar Sigit Aryprasetyo.

Lebih lanjut, pemerintah melalui Kemenaker juga menyiapkan program pelatihan vokasi sebagai solusi atas ketidaksesuaian (mismatch) antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Program ini dijalankan melalui BPVP Ambon, yang menyediakan fasilitas peningkatan keterampilan (upskilling) dan alih keterampilan (reskilling) bagi pencari kerja.

Fenomena ketidaksesuaian antara program studi dengan kebutuhan pasar kerja turut menjadi sorotan dalam dialog tersebut. Banyak lulusan pendidikan yang tidak terserap karena jurusan yang diambil tidak relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, terutama di tengah disrupsi teknologi.

“Kami mendorong adanya sinergi antara Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Ristek agar pembukaan program studi benar-benar berbasis kebutuhan industri, sehingga tidak terjadi over supply tenaga kerja yang tidak terserap,” jelas Sigit Aryprasetyo.

Selain itu, program magang nasional yang didukung pemerintah juga menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pengalaman kerja bagi lulusan baru. Saat ini, program tersebut telah menjangkau sekitar 100.000 peserta di seluruh Indonesia, dengan harapan dapat meningkatkan peluang rekrutmen langsung oleh perusahaan.

Dalam konteks pengembangan wilayah, kesiapan SDM Maluku menjadi faktor krusial menjelang rencana investasi dan pembangunan industri di masa depan. Pemerintah menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dan menjadi prioritas dalam penyerapan tenaga kerja, khususnya dalam menghadapi investasi ratusan triliun rupiah dari Blok Masela nanti.

“Kami dari Kementerian Ketenagakerjaan bertugas menyiapkan tenaga kerja yang siap dan kompeten. Ketika investasi masuk ke Maluku, SDM kita harus sudah siap bertarung. Ini dilakukan melalui pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri,” tegas Sigit Aryprasetyo.

Dialog ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang terintegrasi, transparan, dan responsif terhadap dinamika pasar kerja, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Maluku untuk mengakses pekerjaan yang layak dan berkelanjutan. (L05)