AMBON, LaskarMaluku.com – Pendidikan dan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (Diklat BCKS) ditutup dengan misa syukur yang dipimpin oleh Uskup Diosis Keuskupan Amboina, Mgr Seno Ngutra.
Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) ini di laksanakan di kompleks Wisata Rohani Air Louw, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, selama 10 hari yakni dari tanggal 7-16 September 2026 atas elaborasi MPK Keuskupan Amboina dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Maluku, untuk Tranformasi Pendidikan.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi manajerial, supervisi akademik, kepemimpinan, kewirausahaan, dan sosial guna mencetak pemimpin satuan pendidikan yang transformatif dan visioner, serta semangat pelayanan Kristiani dalam mengelola satuan pendidikan Katolik.
Pelatihan yang berlangsung selama sepuluh hari itu diikuti oleh 22 peserta dari berbagai unit sekolah tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA di bawah naungan Yayasan Katolik baik Maluku dan Maluku Utara.
Membangun Pemimpin Yang Visioner Dan Berkarakter
Uskup Mgr Seno Ngutra mengemukakan, Diklat Pendidikan dan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah dirasa sangat penting
Menurut Monsignor, jika berkaca ditengah kondisi global saat ini, karakter dan mental para pemimpin bangsa sangat tidak relevan.
Kendati begitu, proses diklat yang diikuti oleh para bakal calon kepala sekolah ini diharapkan bisa hikmah dan bijaksana ketika dipercayakan menjadi pemimpin nantinya.
“Kalau kita melihat dunia secara keseluruhan, dan Indonesia secara khusus, kita melihat karakter para pemimpin sangat bobrok, baik dari sisi integritas, moralitas, karna itu Diklat seperti ini sebagai jawaban atas morosotnya karakter para pemimpin,”tegas Bapa Uskup.
“Mereka yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pimpinan yang berkarakter baik,” kata Mgr Seno Ngutra.
Seorang pemimpin yang berkarakter baik, dia akan menjadi contoh bagi para bawahannya termasuk para peserta didik.
“Diklat ini pertama-tama bukan untuk mengisi otak mereka dari sisi pengetahuan dan keterampilan akan tetapi pembentukan karakter para kepala sekolah yang baik dan bijaksana,” ujar Uskup Seno Ngutra, kepada media ini usai memimpin misa syukur di gereja Materdey Wisata Rohani Katolik Air Louw, Rabu (16/9/2026).
Mgr Seno Ngutra berharap, materi yang diterima pada kegiatan Diklat BCKS ini, dapat diwujudnyatakan kepada guru dan siswa pada sekolah yayasan katolik dimana mereka mengabdi.

Ketua YPK Keuskupan Ambon dan Ketua MPK Keuskupan Amboina. RD. Agustinus Arbol, SS., MM saat memberi sambutan
Sementara itu, Ketua YPK Keuskupan Ambon dan Ketua MPK Keuskupan Amboina. RD. Agustinus Arbol, SS., MM, dalam pesannya mengawalinya dengan kata bijak dari mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.”
Kata-kata ini menegaskan bahwa perubahan besar pada masyarakat tidak dimulai dari kekuatan fisik atau politik, melainkan dari transformasi pola pikir dan karakter manusia.
Jika pendidikan adalah “senjata” untuk mengubah dunia, maka kepala sekolah adalah komandan strateginya, dan pelatihan calon kepala sekolah adalah proses mengasah ketajaman senjata tersebut.
Hubungan antara pesan Mandela dengan pelatihan calon kepala sekolah mencakup beberapa hal utama. Romo Agus Arbor pun menuturkan hal tersebut yakni :
- Menyiapkan “Arsitek Perubahan”, Bukan Sekadar Administrator
Mengubah dunia membutuhkan pemimpin yang punya visi besar. Pelatihan calon kepsek memastikan para calon pemimpin tidak terjebak dalam rutinitas birokrasi, melainkan dilatih menjadi agent of change yang mampu merancang masa depan sekolah, memotivasi guru, dan membangun karakter murid.
- Menjamin Ketepatan Sasaran dan Efektivitas
Senjata sehebat apa pun akan sia-sia jika dipegang oleh orang yang tidak terlatih.
“Melalui pelatihan, calon kepsek dibekali ilmu kepemimpinan, manajemen konflik, dan strategi pembelajaran agar “senjata pendidikan” di sekolahnya benar-benar ampuh menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat lokal,” ingat ketua YPK, MPK Komdik Keuskupan Amboina, RD Agus Arbol
- Menciptakan Multiplier Effect (Dampak Berantai)
Perubahan tidak terjadi secara acak. Ketika satu calon kepala sekolah dilatih dengan baik, ia akan membawa dampak langsung kepada puluhan guru yang ia pimpin, yang pada akhirnya mempengaruhi ratusan hingga ribuan siswa. Menggembleng seorang kepala sekolah sama dengan mengasah ribuan calon pembawa perubahan di masa depan.
- Pentingnya Integritas dan Nilai Moral
Pendidikan baru menjadi senjata yang membangun (bukan merusak) jika berlandaskan nilai, etika, dan integritas.
“Pelatihan calon kepsek adalah ruang untuk menempa karakter kepemimpinan yang melayani, adil, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Menyiapkan calon kepala sekolah lewat pelatihan yang matang adalah langkah paling konkrit untuk memastikan bahwa “senjata” bernama pendidikan itu benar-benar siap dan efektif untuk mengubah dunia
Kata-kata ini menegaskan bahwa, perubahan terbesar dari masyarakat adalah bukan dari kekuatan fisik melainkan perubahan pada karakter.
“Jika pendidikan adalah senjata untuk mengubah dunia maka kepala sekolah itu adalah pembinaan strateginya,” ungkap RD Agus Arbol yang adalah Ketua YPK Keuskupan Ambon dan Ketua MPK Keuskupan Amboina.
Dikatakan, banyak wawasan baru, terutama terkait cara mengatasi tantangan manajerial di era digital.
“Pelatihan ini sangat membuka mata kami bahwa memimpin sekolah butuh strategi yang matang, ketulusan hati, serta komitmen untuk terus belajar mendampingi para guru dan siswa,”ungkap salah satu peserta ketika dipercayakan membawa kesan dan pesan.

Pelepasan tanda kepesertaan oleh Mgr Seno Ngutra
Kegiatan ditutup dengan pelepasan tanda kepesertaan oleh yang mulia Uskup Keuskupan Amboina, Mgr Seno Ngutra usai Ekaristi syukur sebagai simbol penyerahan tugas pelayanan pendidikan kepada Tuhan.
Melalui pelatihan ini, yayasan berharap lahir generasi pemimpin baru yang siap membawa sekolah Katolik semakin unggul, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat luas. Misa syukur ditutup dengan sesi foto bersama dilanjutkan dengan jamuan makan bersama di halaman KPA Xaverianum di Dusun Air Louw, Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. (L05)







