AMBON, LaskarMaluku.com – Ketua Pelaksana FORKOM FKIP Negeri di kota Ambon, Dr Agustinus Ufie, S.Pd.,M.Pd mengatakan jumlah peserta Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPPTK) yang akan menghadiri kegiatan FORKOM FKIP Negeri di kota Ambon diperkirakan mencapai 500 orang.

“34 LPPTK FKIP negeri se-Indonesia dan estimasi jumlahnya itu 500 orang, kemarin waktu pertemuan selanjutnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang saya ikut disana karena saya ketua panitia itu beberapa universitas telah melaporkan diri untuk menghadirinya,” kata Ketua Pelaksana FORKOM FKIP Negeri, FKIP Unpatti, Agus Ufie, kepada Laskar Maluku.com, di Kampus FKIP Unpatti Ambon, Kamis (23/7/2026).

FORKOM FKIP adalah Forum Komunikasi Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Negeri se-Indonesia. Ini merupakan wadah koordinasi, kerja sama, dan konsultasi strategis bagi para pimpinan (Dekan, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, dan Ketua Program Studi) dari seluruh FKIP Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia.

Menurutnya alasan kota Ambon sebagai tuan rumah karena kota dengan julukan Ambon manise atau julukan lainnya kota musik, menjadikan 34 LPPTK FKIP negeri se-Indonesia bersemangat untuk hadir sekaligus menyaksikan dari dekat keunikan yang dimiliki kota Ambon. Apalagi semenjak kota Ambon dipimpin oleh Bodewin Melkias Wattimena, terdapat berbagai indikator keberhasilan, dan ini ditunjang oleh masyarakat yang mendiami kota ini. Seraya mencontohkan Kota Ambon meraih Peringkat I Manise Treasury Award (MATRA) sebagai pemerintah daerah dengan kinerja terbaik dalam penyaluran Dana Desa lingkup Provinsi Maluku pada Semester I Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku dan dituangkan dalam Piagam Penghargaan Nomor SER-28/WPB.32/2026 tertanggal 22 Juli 2026.
.
Menurutnya, pada Forkom tahun lalu di Tanjung Pinang, FKIP Unpatti bersaing dengan beberapa FKIP Negeri lainnya, untuk menjadi tuan rumah.
FKIP Negeri yang bersaing menjadi tuan rumah itu antara lain: FKIP Negeri Universitas Cenderawasih (Uncen) Unsrad, Universitas Cendana, Universitas Negeri Manado, Universitas Negeri Medan, dan lain-lain.
“Kita dipercayakan jadi tuan rumah lantaran saat presentasi FKIP Unpatti memiliki beberapa keunggulan kompetitif di berbagai program studi, disamping ketertarikan peserta untuk melihat dari dekat Ambon sebagai kota musik, Ambon Manise,” ujar mantan Bendahara KONI Maluku dan Ketua Komda Pemuda Katolik Maluku ini kemukakan.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah peluncuran berbagai kompetisi berskala nasional hingga internasional yang dirancang khusus untuk mengasah kemampuan mahasiswa calon guru.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dari Bumi Raja-Raja, Maluku, FKIP Universitas Pattimura mampu menghadirkan gagasan-gagasan besar. Kami ingin membangun branding bahwa FKIP Unpatti memiliki kualitas yang tidak kalah dengan FKIP di berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia,” katanya.

Beragam kegiatan telah disiapkan, mulai dari International Micro Teaching Competition, lomba karya tulis ilmiah tingkat internasional, debat Bahasa Inggris, debat Bahasa Indonesia, lomba pop song, kompetisi vlog bertema kearifan lokal, hingga musikalisasi puisi.

Musikalisasi puisi menjadi salah satu kegiatan yang paling membedakan FORKOM tahun ini. Menurutnya, kegiatan tersebut sengaja dihadirkan sebagai identitas budaya Maluku yang dikenal sebagai Kota Musik Dunia.

“Bagi kami, sastra dan musik merupakan bagian dari identitas Maluku. Lewat musikalisasi puisi kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dapat dipadukan dengan seni dan kreativitas,” jelasnya.

Seluruh rangkaian kegiatan FORKOM tahun ini mengusung tema “Manggorebe Tomomaju – Harmony in Diversity”, sebuah filosofi yang menggambarkan semangat membangun Maluku dan Indonesia melalui keberagaman, kolaborasi, serta pendidikan yang berkualitas.

Melalui tema tersebut, FKIP Unpatti berharap dapat melahirkan gagasan-gagasan baru yang tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Maluku bagi perkembangan pendidikan di tingkat internasional.(L05)