AMBON, LaskarMaluku.com — SMA Negeri 9 Ambon di kawasan Waiheru, Kota Ambon, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Namun, di tengah upaya pembenahan kualitas pembelajaran tersebut, kondisi infrastruktur jalan menuju kawasan sekolah masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius pemerintah.

Kepala SMA Negeri 9 Ambon, Maria Goreti Dumatubun, menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan harus dibarengi dengan kesiapan guru dalam mengikuti perkembangan teknologi dan menerapkan metode pembelajaran yang inovatif.

Menurutnya, kemampuan tenaga pendidik untuk terus mengembangkan diri merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan proses belajar mengajar yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini.

“Kalau guru tidak bisa meng-upgrade diri dengan teknologi dan kondisi kecanggihan sekarang ini, percuma kita bicara mutu kualitas,” tegas Maria.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, SMA Negeri 9 Ambon terlibat dalam kegiatan bersama sekolah-sekolah yang tergabung dalam Gugus 6 melalui program BOS Kinerja. Program ini mencakup penguatan literasi dan numerasi, penerapan SPMI, serta pengembangan pembelajaran berbasis digital.

Salah satu kegiatan yang telah diikuti berlangsung di SMA Laboratorium Universitas Pattimura. Dalam kegiatan itu, para guru memperoleh pembelajaran mengenai pembuatan video pembelajaran dan pengembangan materi interaktif berbasis digital untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di kelas.

Maria berharap pengetahuan yang diperoleh para guru tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran. Penggunaan media digital diharapkan mampu membuat penyampaian materi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami siswa.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap semangat guru-guru muda di sekolah tersebut yang dinilai memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Jadi, sesuatu yang baru mereka mau meng-upgrade diri untuk berkembang. Itu modal besar, dan saya sebagai pimpinan memberikan atensi terhadap mereka,” ujarnya.

Perkuat Penjaminan Mutu Internal

Selain mendorong digitalisasi pembelajaran, SMA Negeri 9 Ambon juga menyiapkan langkah penguatan SPMI sebagai instrumen evaluasi dan pembenahan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Sejumlah guru direncanakan mengikuti pelatihan SPMI di SMA Negeri Siwalima Ambon. Hasil pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi sekolah untuk menyusun langkah perbaikan berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata di lingkungan pendidikan.

Sekolah juga merencanakan pembentukan tim SPMI yang bertugas mengevaluasi pemenuhan delapan standar nasional pendidikan. Evaluasi ini diperlukan untuk mengidentifikasi aspek yang sudah berjalan baik sekaligus menentukan bagian yang masih membutuhkan peningkatan.

Penguatan kapasitas guru sesuai bidang mata pelajaran menjadi salah satu perhatian dalam proses tersebut. Dengan evaluasi yang terarah, sekolah diharapkan dapat menyusun program peningkatan mutu yang lebih tepat sasaran.

Dalam rangka memperluas pengembangan profesionalisme guru, SMA Negeri 9 Ambon turut merencanakan penguatan kemitraan dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura.

Kerja sama tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi para guru untuk bertukar pengalaman dengan kalangan akademisi, memperkaya pendekatan pembelajaran, serta mengenal praktik eksperimen, khususnya melalui keterlibatan dosen bidang eksakta.

Melalui pendekatan itu, guru diharapkan dapat mempelajari praktik pembelajaran yang diterapkan di lingkungan perguruan tinggi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa di sekolah.

Bangun Kolaborasi Antarsekolah

Upaya peningkatan mutu juga diarahkan pada pengembangan kolaborasi dengan sekolah lain. SMA Negeri 9 Ambon berencana berkoordinasi dengan SMA Negeri 14 Ambon serta berbagi praktik digitalisasi pembelajaran melalui komunitas belajar Pela.

Selain itu, rencana kolaborasi dengan SMA Negeri 57 Maluku Tengah diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengalaman, inovasi pembelajaran, dan pemanfaatan media digital antarsekolah.

Melalui kerja sama tersebut, video pembelajaran dan materi interaktif berbasis teknologi diharapkan dapat menjadi alternatif dalam memperkaya proses belajar mengajar.

Maria juga menyampaikan bahwa SMA Negeri 9 Ambon pernah mewakili Provinsi Maluku dalam kegiatan penelitian ilmiah tingkat nasional. Ia turut menyebut keterlibatan seorang guru kimia dan seorang kepala tata usaha dalam ajang nasional pada 2026. Namun, rincian mengenai nama kegiatan dan capaian yang diperoleh masih perlu dikonfirmasi melalui dokumen resmi.

Jalan Rusak Hambat Aktivitas Pendidikan

Di balik berbagai rencana pengembangan mutu tersebut, persoalan infrastruktur jalan menuju kawasan sekolah menjadi tantangan yang turut disoroti para guru.

Kerusakan jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dinilai mengganggu aktivitas dan akses menuju lingkungan pendidikan di kawasan Waiheru. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan SMA Negeri 9 Ambon, tetapi juga berdampak pada akses menuju sekolah lain yang berada di kawasan tersebut, termasuk SMP negeri dan SD Muhammadiyah.

Para guru berharap Pemerintah Kota Ambon melalui instansi teknis terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi jalan tersebut agar akses menuju sekolah menjadi lebih baik dan mendukung kelancaran kegiatan pendidikan.

“Kami para guru berharap pemerintah kota Ambon melalui instansi teknis tolong memperhatikan infrastruktur jalan ini, karena bukan hanya SMA Negeri 9 Ambon, tapi ada SMP N dan SD Muhammadiyah juga ada di situ,” demikian harapan para dewan guru.

Bagi SMA Negeri 9 Ambon, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan teknologi dan inovasi pembelajaran. Pengembangan kompetensi guru, evaluasi mutu internal, kemitraan antarlembaga, serta dukungan infrastruktur yang memadai perlu berjalan beriringan.

Dengan dukungan berbagai pihak, upaya transformasi pembelajaran diharapkan dapat berlangsung lebih optimal sehingga memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dan lingkungan pendidikan secara keseluruhan. (L05)