AMBON, LaskarMaluku.com – Politeknik Negeri Ambon (Polnam) telah menyelesaikan program Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di tujuh negeri di Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah-Maluku.

Bertempat di ruang rapat Polnam, Direktur Politeknik Negeri Ambon, Marceau Amstrong Filex Haurissa, memimpin jalannya acara serah terima dimaksud di temani Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Ambon, Pieter Lourens Frans, dan Camat Nusalaut, Glen Masella.

Acara Serah Terima produk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dana PNBP tahun Anggaran 2025 di kecamatan Nusalaut.
turut dihadiri tujuh Pemerintahan negeri, perwakilan SMP Negeri 19 Titawai Nusalaut dan para dosen peneliti. Para raja dimaksud adalah raja Abubu, raja Akoon, raja Ameth, raja Leinitu, Raja Nalahia, raja Titawai minus raja Sila berhalangan hadir.

Program riset dan penelitian itu menggunakan dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di tahun 2025 dikoordinir oleh ibu Diar Tangke selaku Koordinator Penelitian.

Sebelum program dieksekusi tim penelitian Polnam melakukan survei tahun 2024 guna mengetahui apa yang menjadi kebutuhan di masyarakat Kecamatan Nusalaut.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Ambon, Dr Pieter Lourens Frans, ST., M.T mengemukakan; Hasil survei dan hasil kajian ternyata ada dua kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi tim peneliti.

Pertama tentang teknologi terapan yang kedua menyangkut pemberdayaan Teknologi terapan.

“Yang kami bawakan disana, salah satunya adalah pembuatan energi matahari untuk penggunaan pompa sumur dan teknologi digitalisasi untuk administrasi desa dan administrasi kantor camat (kecamatan red), dalam bentuk aplikasi dan Tv digital yang bisa diakses langsung,”ujar  Pieter Frans.

Ada lagi teknologi lain seperti menyangkut informasi pariwisata melalui Smart Board. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu mempercepat tranformasi digital ditingkat pemerintahan negeri sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan pengembangan potensi ekonomi lokal disana.

Sistem teknologi lain yang dirancang berupa dokumen teknis desain engineering untuk penanggulangan abrasi atau pengikisan pasir akibat ombak.

Pemberdayaan

Sistem pemberdayaan kepada masyarakat di tujuh (7) negeri di Kecamatan Nusalaut lebih banyak diarahkan pada pelatihan Bumdes, sistem penganggaran desa bahkan bisnis papalele dari ibu-ibu setempat yang disesuaikan dengan potensi sumber daya alam (SDA) yang terdapat di masing-masing negeri di Kecamatan Nusalaut.

“Pemberdayaan itu banyak dilakukan terhadap pelatihan BUMdes, sistem penganggaran desa termasuk usaha bisnis papalele dari masyarakat setempat disesuaikan dengan potensi SDA yang terdapat pada masing-masing negeri, disertai dengan pemberian buku panduan dan SOP,” ujar Lourens Frans.

Produk yang dihasilkan itu diharapkan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat serta memperkuat kesejahteraan di tujuh negeri di Kecamatan Nusalaut.

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) adalah lembaga usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan kekayaan desa yang dipisahkan. Lembaga ini dibentuk untuk mengelola aset, pelayanan umum, dan usaha produktif demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Tujuan Utama BUMDes Meningkatkan Perekonomian Desa: Mengembangkan potensi ekonomi lokal sesuai dengan karakteristik dan ketersediaan sumber daya di desa.

Dasar Hukum

Pembentukan BUMDes diatur secara resmi oleh pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan diperbarui melalui peraturan turunan seperti Peraturan Pemerintah (PP) terkait Badan Usaha Milik Desa. Kendati begitu, pemerintah terkesan mengabaikan program pemberdayaan terhadap masyarakat

Alasan

Alasan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Ambon di Kecamatan Nusalaut lantaran
Polnam dengan visinya tentang pendidikan profesional dibidang Vokasi yang berbasis gugus pulau, yakni dalam bentuk program pendidikan dan pengabdian terhadap gugus pulau.

Tim telah merencanakan agar program serupa dilaksanakan tahun depan ke Kecamatan Tehoru, Pulau Seram.

Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2025, tentang kebutuhan yang mendasar di kecamatan Tehoru, dibuat dalam polisey break yang diserahkan ke Politeknik yang nantinya ditindaklanjuti oleh pusat penelitian dan pengabdian.

“Teman-teman pengabdi untuk melakukan penelitian dan pengabdian berdasarkan kebutuhan di kecamatan Tehoru di tahun 2026 ini. Jadi sebenarnya metodenya sama, untuk di Nusalaut kemarin itu kita buat kajian dulu di tahun 2024, apa yang menjadi kebutuhan kecamatan Nusalaut kita eksekusinya di tahun 2025,” beber Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Ambon, Pieter Lourens Frans, dalam sebuah wawancara khusus dengan media Laskar Maluku.com, usai acara serah terima produk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dana PNBP tahun Anggaran 2025 di Kecamatan Nusalaut yang dilaksanakan di ruang rapat Polnam, Kamis (2/7/2026).

Ia akui kalau progam serupa telah dilaksanakan sebelumnya. Dan pada tahun 2023 Polnam menggagasnya pada program gugus Pulau dan yang kedua metode yang dilakukan adalah perubahan yaitu bukan pada keinginan peneliti tapi pada Keinginan Masyarakat.

“Jadi peneliti ditantang apa yang menjadi kebutuhan masyarakat jadi bukan keinginan peneliti untuk menghasilkan hasil penelitiannya tetapi apa yang menjadi kebutuhan dihasilkan lewat penelitian, jadi kita bulabalik cara berpikirnya,” jelasnya

Kenapa Demikian? Karena penelitian Politeknik Negeri Ambon adalah menganut “Penelitian Teknologi Terapan Pendidikan Vokasi. Misi Vokasi dia tidak memaksa keinginan peneliti tapi apa yang menjadi tantangan masyarakat harus terjawab.

Pihak Politeknik Negeri Ambon berharap ada kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan desa untuk ikut mendukung kegiatan riset dan penelitian yang dilakukan Polnam dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya anggaran untuk kebutuhan yang peruntukannya untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup warga dielaborasi bersama. Sebab jika hanya dengan menggunakan
dana PNBP mahasiswa, tentu sangat terbatas.

“Sebenarnya dana-dana dari masyarakat desa maupun pemerintah kalau bisa menjadi bagian yang kita bisa nikmati bersama melalui sebuah kolaborasi maka memberikan dampak yang lebih besar untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat karena kita hanya menjalankan penelitian yang hasil berasal dari PNBP mahasiswa yang dibawakan ke masyarakat tapi kalau ada anggaran pemerintah yang bisa mendukung program riset dan penelitian ini maka manfaatnya sangat besar,” ingat Piter Lourens Frans. (L05)