Rancangan menggunakan panel surya berkapasitas 2,76 kWp, baterai 24 volt–100 Ah, dan kontrol timer–kontaktor. Berdasarkan pemodelan, pompa diperkirakan dapat beroperasi sekitar 4,5 hingga 5,5 jam per hari.

AMBON, LaskarMaluku.com — Tim peneliti Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Ambon merancang sistem pompa air berbasis energi surya dan baterai untuk membantu menjaga kontinuitas pasokan air bersih bagi masyarakat Negeri Sila, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah.

Penelitian yang dipimpin Luwis Herman Laisina itu mengembangkan rancangan sistem energi alternatif untuk mengoperasikan pompa submersible berdaya 2,2 kilowatt. Pompa tersebut digunakan untuk mengalirkan air menuju bak penampung berkapasitas 96 meter kubik sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga secara gravitasi.

Luwis Herman Laisina menjelaskan, sistem penyediaan air di Negeri Sila masih bergantung pada pasokan listrik PLN. Berdasarkan laporan penelitian, air dari sumber dipompa menuju bak yang berada di bagian lebih tinggi dari permukiman, kemudian dialirkan melalui jaringan pipa kepada lebih dari 150 rumah tangga.

“Ketergantungan terhadap listrik menjadi persoalan ketika terjadi pemadaman. Gangguan listrik selama 24 hingga 48 jam disebut dapat menghentikan pengoperasian pompa dan menyebabkan cadangan air di bak penampung berkurang hingga berpotensi memicu krisis air bersih,”jelas Laisina kepada media ini, Sabtu (25/7/2026).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti merancang sistem yang mengintegrasikan panel surya, baterai, solar charge controller, inverter, pompa air, serta pengendali waktu berbasis timer dan kontaktor.

Berdasarkan perhitungan teknis, sambung Laisina, kapasitas panel surya yang direkomendasikan adalah sekitar 2,76 kWp atau enam panel berkapasitas masing-masing 460 watt-peak. Sistem tersebut dilengkapi baterai 24 volt–100 ampere-jam, solar charge controller berkapasitas 100 ampere, serta inverter berdaya kontinu 4,2 kilowatt.

“Timer dan kontaktor digunakan untuk mengatur waktu pompa menyala dan berhenti secara otomatis. Pendekatan ini dipilih karena lebih sederhana dan mudah dipelihara dibandingkan sistem yang menggunakan mikrokontroler, Internet of Things, atau perangkat kendali lain yang memerlukan kemampuan teknis lebih tinggi,”jelasnya lagi.

Dirinya menambahkan, dalam rancangan tersebut, energi matahari menjadi sumber utama ketika intensitas penyinaran tinggi. Baterai berfungsi sebagai penyangga ketika energi dari panel surya berfluktuasi, bukan sebagai sumber untuk menjalankan pompa sepanjang malam.

Kondisi pompa atau bak penampung air berkapasitas 96 meter kubik yang menjadi objek kajian sistem energi surya–baterai di Negeri Sila

 

Hasil pemodelan, kata Laisina menunjukkan bahwa kombinasi panel surya dan baterai berpotensi mengoperasikan pompa sekitar 5,23 hingga 5,50 jam per hari pada periode April hingga Oktober. Pada Januari hingga Maret serta November dan Desember, lama operasi diperkirakan berada pada kisaran 4,52 hingga 4,96 jam per hari.

Baterai 24 volt–100 Ah diproyeksikan memberikan tambahan waktu operasi sekitar 0,7 hingga 0,8 jam per hari. Agar energi dimanfaatkan secara optimal, pengoperasian pompa direkomendasikan berlangsung pada periode puncak penyinaran matahari, sekitar pukul 10.00 hingga 15.00.

Ia mengatakan, rancangan itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan sistem pemompaan air terhadap jaringan listrik konvensional sekaligus memanfaatkan sumber energi terbarukan yang tersedia di wilayah kepulauan.

Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa angka kinerja tersebut masih berasal dari perhitungan dan pemodelan berdasarkan karakteristik pompa, spesifikasi komponen, serta nilai Peak Sun Hours wilayah setempat. Pemasangan dan pengujian sistem secara langsung di Negeri Sila belum dilakukan.

Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji kemampuan sistem dalam menghadapi perubahan cuaca, lingkungan pesisir, lonjakan arus ketika pompa dinyalakan, serta gangguan listrik PLN. Pengujian juga dibutuhkan untuk menilai keandalan komponen, kebutuhan pemeliharaan, dan kemudahan pengoperasian oleh masyarakat dalam jangka panjang.

Apabila hasil uji lapangan sesuai dengan perhitungan, rancangan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai alternatif penyediaan air bersih bagi desa-desa pesisir dan kepulauan yang menghadapi keterbatasan atau ketidakstabilan pasokan listrik. (L02)